Suratkami.com, Jakarta – Memasuki tahun 2026, peta persaingan mobil keluarga ramah lingkungan di Indonesia semakin memanas. Dua model yang paling sering dibandingkan adalah BYD M6 sebagai mobil listrik murni dan Toyota Veloz Hybrid sebagai kendaraan hybrid.
Perbandingan keduanya tidak lagi hanya soal harga beli atau efisiensi bahan bakar. Kini, faktor pajak kendaraan 2026 menjadi penentu utama yang memengaruhi keputusan konsumen.
Pemerintah melalui aturan terbaru menghadirkan perubahan signifikan. Mobil listrik yang sebelumnya mendapat banyak keringanan kini mulai diperlakukan setara dengan mobil berbahan bakar konvensional dalam perhitungan pajak.
Pajak Kendaraan 2026 Ubah Peta Persaingan
Pajak kendaraan 2026 resmi diatur dalam Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Aturan ini menetapkan bahwa kendaraan listrik masuk sebagai objek pajak, sama seperti mobil bensin.
Sebelumnya, mobil listrik mendapat banyak insentif pajak dari pemerintah daerah. Namun, dengan aturan baru ini, perhitungan pajak menjadi lebih realistis dan mendekati nilai kendaraan sebenarnya.
Sebagai gambaran, BYD M6 yang memiliki estimasi Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) sekitar Rp 350 juta, dikenakan pajak tahunan hingga Rp 7,3 juta tanpa insentif.
Sementara itu, Toyota Veloz Hybrid saat ini masih berada di kisaran pajak Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per tahun.
Namun, di sisi lain, pemerintah daerah masih memiliki kewenangan memberikan insentif. Hal ini membuat pajak mobil listrik saat ini masih jauh lebih murah dalam praktiknya.
Biaya Operasional Harian Tidak Terpaut Jauh
Jika dilihat dari penggunaan harian, perbedaan biaya antara kedua mobil ini ternyata tidak terlalu besar.
Untuk rute sekitar 60 km per hari, estimasi biaya bulanan adalah:
- BYD M6 (listrik): sekitar Rp 810.000
- Veloz Hybrid (BBM): sekitar Rp 922.500
Selisihnya hanya sekitar Rp 100 ribu per bulan. Dalam setahun, perbedaannya tidak sampai Rp 1,2 juta.
Selain itu, biaya perawatan juga menjadi pertimbangan penting.
- BYD M6 membutuhkan biaya servis sekitar Rp 1.050.000 di tahun pertama
- Veloz Hybrid mendapat gratis jasa servis hingga tiga tahun
Dengan begitu, di awal kepemilikan, mobil hybrid justru lebih ringan dari sisi perawatan.
Perawatan dan Efisiensi Jangka Panjang
Mobil listrik memiliki keunggulan dari sisi komponen yang lebih sedikit. Namun, tidak adanya program gratis servis membuat biaya awal tetap terasa.
Sebaliknya, mobil hybrid memberikan kenyamanan karena biaya servis ditanggung dalam beberapa tahun pertama.
Infrastruktur dan Kemudahan Penggunaan
Selain pajak kendaraan 2026, faktor lain yang tak kalah penting adalah kemudahan penggunaan sehari-hari.
Mobil listrik seperti BYD M6 membutuhkan pengisian daya di SPKLU. Proses ini memakan waktu lebih lama dibandingkan pengisian bahan bakar.
Di beberapa wilayah, pengguna juga masih harus menghadapi antrean atau keterbatasan jumlah stasiun pengisian.
Sementara itu, Veloz Hybrid memiliki keunggulan karena bisa langsung mengisi bahan bakar di SPBU yang tersebar luas.
Untuk perjalanan jarak jauh, mobil hybrid juga dianggap lebih praktis. Pengguna tidak perlu merencanakan rute pengisian energi secara detail.
Namun, mobil listrik tetap memiliki keunggulan tersendiri. Salah satunya adalah bebas aturan ganjil-genap di sejumlah kota besar seperti Jakarta.
Dampak Insentif Daerah pada Pajak Kendaraan 2026
Meskipun pajak kendaraan 2026 menetapkan tarif tinggi untuk mobil listrik, realisasinya masih bergantung pada kebijakan daerah.
Saat ini, berkat insentif, pemilik BYD M6 hanya membayar sekitar Rp 443.000 per tahun untuk pajak dan administrasi.
Angka ini jauh di bawah pajak mobil hybrid. Karena itu, mobil listrik masih unggul selama insentif tetap berlaku.
Namun, jika insentif tersebut dicabut, situasinya akan berubah drastis.
Dalam kondisi tanpa insentif:
- Pajak BYD M6 bisa mencapai Rp 7 jutaan
- Pajak Veloz Hybrid tetap di kisaran Rp 4–5 juta
Artinya, mobil hybrid justru menjadi lebih ekonomis secara total pengeluaran tahunan.
Pertimbangan Konsumen di Tengah Aturan Baru
Dengan hadirnya pajak kendaraan 2026, konsumen kini harus mempertimbangkan lebih banyak aspek sebelum membeli mobil.
Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Biaya pajak tahunan tanpa dan dengan insentif
- Biaya energi harian
- Program servis dan perawatan
- Ketersediaan infrastruktur pengisian atau pengisian bahan bakar
- Kebutuhan mobilitas jarak jauh
Selain itu, keputusan juga akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah daerah ke depan.
Jika insentif terus diberikan, mobil listrik tetap menjadi pilihan paling hemat. Namun, jika aturan diterapkan tanpa keringanan, mobil hybrid bisa menjadi alternatif yang lebih stabil secara biaya.
Perubahan dalam pajak kendaraan 2026 ini menunjukkan bahwa transisi menuju kendaraan ramah lingkungan masih berada dalam tahap penyesuaian. Konsumen pun dituntut lebih cermat dalam menghitung total biaya kepemilikan sebelum menentukan pilihan.





