Suratkami.com, Jakarta – Peluang investasi minimarket kembali menjadi sorotan di tengah kekhawatiran perlambatan konsumsi dan munculnya program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Meski ada tantangan, model bisnis waralaba minimarket dinilai masih memiliki prospek cerah di Indonesia.
Peluang investasi minimarket tetap terbuka lebar karena pelaku usaha melihat potensi ekspansi yang menjanjikan. Hal ini terutama berlaku di lokasi strategis dengan daya beli masyarakat yang stabil.
Selain itu, perkembangan format gerai baru seperti compact supermarket dinilai mampu meningkatkan profitabilitas. Model ini menjadi alternatif menarik dibanding minimarket konvensional.
Riset Bahana: Peluang Investasi Minimarket Masih Kuat
Riset Bahana Sekuritas yang dirilis pada 27 April 2026 menunjukkan bahwa peluang investasi minimarket masih relevan. Analis Reinard Tanukusuma mengungkapkan bahwa ekspansi tetap dilakukan selama lokasi gerai dianggap potensial.
Kajian tersebut dilakukan melalui wawancara langsung dengan mitra waralaba dari sejumlah pemain besar. Di antaranya pengelola Alfamart (AMRT), Indomaret (DNET), dan Alfamidi (MIDI).
Hasil riset menunjukkan bahwa pelaku usaha tetap optimistis. Mereka bahkan berencana menambah gerai baru jika lokasi dinilai memenuhi kriteria.
Namun, Reinard menekankan bahwa seleksi lokasi kini lebih ketat. Hal ini dilakukan untuk menjaga profitabilitas dan menghindari persaingan internal antar gerai.
Keunggulan Compact Supermarket Dibanding Minimarket
Format compact supermarket seperti yang diusung Alfamidi dinilai memiliki keunggulan signifikan. Model ini menawarkan margin laba yang sedikit lebih tinggi dibanding minimarket biasa.
Dalam riset tersebut, margin laba kas Alfamidi mencapai sekitar 4,7 persen. Sementara itu, minimarket konvensional berada di kisaran 4,5 persen.
Perbedaan paling mencolok terlihat dari sisi omzet. Gerai compact supermarket mampu mencatat penjualan bulanan sekitar Rp866 juta.
Sebaliknya, minimarket biasa hanya menghasilkan omzet sekitar Rp320 juta per bulan. Karena itu, laba kas yang diterima mitra juga jauh lebih besar.
Faktor Pendorong Profitabilitas
Beberapa faktor yang mendorong tingginya profitabilitas antara lain:
- Ukuran keranjang belanja yang lebih besar
- Variasi produk yang lebih lengkap
- Skala operasional yang lebih efisien
- Pendapatan yang lebih tinggi per gerai
Dengan keunggulan tersebut, compact supermarket menjadi pilihan menarik bagi investor. Selain itu, model ini juga mampu menarik lebih banyak konsumen.
Strategi Ekspansi dan Minim Risiko Kanibalisasi
Bahana menilai risiko kanibalisasi pada jaringan minimarket relatif terbatas. Hal ini karena perusahaan menerapkan aturan jarak minimum antar gerai.
Alfamart, misalnya, menetapkan jarak minimal sekitar 100 meter untuk gerai dengan merek yang sama. Selain itu, seleksi mitra dan lokasi juga semakin diperketat.
Pendekatan ini dinilai lebih matang dibanding periode ekspansi agresif sebelumnya. Pada 2012 hingga 2015, ekspansi yang terlalu cepat sempat menekan kinerja perusahaan.
Sementara itu, ekspansi kini mulai bergeser ke luar Pulau Jawa. Kontribusi wilayah luar Jawa meningkat dari 31 persen pada 2020 menjadi sekitar 37 persen pada 2025.
Hal ini menunjukkan bahwa peluang investasi minimarket masih terbuka luas di daerah. Pertumbuhan ekonomi regional menjadi faktor pendukung utama.
Dampak Program Koperasi Desa Dinilai Terbatas
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) menjadi salah satu perhatian investor. Program ini bertujuan memperkuat distribusi barang kebutuhan pokok melalui koperasi lokal.
Namun, dampaknya terhadap minimarket dinilai masih terbatas. Menurut Bahana, koperasi belum mampu menandingi standar operasional ritel modern.
Selain itu, kelengkapan produk dan efisiensi distribusi masih menjadi tantangan. Karena itu, minimarket besar masih memiliki keunggulan kompetitif.
Di sisi lain, investor tetap perlu mencermati perkembangan program ini. Meskipun begitu, gangguan terhadap pasar ritel modern diperkirakan tidak signifikan dalam waktu dekat.
Imbal Hasil dan Risiko Investasi Minimarket
Dari sisi investasi, imbal hasil waralaba minimarket tergolong moderat. Dengan asumsi kepemilikan properti, tingkat pengembalian internal mencapai sekitar 10 persen dalam 10 tahun.
Periode balik modal diperkirakan sekitar 7,4 tahun. Namun, jika menggunakan ruko sewa, imbal hasil bisa meningkat hingga 13,5 persen.
Selain itu, periode balik modal juga lebih cepat, yakni sekitar 5,4 tahun. Hal ini karena kebutuhan investasi awal lebih rendah.
Meski imbal hasil tidak terlalu tinggi, minat mitra tetap kuat. Mereka cenderung menambah gerai jika lokasi memiliki potensi yang baik.
Namun, ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Potensi perubahan indeks saham seperti MSCI
- Implementasi program KDKMP
- Tekanan daya beli masyarakat
- Kenaikan harga produk kebutuhan sehari-hari
Secara keseluruhan, peluang investasi minimarket masih dinilai positif. Duopoli pemain besar diperkirakan tetap mendominasi pasar ritel modern.
Karena itu, sektor ini masih menjadi pilihan menarik bagi investor. Terutama bagi mereka yang mencari bisnis dengan model yang sudah teruji dan stabil.





