Danantara Dijamin Tak Gagal Seperti 1MDB, Ini Alasannya

indra jaya

Danantara Dijamin Tak Gagal Seperti 1MDB, Ini Alasannya

SURATKAMI.COM, Jakarta – Danantara dijamin tak gagal seperti 1MDB. Pernyataan itu disampaikan jajaran pengelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk menjawab kekhawatiran publik terkait pengelolaan aset negara dan investasi strategis.

Perbandingan antara Danantara dan 1Malaysia Development Berhad (1MDB) memang kerap muncul sejak lembaga tersebut mulai beroperasi. Namun, pengelola Danantara menegaskan bahwa struktur kelembagaan yang diterapkan berbeda secara mendasar dengan model yang pernah digunakan oleh 1MDB di Malaysia.

Menurut manajemen Danantara, berbagai mekanisme pengamanan telah dirancang sejak awal. Tujuannya agar risiko investasi tidak berdampak langsung terhadap aset dan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Danantara Dijamin Tak Gagal Seperti 1MDB karena Pisahkan Risiko

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa lembaganya dibangun dengan prinsip pemisahan risiko yang tegas. Langkah ini menjadi pembeda utama dibandingkan skema investasi yang pernah dijalankan oleh 1MDB.

Menurutnya, investasi selalu memiliki kemungkinan untung maupun rugi. Karena itu, Danantara sejak awal dirancang agar risiko investasi tidak menyeret perusahaan-perusahaan negara apabila terjadi kegagalan pada proyek tertentu.

Selain itu, kekhawatiran masyarakat muncul karena Danantara mengelola aset BUMN sekaligus memiliki fungsi investasi. Meski demikian, pengelola menegaskan bahwa kedua fungsi tersebut ditempatkan dalam struktur yang berbeda sehingga pengawasannya lebih jelas.

Model tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas BUMN sekaligus memberikan ruang bagi investasi yang produktif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Dua Pilar Utama Pengelolaan Danantara

Danantara saat ini memiliki dua pilar utama yang menjalankan fungsi berbeda.

Pertama adalah Danantara Asset Management. Unit ini bertugas mengelola dan mengonsolidasikan portofolio BUMN yang berada di bawah pengawasan Danantara.

Kedua adalah Danantara Investment Management yang berperan sebagai lengan investasi. Unit ini bertugas menempatkan dana ke berbagai proyek yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

Sumber Dana Investasi Berasal dari Dividen

Dony menegaskan bahwa dana investasi yang digunakan bukan berasal dari aset pokok BUMN.

Sebaliknya, dana tersebut berasal dari dividen yang dihasilkan perusahaan-perusahaan negara. Dividen itu kemudian dialokasikan untuk investasi produktif yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.

Karena itu, keberhasilan Danantara sangat bergantung pada kinerja BUMN yang dikelolanya. Semakin besar keuntungan BUMN, semakin besar pula dana yang dapat digunakan untuk investasi.

Skema ini dinilai dapat menjaga keamanan aset utama perusahaan negara sekaligus membuka peluang pertumbuhan melalui investasi baru.

Kontribusi BUMN Masih Sangat Besar

Dalam penjelasannya, Dony juga membantah anggapan bahwa sebagian besar BUMN mengalami kerugian.

Ia menyebut BUMN secara konsolidasi masih mencatat laba yang besar. Pada tahun 2025, laba konsolidasi BUMN mencapai sekitar Rp335 triliun.

Selain menghasilkan keuntungan, BUMN juga memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara melalui berbagai jenis pajak dan setoran lainnya.

Setiap tahun, kontribusi sektor BUMN terhadap negara disebut mencapai kisaran Rp600 triliun hingga Rp700 triliun. Angka tersebut menunjukkan peran strategis perusahaan-perusahaan pelat merah dalam menopang perekonomian nasional.

Sementara itu, pemerintah dan Danantara terus melakukan berbagai langkah perbaikan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan negara.

Strategi Danantara Tingkatkan Efisiensi BUMN

Salah satu agenda besar yang sedang dijalankan adalah konsolidasi perusahaan BUMN. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi tumpang tindih usaha dan menekan berbagai biaya yang tidak perlu.

Beberapa strategi yang tengah diterapkan meliputi:

  • Konsolidasi perusahaan yang memiliki bisnis serupa.
  • Penyederhanaan jumlah entitas usaha.
  • Penyusunan roadmap bisnis baru.
  • Penguatan keunggulan kompetitif setiap BUMN.
  • Pengurangan transaksi berlapis yang memicu inefisiensi.

Menurut Danantara, proses penyederhanaan tersebut berpotensi menghasilkan penghematan hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun.

Selain itu, efisiensi diharapkan membuat perusahaan negara lebih fokus dalam menjalankan bisnis inti dan meningkatkan profitabilitas jangka panjang.

Kepercayaan Publik Jadi Faktor Penting

Meskipun pengelola menyatakan Danantara dijamin tak gagal seperti 1MDB, tantangan terbesar tetap berada pada pelaksanaan tata kelola yang konsisten.

Transparansi, akuntabilitas, dan pengawasan menjadi faktor yang akan menentukan keberhasilan lembaga tersebut dalam jangka panjang.

Di sisi lain, pemerintah berharap Danantara dapat menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan aset negara dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan pemisahan risiko investasi dan pengelolaan BUMN yang diterapkan saat ini, Danantara berupaya menunjukkan bahwa model yang dibangun memiliki fondasi berbeda dibandingkan 1MDB. Keberhasilan implementasi tata kelola tersebut akan menjadi penentu utama apakah target besar yang dibebankan kepada Danantara dapat tercapai dalam beberapa tahun ke depan.

Editor:

indra jaya

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Undangan Kredito Juli 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kode Undangan Kredito Juli 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kunjungi Artikel