Ekspor Batu Bara Indonesia Naik 46,8 Persen pada Juni 2026

Dwi Prakoso

Ekspor Batu Bara Indonesia Naik 46,8 Persen pada Juni 2026

Suratkami.com – JakartaEkspor batu bara Indonesia mencatat pertumbuhan kuat pada Juni 2026. Kinerja tersebut didorong meningkatnya permintaan dari China serta penguatan harga batu bara di pasar global.

Berdasarkan riset Office of Chief Economist Bank Mandiri, volume ekspor batu bara Indonesia mencapai 40,1 juta ton pada Juni 2026. Angka tersebut meningkat 14,7 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibandingkan 34,9 juta ton pada Juni 2025.

Dari sisi nilai, pertumbuhan ekspor bahkan lebih tinggi. Nilai ekspor batu bara tercatat mencapai USD3 miliar. Angka itu naik 46,8 persen yoy dari sekitar USD2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor Batu Bara Indonesia Tumbuh Kuat

Kenaikan nilai ekspor menunjukkan adanya kombinasi antara pertumbuhan volume dan penguatan harga komoditas. Bank Mandiri menyebut kenaikan harga batu bara menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kinerja tersebut.

Dengan volume yang meningkat 14,7 persen dan nilai yang tumbuh 46,8 persen, kontribusi harga menjadi cukup penting. Kondisi ini memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan tambang untuk meningkatkan pendapatan.

Selain itu, pasar global masih memberikan dukungan terhadap komoditas batu bara. Dinamika geopolitik ikut memengaruhi pergerakan harga energi. Kondisi tersebut membuat batu bara Indonesia tetap memiliki daya tarik di pasar internasional.

Sepanjang 2026 hingga 13 Agustus, rata-rata harga batu bara Newcastle tercatat mencapai USD128,6 per ton. Angka tersebut meningkat 21 persen dibandingkan rata-rata sepanjang 2025 yang berada di level USD106,3 per ton.

Kenaikan harga tersebut menjadi faktor penting bagi industri pertambangan. Sebab, pertumbuhan volume ekspor tidak selalu memberikan dampak yang sama apabila harga komoditas mengalami tekanan.

China Jadi Penopang Utama Permintaan

China masih menjadi tujuan terbesar ekspor batu bara Indonesia pada Juni 2026. Pangsa pengiriman ke negara tersebut mencapai 41,8 persen dari total volume ekspor.

Angka itu meningkat cukup signifikan dibandingkan Juni 2025. Pada periode tersebut, pangsa China tercatat sebesar 31,7 persen dari total volume ekspor batu bara Indonesia.

Peningkatan tersebut sejalan dengan naiknya kebutuhan energi di China. Total impor batu bara negara tersebut mencapai 42,8 juta ton pada Juni 2026.

Jumlah tersebut tumbuh 29,5 persen yoy dibandingkan 33 juta ton pada Juni 2025. Dengan demikian, China menjadi salah satu faktor penting yang menopang peningkatan permintaan batu bara Indonesia.

Menurut riset Bank Mandiri, tingginya impor batu bara China berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan pembangkit listrik berbasis batu bara. Produksi listrik dari pembangkit tersebut meningkat 1,7 persen yoy.

Pertumbuhan itu juga mencatat ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan energi China masih cukup tinggi.

Sementara itu, permintaan listrik turut terdorong kondisi cuaca ekstrem. Fenomena El Nino disebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kebutuhan listrik di negara tersebut.

Di sisi lain, pasokan domestik China justru mengalami pelemahan. Produksi batu bara negara tersebut turun 9,7 persen yoy menjadi sekitar 380 juta ton pada Juni 2026.

Penurunan produksi tersebut terjadi setelah pemerintah China memperketat produksi dan inspeksi keselamatan. Kebijakan tersebut dilakukan menyusul ledakan tambang Liushenyu di Provinsi Shanxi.

Kondisi itu membuat kebutuhan impor menjadi semakin penting. Karena itu, Indonesia memiliki peluang untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu pemasok batu bara utama China.

Harga Komoditas Jadi Faktor Pendukung

Selain permintaan China, perkembangan harga menjadi faktor penting dalam kinerja industri batu bara Indonesia. Harga Newcastle yang lebih tinggi memberikan dukungan terhadap nilai ekspor.

Kenaikan harga juga berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan tambang. Namun, dampaknya tetap bergantung pada volume produksi, biaya operasional, kualitas batu bara, serta kondisi pasar.

Bank Mandiri menilai kebijakan pemerintah terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) akan menjadi salah satu penentu kinerja industri batu bara ke depan.

Relaksasi RKAB berpotensi membantu menjaga pasokan batu bara untuk pembangkit listrik. Selain itu, kebijakan tersebut dapat membuka peluang peningkatan ekspor.

Dampaknya juga dapat dirasakan terhadap penerimaan negara dan profitabilitas perusahaan tambang. Meski begitu, peningkatan kuota RKAB tidak otomatis membuat produksi langsung naik.

Perusahaan tetap membutuhkan investasi tambahan. Mereka juga memerlukan waktu untuk meningkatkan kapasitas operasional.

Karena itu, respons produksi terhadap perubahan kebijakan RKAB kemungkinan berlangsung secara bertahap. Pelaku usaha perlu menyesuaikan kapasitas tambang dengan kondisi permintaan dan harga.

Beberapa faktor yang akan memengaruhi perkembangan industri batu bara antara lain:

  • Permintaan batu bara dari China dan negara importir lainnya.
  • Pergerakan harga batu bara global.
  • Kebijakan RKAB dan regulasi pertambangan.
  • Kapasitas produksi perusahaan tambang.
  • Biaya operasional dan kebutuhan investasi.
  • Perkembangan pembangkit listrik berbasis batu bara.

Hilirisasi Batu Bara Mulai Mendapat Perhatian

Di tengah meningkatnya ekspor, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi batu bara. Salah satu pengembangan yang mendapat perhatian adalah proyek dimetil eter atau DME.

Selain DME, pemerintah juga mendorong pengembangan produk metanol dari batu bara. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri.

Bank Mandiri mencatat Danantara kembali menghidupkan proyek gasifikasi batu bara. Proyek tersebut sebelumnya sempat terhenti setelah Air Products mundur pada 2023.

Kini, pemerintah mendorong kelanjutan proyek tersebut melalui sejumlah insentif. Kebijakan itu diharapkan dapat membuat pengolahan batu bara menjadi produk turunan lebih menarik bagi investor.

Namun, Bank Mandiri menilai pengembangan metanol lebih realistis secara ekonomi. Salah satu alasannya adalah ekosistem industri metanol yang dinilai lebih matang.

Ekosistem tersebut mencakup kebutuhan bahan baku petrokimia hingga keterkaitannya dengan program biodiesel B50. Kondisi itu dapat menjadi modal penting untuk memperluas pemanfaatan produk turunan batu bara.

Meskipun demikian, pengembangan hilirisasi membutuhkan investasi besar dan kebijakan yang konsisten. Infrastruktur, teknologi, keekonomian proyek, serta kepastian pasar juga menjadi faktor penting.

Prospek Ekspor Batu Bara Indonesia

Secara keseluruhan, kinerja Juni 2026 menunjukkan prospek ekspor batu bara Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan permintaan China menjadi salah satu pendorong utama.

Penguatan harga global juga memberikan tambahan dukungan terhadap nilai ekspor. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat industri batu bara mencatat pertumbuhan yang cukup signifikan.

Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada kemampuan produksi domestik. Indonesia perlu memastikan kapasitas tambang mampu memenuhi permintaan tanpa mengganggu kebutuhan energi dalam negeri.

Kebijakan RKAB juga akan menjadi perhatian pelaku industri. Relaksasi dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk meningkatkan produksi. Namun, proses tersebut membutuhkan investasi dan waktu.

Sementara itu, hilirisasi membuka peluang baru bagi industri batu bara. Pengembangan metanol dan DME dapat meningkatkan nilai tambah sebelum komoditas dipasarkan.

Dengan demikian, peningkatan ekspor batu bara Indonesia pada Juni 2026 tidak hanya mencerminkan kuatnya permintaan global. Kinerja tersebut juga menunjukkan pentingnya harga, kapasitas produksi, kebijakan pemerintah, dan perkembangan industri hilir.

Ke depan, China kemungkinan tetap menjadi pasar penting bagi batu bara Indonesia. Namun, diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah tetap diperlukan agar industri lebih tahan menghadapi perubahan harga serta kebijakan energi global.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Nanovest Terbaru Agustus 2026: Peluang Cuan dari Investasi Digital

Kode Referral Nanovest Terbaru Agustus 2026: Peluang Cuan dari Investasi Digital

Kunjungi Artikel