HPM Limonit Direvisi, INCO, MBMA, dan NCKL Berpotensi Hemat Royalti

Dwi Prakoso

HPM Limonit Direvisi, INCO, MBMA, dan NCKL Berpotensi Hemat Royalti
Ilustrasi: HPM Limonit Direvisi, INCO, MBMA, dan NCKL Berpotensi Hemat Royalti

Suratkami.comJakarta, revisi HPM limonit berpotensi menekan beban royalti dan pajak penghasilan badan atau CIT bagi sejumlah emiten nikel. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menjadi beberapa perusahaan yang berpotensi memperoleh manfaat.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta menilai perubahan formula harga patokan mineral tersebut dapat menurunkan basis perhitungan royalti dan CIT. Ia menyampaikan analisis itu dalam riset yang terbit pada 18 September 2026.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026. Aturan tersebut merevisi formula HPM untuk bijih limonit dan mulai berlaku pada 15 September 2026.

HPM Limonit Turunkan Faktor Koreksi

Regulasi baru menurunkan faktor koreksi atau correction factor (CF) untuk bijih limonit dengan kadar nikel di bawah 1,2 persen. Faktor koreksi untuk nikel turun dari 26 persen menjadi 14 persen.

Sementara itu, faktor koreksi untuk kobalt turun dari 30 persen menjadi 17 persen. Namun, pemerintah tidak mengubah formula HPM untuk bijih saprolit.

Ryan menilai perubahan tersebut bertujuan menyesuaikan HPM limonit dengan kondisi pasar. Sebelumnya, HPM limonit berada di kisaran USD40-USD45 per wet metric ton (wmt) secara free on board (FOB).

Di sisi lain, harga pasar berada di kisaran USD20-USD25 per wmt FOB berdasarkan diskusi dengan pelaku industri yang menjadi rujukan dalam riset Indo Premier.

INCO, MBMA, dan NCKL Berpotensi Hemat

Ketentuan baru dapat memberi ruang penghematan bagi penambang limonit. Sebelumnya, perusahaan menghitung pembayaran royalti dan CIT berdasarkan nilai yang lebih tinggi antara HPM dan harga transaksi.

Dengan HPM yang lebih rendah, perusahaan tidak lagi memakai HPM lama sebesar USD40-USD45 per wmt sebagai dasar ketika harga transaksi berada di bawah level tersebut. Karena itu, beban terkait royalti dan CIT berpotensi turun.

Indo Premier menilai NCKL, MBMA, dan INCO menjadi beberapa penerima manfaat utama dari perubahan tersebut. Sekuritas itu memperkirakan masing-masing perusahaan berpotensi memperoleh penghematan hingga USD59-109 juta.

Nilai penghematan tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan estimasi konsensus laba tahun buku 2027. Indo Premier menyebut potensi penghematan itu setara sekitar 15-22 persen dari estimasi konsensus laba masing-masing perusahaan.

Dampak terhadap Estimasi Laba Masih Terbatas

Meski demikian, Indo Premier menilai revisi HPM limonit belum tentu menghasilkan kenaikan estimasi laba yang besar. Pasalnya, pelaku pasar sudah membahas perubahan formula tersebut selama beberapa bulan terakhir.

Selain itu, sebagian dampak revisi tersebut kemungkinan sudah masuk dalam ekspektasi pasar. Ryan menjelaskan bahwa konsensus kemungkinan sudah memakai asumsi harga jual rata-rata atau ASP dalam proyeksi royalti.

Dengan asumsi tersebut, analis tidak lagi menghitung royalti berdasarkan HPM lama sebesar USD40-USD45 per wmt. Oleh karena itu, ruang kenaikan estimasi laba dari perubahan regulasi dapat menjadi lebih terbatas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa manfaat regulasi tidak hanya bergantung pada besarnya penurunan HPM. Pergerakan harga jual aktual dan asumsi yang sudah masuk dalam proyeksi analis juga memengaruhi dampaknya terhadap kinerja emiten.

Pasokan Nikel Menjadi Risiko Berikutnya

Sementara itu, Indo Premier masih berhati-hati melihat prospek sektor nikel. Sekuritas tersebut memperkirakan peningkatan pasokan bijih nikel setelah persetujuan kuota RKAB pada September 2026 dapat memberi tekanan terhadap harga nikel.

Peningkatan pasokan tersebut juga dapat memengaruhi harga nikel di London Metal Exchange atau LME. Selain itu, kondisi tersebut berpotensi menekan profitabilitas penjual bijih nikel pihak ketiga.

Dengan demikian, manfaat dari revisi HPM limonit dapat berhadapan dengan risiko dari peningkatan pasokan. Perusahaan tetap perlu menghadapi perubahan harga komoditas dan kondisi pasar nikel secara keseluruhan.

Indo Premier Tetap Selektif di Sektor Komoditas

Di sektor komoditas secara lebih luas, Indo Premier memilih pendekatan selektif. Sekuritas tersebut memiliki preferensi pada komoditas batu bara termal serta tembaga dan emas.

Saham pilihan Indo Premier di sektor komoditas mencakup PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). Pilihan tersebut mencerminkan fokus sekuritas pada subsektor komoditas yang menjadi preferensinya.

Namun, investor juga perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi emiten komoditas. Salah satunya ialah percepatan peningkatan pasokan bijih nikel setelah persetujuan kuota RKAB pada September 2026.

Selain itu, kenaikan biaya energi juga menjadi risiko. Potensi kekurangan pasokan minyak mentah dan produk hilir seperti diesel dapat meningkatkan tekanan biaya bagi perusahaan.

Perubahan HPM Menjadi Faktor Penting bagi Emiten Nikel

Revisi HPM limonit memberikan perubahan penting bagi perusahaan yang memproduksi bijih dengan karakteristik tersebut. Penurunan faktor koreksi membuat formula baru lebih rendah dibandingkan ketentuan sebelumnya.

Karena itu, INCO, MBMA, dan NCKL berpotensi memperoleh penghematan dari sisi royalti dan CIT. Indo Premier memperkirakan nilai penghematan masing-masing perusahaan dapat mencapai USD59-109 juta.

Meski begitu, investor perlu melihat manfaat tersebut bersama faktor lain yang memengaruhi kinerja emiten. Perubahan pasokan bijih, harga nikel LME, harga jual, serta biaya energi tetap menjadi faktor penting.

Dengan demikian, revisi formula HPM menjadi salah satu perkembangan penting bagi sektor nikel pada September 2026. Dampak akhirnya terhadap laba perusahaan tetap bergantung pada kondisi pasar dan realisasi harga komoditas.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu