Kamis, 22 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Agustina Dorong Perfilman Semarang Lewat LOFF 2026, Bidik Peluang ke Festival Internasional

Oleh Jaya Purnama · Oktober 22, 2026 · 2:16 pm
Agustina Dorong Perfilman Semarang Lewat LOFF 2026, Bidik Peluang ke Festival Internasional
♥ Support
Daftar Isi 5 bagian

SuratKami.com – Semarang, Jawa Tengah – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong pengembangan industri perfilman daerah melalui Lawang Sewu Short Film Festival (LOFF) 2026. Ia menilai kekayaan cerita masyarakat, bangunan bersejarah, dan akulturasi budaya dapat menjadi modal penting bagi sineas untuk menghasilkan film yang memiliki identitas lokal sekaligus berpeluang menembus festival internasional.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menggelar LOFF 2026 pada 20–22 Oktober 2026 sebagai bentuk dukungan terhadap pertumbuhan perfilman lokal. Festival tersebut menghadirkan 19 film pendek pilihan di bioskop XXI Tentrem Mall Semarang. Selanjutnya, penyelenggara menjadwalkan Malam Anugerah pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Gedung Baru Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Raden Saleh, Semarang.

Selain menyelenggarakan festival, Pemkot Semarang membuka peluang kerja sama dan menawarkan kemudahan bagi pelaku produksi film yang ingin berkarya di kota tersebut. Agustina berharap dukungan itu dapat mempertemukan sineas lokal dengan pelaku industri yang lebih luas. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas karya sekaligus memperluas jangkauan penonton.

LOFF 2026 Angkat Kekayaan Cerita Lokal Semarang

Agustina menegaskan bahwa Semarang memiliki banyak cerita yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembuat film. Menurutnya, kehidupan masyarakat yang menjunjung kerukunan serta keberagaman budaya merupakan kekuatan yang layak diangkat melalui karya sinema.

Ia menyampaikan pandangan tersebut ketika menjadi panelis Jakarta Film Summit (JFS) 2026 di Park Hyatt Hotel, Menteng, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, ia menjelaskan alasan Pemkot Semarang menjadikan Lawang Sewu sebagai identitas festival film pendek.

“Masyarakat Kota Semarang itu sadar 100 persen sejak dulu bahwa kita harus rukun damai dan film ini bisa menjadi messenger. Kita punya kekayaan 1.000 cerita, kita punya Lawang Sewu yang ikonik. Maka kemudian festival film pendek di Kota Semarang ini disebut Festival Film Lawang Sewu,” ujar Agustina.

Lawang Sewu menjadi salah satu ikon sejarah dan arsitektur Kota Semarang. Bangunan tersebut juga menawarkan latar yang kuat untuk mengembangkan cerita tentang perjalanan kota, kehidupan masyarakat, dan pertemuan berbagai budaya.

Karena itu, penyelenggaraan LOFF 2026 tidak hanya berfokus pada penayangan film. Festival ini juga menjadi ruang bagi sineas untuk mengeksplorasi identitas daerah dan menyampaikan gagasan melalui bahasa sinema.

Pemkot Semarang Buka Peluang Kolaborasi bagi Sineas

Pemkot Semarang berupaya memperkuat ekosistem perfilman melalui kerja sama dengan berbagai pihak. Agustina menyatakan bahwa pemerintah daerah siap membantu pelaku film, termasuk melalui dukungan akses kepada tokoh dan pengetahuan industri.

“Kami siap bekerja sama dengan harapan kalau tidak dapat support duitnya, kami dapat support tokoh dan ilmunya. Dan itu kemudian yang membuat road to international festival,” ucap Agustina.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap sineas tidak selalu bergantung pada pendanaan. Akses kepada praktisi berpengalaman, kesempatan bertukar pengetahuan, dan jaringan industri juga dapat membantu pembuat film mengembangkan kemampuan mereka.

Selain itu, kolaborasi dapat membuka jalan bagi sineas daerah untuk memahami standar produksi dan kebutuhan festival film yang lebih luas. Mereka juga berpeluang membangun hubungan dengan komunitas kreatif di luar Semarang.

Meski begitu, perjalanan menuju festival internasional membutuhkan proses yang berkelanjutan. Sineas tetap perlu mengembangkan kekuatan cerita, kualitas produksi, dan cara penyampaian gagasan agar karya mereka mampu bersaing di hadapan penonton yang beragam.

Industri Film Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal

Dalam forum Jakarta Film Summit 2026, Agustina turut menyoroti dampak ekonomi dari kegiatan produksi film. Menurutnya, proses pembuatan film dapat melibatkan berbagai unsur masyarakat dan mendorong perputaran uang di daerah.

Produksi film membutuhkan beragam layanan dan sumber daya. Misalnya, tim produksi dapat melibatkan pekerja lokal, memanfaatkan jasa usaha setempat, serta memenuhi berbagai kebutuhan selama proses pengambilan gambar.

Aktivitas tersebut berpotensi membuka kesempatan usaha bagi masyarakat. Selain menciptakan kebutuhan tenaga kerja, produksi film juga dapat membantu memperkenalkan lokasi dan potensi daerah kepada khalayak yang lebih luas.

“Bagi kami, film bukan hiburan. Film adalah salah satu cara untuk menjawab visi-visi kami, dan apabila bicara mengenai efek dari sebuah pembuatan film, baik itu diproduksi oleh kementerian maupun dari dalam ataupun dari warga Kota Semarang, pada akhirnya setiap rupiah yang dibelanjakan itu akan memberi (efek) multiplier yang luar biasa,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menempatkan film sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif. Namun, besarnya dampak ekonomi akan bergantung pada skala produksi, jumlah tenaga kerja lokal yang terlibat, penggunaan jasa daerah, serta keberlanjutan kegiatan perfilman.

Oleh karena itu, pengembangan industri film dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat usaha lokal. Pemerintah daerah, komunitas kreatif, dan pelaku industri memiliki peluang untuk membangun kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua sektor tersebut.

Semarang Perkuat Ekosistem Perfilman Nasional

Agustina menilai pengembangan perfilman di daerah dapat mendukung pembangunan ekosistem film nasional. Ia melihat upaya yang berlangsung di Jakarta dan Semarang sebagai bagian dari gerakan yang saling melengkapi.

“Jakarta sedang membangun ekosistem film, Semarang juga ikut,” tegas Agustina.

Pernyataan itu mencerminkan harapan agar kota-kota di Indonesia memiliki peran lebih besar dalam industri sinema. Sebab, cerita dan pengalaman masyarakat di setiap daerah dapat memperkaya tema film Indonesia.

Selain itu, keterlibatan sineas dari berbagai wilayah dapat memperluas sudut pandang dalam perfilman nasional. Semarang memiliki peluang untuk menonjolkan sejarah, budaya, kehidupan perkotaan, dan kisah masyarakatnya melalui karya yang relevan bagi penonton lokal maupun internasional.

Di sisi lain, ekosistem yang kuat membutuhkan dukungan berkelanjutan. Festival film dapat menjadi salah satu pintu masuk, tetapi pengembangan sumber daya manusia, jaringan produksi, akses pengetahuan, dan kesempatan distribusi juga memegang peranan penting.

LOFF 2026 Jadi Ruang Tumbuh Perfilman Lokal

Penyelenggaraan LOFF 2026 memperlihatkan upaya Pemkot Semarang dalam menyediakan ruang bagi karya film pendek. Penayangan 19 film pilihan memberikan kesempatan kepada penonton untuk mengenal beragam pendekatan cerita dari para sineas yang terlibat.

Selanjutnya, Malam Anugerah pada 23 Oktober 2026 menjadi bagian dari rangkaian festival yang memberi perhatian kepada karya-karya peserta. Agenda tersebut juga memperkuat posisi festival sebagai ruang pertemuan antara pembuat film, komunitas, dan masyarakat.

Ke depan, dukungan pemerintah dan kolaborasi lintas sektor berpotensi memperluas kesempatan sineas Semarang untuk mengembangkan karya. Namun, keberlanjutan program dan peningkatan kualitas produksi tetap menjadi faktor penting agar peluang tersebut menghasilkan dampak nyata.

Pada akhirnya, Agustina ingin menempatkan film sebagai sarana untuk mengangkat identitas kota sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif. Melalui LOFF 2026 dan kerja sama dengan berbagai pelaku industri, Semarang berupaya memperkuat kontribusinya dalam ekosistem perfilman Indonesia.

Tag: ·
Jaya Purnama

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)