Suratkami.com, Jakarta – PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) resmi mengakuisisi 99,9 persen saham PT Endorshine Energy Solutions (Endorshine), perusahaan pemilik dan pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau.
Akuisisi tersebut menjadi langkah penting bagi ARKO untuk memperluas portofolio bisnis energi baru terbarukan (EBT). Sebelumnya, perseroan lebih dikenal melalui pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga air.
Berdasarkan surat Menteri Hukum Republik Indonesia Nomor AHU-AH.01.09-0393673, yang diterima perseroan pada 24 Agustus 2026, Endorshine kini efektif beroperasi di bawah PT Arkora Tenaga Matahari (ATM).
ATM merupakan anak usaha ARKO yang dibentuk secara khusus sebagai kendaraan akuisisi untuk mengembangkan bisnis energi surya. Melalui transaksi tersebut, ARKO secara resmi memiliki proyek PLTS untuk pertama kalinya.
ARKO Akuisisi PLTS dengan Kapasitas 21,3 MWp
Presiden Direktur ARKO Aldo Artoko mengatakan, akuisisi Endorshine merupakan bagian dari strategi diversifikasi perseroan.
“Langkah diversifikasi ini merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk memperkuat kontribusi terhadap pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia,” ujar Aldo dalam keterangannya, Rabu (26/8/2026).
Saham Endorshine dibeli dari pemegang saham sebelumnya, Yang Solar Solutions Pte Ltd. Seluruh syarat pendahuluan atau conditions precedent dalam transaksi tersebut telah terpenuhi.
Dengan demikian, proses akuisisi telah selesai. Perseroan juga tidak perlu menjalani proses tambahan untuk menyelesaikan transaksi tersebut.
Melalui akuisisi ini, ARKO mengoperasikan dua fasilitas PLTS. Keduanya berada di wilayah Kepulauan Riau dengan total kapasitas mencapai 21,3 MWp.
Rinciannya adalah sebagai berikut:
- PLTS di Bintan memiliki kapasitas 10,27 MWp.
- PLTS di Batam memiliki kapasitas 11,05 MWp.
- Total kapasitas PLTS mencapai 21,3 MWp.
Kehadiran dua proyek tersebut memperluas jenis pembangkit yang dimiliki ARKO. Selain tenaga air, perseroan kini memiliki portofolio pembangkit berbasis energi surya.
Perkuat Portofolio Energi Terbarukan
Aldo menjelaskan, pengembangan energi surya juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi.
Sejak 2017 hingga 2025, ARKO mencatat penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 277.241 ton CO2eq.
Menurut Aldo, tambahan portofolio PLTS akan semakin memperkuat kontribusi perusahaan dalam pengembangan energi bersih. Langkah tersebut juga mendukung upaya pemerintah mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060.
“Dengan adanya PLTS, perseroan semakin mampu mendukung upaya Pemerintah mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060, mempertegas peran perseroan dalam transisi energi nasional,” kata Aldo.
Selain itu, masuknya ARKO ke sektor tenaga surya membuat persebaran proyek perseroan semakin luas. Proyek PLTS di Batam dan Bintan menambah wilayah operasional perusahaan di luar proyek pembangkit tenaga air.
Di sisi lain, diversifikasi pembangkit juga dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menangkap peluang pertumbuhan sektor EBT. Permintaan terhadap energi bersih terus menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan sistem kelistrikan nasional.
Kapasitas Terkontrak ARKO Capai 84,1 MW
Setelah akuisisi Endorshine, ARKO memiliki kapasitas terkontrak sebesar 84,1 MW. Kapasitas tersebut berasal dari berbagai proyek pembangkit energi terbarukan.
Komposisinya terdiri dari enam proyek pembangkit listrik tenaga air dengan total kapasitas 62,8 MW. Sementara itu, dua proyek pembangkit listrik tenaga surya memiliki kapasitas total 21,3 MWp.
Dengan demikian, portofolio ARKO kini mencakup delapan proyek pembangkit yang telah memiliki kapasitas terkontrak.
Namun, kapasitas tersebut belum menggambarkan keseluruhan potensi pengembangan perseroan. ARKO juga memiliki pipeline proyek dengan kapasitas lebih dari 300 MW.
Besarnya pipeline tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk terus mengembangkan bisnis EBT. Karena itu, akuisisi Endorshine tidak hanya menambah aset yang sudah beroperasi, tetapi juga memperkuat arah ekspansi bisnis perseroan.
Masuknya tenaga surya ke dalam portofolio juga memberikan variasi sumber energi bagi ARKO. Sebelumnya, fokus utama perseroan berada pada pembangkit listrik tenaga air.
Akuisisi Jadi Strategi Pertumbuhan ARKO
Aldo menegaskan, akuisisi Endorshine merupakan bagian dari strategi ARKO untuk memperkuat posisi sebagai perusahaan EBT yang semakin terintegrasi.
Menurutnya, perusahaan tetap membuka peluang pertumbuhan melalui pengembangan organik maupun aksi korporasi strategis.
“Akuisisi Endorshine mencerminkan komitmen kami untuk terus bertumbuh dengan tetap terbuka terhadap berbagai peluang pengembangan, baik secara organik maupun melalui langkah-langkah strategis secara anorganik,” ujar Aldo.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa ARKO tidak hanya mengandalkan pembangunan proyek baru dari awal. Perseroan juga dapat menggunakan aksi anorganik untuk mempercepat perluasan portofolio energi terbarukan.
Bagi perusahaan energi, pendekatan tersebut dapat memberikan fleksibilitas dalam mengembangkan kapasitas pembangkit. Terlebih, proyek yang sudah berjalan dapat langsung memperkaya portofolio operasional perseroan.
Perluas Kontribusi pada Transisi Energi
Aldo menilai pertumbuhan perusahaan tidak hanya diukur berdasarkan peningkatan skala operasional. Menurut dia, setiap langkah bisnis harus memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham.
Akuisisi Endorshine juga diarahkan untuk memperluas kontribusi ARKO dalam penyediaan energi bersih di Indonesia.
“Bagi kami, pertumbuhan bukan semata-mata mengenai perluasan skala operasional, tetapi juga bagaimana setiap langkah yang kami ambil dapat menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham,” kata Aldo.
Sementara itu, tambahan proyek PLTS membuat ARKO memiliki pijakan baru di sektor energi surya. Hal tersebut melengkapi pengalaman perseroan dalam mengembangkan pembangkit tenaga air.
Dengan portofolio yang lebih beragam, ARKO memiliki peluang untuk memperluas kontribusinya terhadap pengembangan EBT. Langkah tersebut sekaligus memperkuat visi perseroan untuk menyediakan energi terbarukan bagi Indonesia.
Akuisisi Endorshine pada akhirnya menjadi salah satu tonggak penting bagi ARKO. Perseroan kini tidak hanya mengembangkan pembangkit tenaga air, tetapi juga telah memiliki proyek tenaga surya.
Ke depan, perkembangan pipeline lebih dari 300 MW akan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Realisasi proyek-proyek tersebut berpotensi meningkatkan kapasitas terpasang dan memperkuat posisi ARKO di industri energi terbarukan.
Bagi industri EBT nasional, ekspansi perusahaan ke berbagai jenis energi juga menunjukkan semakin terbukanya peluang pengembangan pembangkit rendah emisi. Karena itu, akuisisi PLTS Batam dan Bintan menjadi bagian dari langkah ARKO dalam mengikuti arah transisi energi Indonesia.





