Atlas Resources Hentikan Produksi Tambang Imbas Penyesuaian RKAB

Dwi Prakoso

Atlas Resources Hentikan Produksi Tambang Imbas Penyesuaian RKAB

Suratkami.com – Jakarta – PT Atlas Resources Tbk (ARII) hentikan produksi tambang di sejumlah area operasional sebagai dampak penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Kebijakan tersebut membuat volume produksi dan penjualan batu bara perseroan mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan.

Langkah penghentian sementara dilakukan di beberapa lokasi tambang yang terdampak pembatasan alokasi produksi. Meski demikian, perusahaan masih menjalankan aktivitas penjualan untuk memenuhi sisa kuota produksi yang telah dialokasikan sebelumnya.

Di sisi lain, manajemen berharap pemerintah dapat memberikan relaksasi terhadap aturan RKAB dan DMO. Harapan tersebut muncul agar kapasitas produksi kembali meningkat sehingga perusahaan mampu memenuhi kebutuhan batu bara domestik, khususnya untuk sektor pembangkit listrik.

Atlas Resources Hentikan Produksi Tambang Akibat Penyesuaian RKAB

Direktur PT Atlas Resources Tbk, Joko Kus Sulistyoko, menjelaskan bahwa penyesuaian RKAB berdampak langsung terhadap aktivitas operasional perusahaan. Akibatnya, sejumlah area produksi harus dihentikan sementara karena alokasi produksi yang tersedia semakin terbatas.

Menurutnya, perusahaan masih melanjutkan penjualan batu bara dari sisa kuota yang telah diperoleh. Namun, aktivitas produksi baru belum dapat berjalan secara optimal hingga terdapat kepastian mengenai tambahan alokasi produksi dari pemerintah.

Joko mengatakan kondisi tersebut turut memengaruhi kinerja operasional perusahaan. Oleh karena itu, Atlas Resources berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian relaksasi kebijakan RKAB maupun DMO agar industri batu bara tetap mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional.

Selain menjaga keberlangsungan usaha, peningkatan kuota produksi juga dinilai penting untuk mendukung pasokan batu bara bagi pembangkit listrik di wilayah Sumatera dan Jawa. Kedua wilayah tersebut masih menjadi pasar utama kebutuhan energi berbasis batu bara.

Sementara itu, perusahaan terus melakukan evaluasi terhadap strategi bisnis agar tetap mampu menjaga efisiensi selama masa penyesuaian kebijakan berlangsung.

Perusahaan Fokus Tingkatkan Efisiensi Operasional

Di tengah terbatasnya aktivitas produksi, Atlas Resources memilih memperkuat efisiensi operasional melalui pembangunan infrastruktur pendukung. Strategi tersebut diharapkan mampu menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan.

Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah pembangunan jalan hauling baru. Jalur angkut tersebut dirancang agar proses distribusi batu bara menjadi lebih singkat dibandingkan rute sebelumnya.

Dengan jarak angkut yang lebih pendek, biaya logistik dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, waktu pengiriman batu bara menuju pelabuhan maupun titik distribusi juga menjadi lebih efisien.

Tidak hanya untuk kebutuhan saat ini, jalan hauling tersebut juga dipersiapkan guna mengantisipasi peningkatan volume produksi apabila pemerintah kembali menambah alokasi RKAB pada masa mendatang.

Menariknya, infrastruktur tersebut juga dirancang agar dapat dimanfaatkan perusahaan tambang lain yang berada di sekitar wilayah operasional Atlas Resources. Dengan demikian, pembangunan jalan hauling tidak hanya memberikan manfaat internal, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi pengembangan kawasan pertambangan.

Beberapa manfaat pembangunan jalan hauling tersebut meliputi:

  • Menekan biaya logistik perusahaan.
  • Mempercepat proses pengangkutan batu bara.
  • Mendukung peningkatan kapasitas produksi di masa depan.
  • Membuka peluang kerja sama dengan perusahaan tambang lain.
  • Meningkatkan efisiensi operasional secara berkelanjutan.

Pendapatan Naik, Laba Bersih Justru Menurun

Di tengah tantangan operasional, Atlas Resources masih mampu membukukan pertumbuhan pendapatan pada kuartal I-2026. Pendapatan usaha perusahaan tercatat mencapai Rp1,8 triliun atau naik sekitar 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,63 triliun.

Namun demikian, peningkatan pendapatan belum mampu mendorong kenaikan laba bersih. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp102,5 miliar hingga akhir kuartal pertama 2026.

Angka tersebut turun sekitar 41 persen dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp173,9 miliar. Penurunan tersebut mencerminkan besarnya tekanan terhadap margin keuntungan perusahaan akibat pembatasan produksi dan berbagai penyesuaian operasional.

Meski begitu, Atlas Resources tetap membukukan laba bersih per saham sebesar Rp27,33. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu mempertahankan kinerja positif meskipun menghadapi tantangan regulasi dan penyesuaian produksi.

Harapan Terhadap Kebijakan Pemerintah

Ke depan, Atlas Resources berharap adanya kebijakan yang lebih fleksibel terkait RKAB maupun DMO. Menurut perusahaan, tambahan alokasi produksi akan membantu memenuhi kebutuhan batu bara nasional sekaligus menjaga keberlangsungan investasi di sektor pertambangan.

Selain itu, peningkatan kapasitas produksi diyakini akan memberikan dampak positif terhadap pendapatan perusahaan. Efisiensi yang saat ini sedang dibangun melalui pengembangan infrastruktur juga diperkirakan dapat memberikan manfaat jangka panjang ketika aktivitas produksi kembali normal.

Dengan strategi efisiensi dan pengembangan infrastruktur yang terus berjalan, Atlas Resources optimistis mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan ketika kondisi regulasi kembali mendukung. Perusahaan juga menegaskan komitmennya untuk terus memasok kebutuhan batu bara domestik sesuai kebijakan pemerintah sekaligus menjaga keberlanjutan operasional di masa mendatang.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Cara Dapat Cashback Rp50 Ribu dari Referral Honest Card

Cara Dapat Cashback Rp50 Ribu dari Referral Honest Card

Kunjungi Artikel