BPK Soroti Investasi Telkomsel di GOTO, Kerugian Capai Rp4,74 Triliun

Japur SK

BPK Soroti Investasi Telkomsel di GOTO, Kerugian Capai Rp4,74 Triliun

SURATKAMI.com, Jakarta – Investasi Telkomsel di GOTO menjadi sorotan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setelah nilai penanaman modal tersebut belum memberikan keuntungan hingga akhir 2024. Bahkan, Telkomsel telah membukukan kerugian yang belum direalisasi atau unrealized loss sebesar Rp4,74 triliun.

Temuan ini tercantum dalam hasil pemeriksaan BPK atas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan PT Telkom Indonesia Tbk untuk tahun buku 2023 dan semester I 2024. BPK menilai keputusan investasi tersebut mengandung risiko tinggi karena dilakukan ketika perusahaan yang menaungi Gojek masih mencatat rugi besar.

Selain itu, realisasi sinergi bisnis yang menjadi salah satu dasar utama investasi juga belum sesuai dengan target yang sebelumnya diproyeksikan manajemen. Kondisi ini membuat investasi Telkomsel di GOTO terus menjadi perhatian publik dan pemegang saham.

Awal Investasi Telkomsel di GOTO

Investasi Telkomsel di GOTO bermula pada 2020 saat PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB), entitas yang menaungi Gojek sebelum merger dengan Tokopedia, menawarkan peluang investasi kepada Telkomsel.

Pada saat itu, kondisi keuangan PT AKAB belum sehat. Perusahaan masih membukukan rugi komprehensif sebesar Rp16,62 triliun. Meski demikian, Telkomsel tetap menggelontorkan dana sebesar 150 juta dolar AS atau sekitar Rp2,1 triliun.

Dana tersebut ditempatkan dalam bentuk zero-coupon mandatory convertible bond (MCB). Instrumen ini kemudian dikonversi menjadi saham setelah Gojek dan Tokopedia resmi merger pada 2021 dan membentuk PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.

Setelah merger, Telkomsel dan PT AKAB menyepakati tambahan konversi sebesar 300 juta dolar AS atau sekitar Rp4,28 triliun. Dengan demikian, total investasi Telkomsel di GOTO mencapai sekitar Rp6,38 triliun.

Dari investasi tersebut, Telkomsel memperoleh 23,72 miliar saham GOTO atau setara dengan kepemilikan 1,97 persen.

BPK Pertanyakan Keputusan Investasi

BPK menilai keputusan investasi Telkomsel di GOTO patut dipertanyakan karena perusahaan tujuan investasi masih bergantung pada utang dan terus mencatat kerugian.

Dalam hasil pemeriksaannya, BPK menyebut GOTO cenderung mengandalkan pendanaan berbasis utang untuk menjalankan bisnis. Akibatnya, perusahaan mengalami tekanan keuangan dalam beberapa tahun terakhir.

Sejak 2021 hingga 2024, GOTO masih mencatat rugi komprehensif setiap tahun. Pada 2021, rugi komprehensif mencapai Rp22,53 triliun.

Kerugian itu meningkat menjadi Rp40,26 triliun pada 2022. Kemudian, pada 2023, rugi komprehensif melonjak hingga Rp90,41 triliun.

Sementara itu, pada 2024, rugi komprehensif turun menjadi Rp5,53 triliun. Meski lebih kecil, perusahaan tetap belum menghasilkan laba.

Selain itu, GOTO mencatat impairment goodwill sebesar Rp11 triliun pada 2022 dan Rp78,76 triliun pada 2023.

Kerugian Telkomsel Mencapai Rp4,74 Triliun

BPK mengungkapkan bahwa hingga 2024, investasi Telkomsel di GOTO belum menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, Telkomsel telah membukukan unrealized loss sebesar Rp4,74 triliun.

Kerugian tersebut dicatat sebagai bagian dari biaya dan beban dalam laporan laba rugi. Dengan metode akuntansi Fair Value Through Profit or Loss (FVTPL), perubahan nilai wajar investasi langsung memengaruhi laba bersih perusahaan.

Setelah GOTO melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022, nilai investasi Telkomsel sempat melonjak. Pada akhir 2021, investasi ini menghasilkan keuntungan belum terealisasi sebesar Rp2,49 triliun.

Nilai saldo investasi saat itu mencapai Rp8,89 triliun. Namun, kondisi berubah drastis ketika harga saham GOTO terus melemah.

Pada 2022, saldo investasi anjlok 75,74 persen menjadi Rp2,15 triliun. Penurunan ini dipicu oleh merosotnya harga saham GOTO dari nilai wajarnya pada akhir 2021.

Realisasi Sinergi Belum Sesuai Target

Investasi Telkomsel di GOTO tidak hanya didasarkan pada potensi keuntungan finansial, tetapi juga pada harapan terciptanya sinergi digital.

Telkomsel memproyeksikan manfaat dari integrasi layanan telekomunikasi dengan ekosistem Gojek dan Tokopedia. Proyeksi ini disusun bersama konsultan internasional dan lembaga keuangan.

Namun, hingga November 2024, realisasi synergy value baru mencapai Rp6,38 triliun atau 69,81 persen dari target awal.

Artinya, manfaat yang diharapkan belum sepenuhnya terwujud. Kondisi ini memperkuat catatan BPK bahwa investasi tersebut belum memberikan hasil optimal.

Faktor yang Menekan Nilai Investasi

Beberapa faktor yang menyebabkan nilai investasi Telkomsel di GOTO terus tertekan antara lain:

  • GOTO masih mencatat kerugian tahunan.
  • Harga saham GOTO terus berfluktuasi.
  • Realisasi sinergi bisnis belum sesuai target.
  • Metode FVTPL membuat nilai investasi sangat sensitif terhadap pasar.
  • Kinerja perusahaan tujuan investasi belum stabil.

Dampak terhadap Kinerja Telkomsel dan TLKM

Kerugian dari investasi Telkomsel di GOTO turut memengaruhi laporan keuangan Telkomsel dan induk usahanya, PT Telkom Indonesia Tbk.

Meskipun Telkomsel tetap memiliki bisnis inti yang kuat, nilai investasi yang terus turun menjadi beban tersendiri. Karena itu, BPK menilai perusahaan perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi strategis.

Di sisi lain, manajemen Telkomsel masih berharap sinergi digital dengan ekosistem GOTO dapat memberikan manfaat jangka panjang.

Namun, hingga akhir 2024, investasi tersebut belum mampu menghasilkan keuntungan nyata. Temuan BPK ini menjadi pengingat penting bahwa investasi strategis harus didukung analisis risiko yang matang dan proyeksi yang realistis.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral NeoBank Mei 2026 Terbaru: Bonus, Cara Daftar, dan Tips Buka Rekening

Kode Referral NeoBank Mei 2026 Terbaru: Bonus, Cara Daftar, dan Tips Buka Rekening

Kunjungi Artikel