Suratkami.com, Jakarta – Pembangunan data center Indonesia timur dinilai menjadi langkah realistis untuk memperkuat pemerataan ekonomi digital nasional. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur besar, mulai dari listrik, jaringan fiber optik, hingga investasi jangka panjang.
Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai desentralisasi pusat data di luar Pulau Jawa sangat memungkinkan dilakukan. Selain mendukung pemerataan digital, langkah ini juga dianggap mampu memperkuat ketahanan sistem nasional terhadap risiko bencana.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mulai mendorong pembangunan pusat data agar tidak hanya terpusat di wilayah barat Indonesia. Kawasan timur disebut memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dari ekosistem digital nasional di masa depan.
Data Center Indonesia Timur Dinilai Punya Potensi Besar
Ketua Industri AI, IoT & Big Data Mastel, Teguh Prasetya, mengatakan pembangunan data center Indonesia timur sangat realistis dilakukan. Menurutnya, pusat data untuk kebutuhan disaster recovery center atau DRC juga bisa dikembangkan di luar Jawa.
Namun, Teguh menegaskan kapasitas dan penggunaan fasilitas harus disesuaikan dengan besaran investasi yang tersedia. Sebab, pembangunan pusat data membutuhkan dukungan infrastruktur yang tidak sedikit.
Saat ini, mayoritas data center masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur yang lebih lengkap, mulai dari jaringan fiber optik, pasokan listrik, air, hingga kawasan industri.
Selain itu, permintaan pengguna layanan digital terbesar juga masih berada di wilayah Jawa. Karena itu, investor lebih banyak memilih membangun pusat data di kawasan tersebut.
Meskipun begitu, Mastel menilai pembangunan data center Indonesia timur dapat memberikan efek ekonomi yang luas. Kehadiran pusat data diperkirakan akan mendorong pembangunan infrastruktur penunjang di berbagai daerah.
Risiko Bencana dan Infrastruktur Jadi Tantangan
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan tersendiri dalam pembangunan pusat data. Mastel mencatat sejumlah fasilitas data center di ASEAN diperkirakan menghadapi risiko water stress tinggi pada 2030.
Selain masalah ketersediaan air, ancaman gempa bumi, banjir, dan bencana alam lainnya juga menjadi perhatian penting. Karena itu, desain fasilitas harus memperhatikan aspek ketahanan dan keamanan operasional.
Di sisi lain, sistem kelistrikan Jawa-Bali saat ini mengalami oversupply. Kondisi tersebut memang terlihat positif, namun justru memberi tekanan finansial terhadap PT PLN akibat kewajiban pembayaran listrik jangka panjang.
Menurut Mastel, situasi ini secara tidak langsung menghambat pengembangan energi terbarukan baru. Sementara itu, kesiapan sistem kontrol jaringan nasional juga masih memiliki keterbatasan.
Infrastruktur AI Butuh Teknologi Khusus
Kebutuhan data center berbasis artificial intelligence atau AI juga dinilai semakin kompleks. Fasilitas AI-ready membutuhkan teknologi khusus seperti liquid cooling, power density tinggi, dan konektivitas ultra-rendah latensi.
Teguh menyebut Indonesia masih berada pada tahap awal dalam pengembangan infrastruktur AI tersebut. Meski demikian, beberapa langkah awal sudah mulai terlihat.
Salah satunya adalah kolaborasi Indosat dan NVIDIA dalam pengembangan GPU AI terbaru. Selain itu, fasilitas AI CGK4 milik BDx Indonesia juga mulai menggunakan energi terbarukan.
Namun, Mastel menilai pengembangan infrastruktur AI nasional masih perlu diperluas secara masif agar Indonesia mampu bersaing di tingkat regional.
Pemerintah Dorong Pemerataan Pusat Data Nasional
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital terus mendorong pembangunan pusat data di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan timur.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, Wayan Toni Supriyanto, mengatakan pemerintah sedang menyiapkan master plan pengembangan data center nasional.
Menurutnya, pusat data kini bukan lagi sekadar tempat penyimpanan data. Data center telah menjadi tulang punggung ekonomi digital dan fondasi utama pengembangan AI nasional.
Karena itu, pemerintah ingin memastikan pengembangan pusat data dilakukan secara efisien dan berkelanjutan melalui konsep green data center.
Selain itu, pemerintah juga ingin memperkuat aspek kedaulatan data nasional. Implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi atau UU PDP membuat kebutuhan infrastruktur digital dalam negeri semakin penting.
Investasi Data Center Terus Meningkat
Secara kuantitatif, industri data center Indonesia terus berkembang pesat. Pada 2025, Indonesia tercatat memiliki 81 fasilitas data center operasional dan 24 fasilitas tambahan yang masih dalam tahap pembangunan atau perencanaan.
Kapasitas IT load nasional juga diproyeksikan meningkat dari 1,44 GW pada 2025 menjadi 3,56 GW pada 2030. Pertumbuhan tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan layanan digital di Indonesia.
Beroperasinya Pusat Data Nasional di Cikarang sejak Maret 2025 menjadi salah satu tonggak penting penguatan ekosistem digital nasional. Selain itu, kehadiran hyperscaler global seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft turut memperkuat infrastruktur digital Indonesia.
Tidak hanya itu, Oracle juga meluncurkan region cloud pertamanya di Batam pada 2025. Momentum investasi tersebut menunjukkan Indonesia semakin diperhitungkan sebagai pusat digital kawasan Asia Tenggara.
Jakarta Masih Jadi Fokus Ekspansi Perusahaan
Di tengah dorongan pemerataan pusat data, Equinix mengungkapkan ekspansi perusahaan saat ini masih akan berfokus di Jakarta.
Managing Director Equinix Indonesia, Haris Izmee, mengatakan perusahaan tengah melanjutkan pengembangan pusat data JK1 International Business Exchange.
Equinix menargetkan penambahan lebih dari 1.000 kabinet pada fase berikutnya yang dijadwalkan selesai pada kuartal IV/2026. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan AI dan layanan digital berlatensi rendah.
Menurut Haris, Jakarta masih menjadi lokasi strategis karena dekat dengan pusat keuangan dan layanan digital nasional. Namun, dia juga menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi hub data center regional.
Meski begitu, sejumlah tantangan masih perlu diperhatikan. Mulai dari ketahanan energi, percepatan perizinan, hingga kesiapan talenta digital nasional.
Karena itu, pengembangan data center Indonesia timur dinilai menjadi langkah penting untuk menciptakan pemerataan digital sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara.





