Suratkami.com, Jakarta – Penurunan jumlah investor RLCO dan SUPA menjadi sorotan pasar setelah dua emiten anyar ini kehilangan lebih dari 80 persen pemegang saham dalam waktu singkat pada kuartal I-2026.
Fenomena penurunan jumlah investor RLCO dan SUPA memicu perhatian pelaku pasar modal. Dua emiten yang baru melantai di bursa pada akhir 2025 ini justru mengalami penyusutan basis investor dalam waktu kurang dari tiga bulan perdagangan.
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) sempat mencatat lonjakan investor signifikan saat penawaran umum perdana saham atau IPO. Namun, tren tersebut tidak bertahan lama dan berbalik arah di awal 2026.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai perilaku investor ritel, terutama pasca euforia IPO yang kerap terjadi di pasar saham Indonesia. Penurunan tajam jumlah pemegang saham ini juga menjadi indikator dinamika minat investasi jangka pendek.
Penurunan Tajam Investor SUPA
PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan saham perdana pada 17 Desember 2025. Saat IPO, jumlah investornya mencapai 696.202 single investor identification (SID).
Tak lama setelah itu, jumlah investor SUPA bahkan sempat meningkat hingga 263.395 SID pada akhir Desember 2025. Namun, tren tersebut berubah drastis memasuki Januari 2026.
Sejak awal tahun, jumlah pemegang saham SUPA terus menurun. Hingga akhir Maret 2026, jumlah investor tersisa 107.501 SID. Artinya, dalam kurun waktu tiga bulan, SUPA kehilangan sekitar 588.701 investor.
Secara persentase, penurunan jumlah investor SUPA mencapai 84,56 persen. Angka ini mencerminkan keluarnya investor dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.
Meski demikian, harga saham SUPA masih relatif stabil. Per 15 April 2026, saham SUPA diperdagangkan di kisaran Rp930 per saham atau naik tipis 0,54 persen secara year to date.
RLCO Kehilangan Lebih dari 90 Persen Investor
Sementara itu, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mencatatkan penurunan yang lebih drastis. Emiten produsen sarang burung walet ini melantai di bursa pada 8 Desember 2025.
Pada saat IPO, RLCO berhasil menggaet 518.156 investor. Bahkan, jumlah tersebut sempat meningkat dengan tambahan 279.042 SID pada akhir Desember.
Namun, memasuki Januari 2026, jumlah investor RLCO anjlok tajam menjadi 79.850 SID. Penurunan berlanjut pada Februari menjadi 40.238 SID dan kembali turun menjadi 34.711 SID pada Maret.
Secara keseluruhan, RLCO kehilangan sekitar 483.445 investor sejak listing hingga akhir kuartal I-2026. Jika dihitung secara persentase, penurunan jumlah pemegang saham RLCO mencapai 93,30 persen.
Menariknya, berbeda dengan SUPA, harga saham RLCO justru mengalami kenaikan signifikan. Hingga pertengahan April 2026, saham RLCO diperdagangkan di kisaran Rp6.575 per saham atau melonjak sekitar 238 persen sejak awal tahun.
Fenomena Euforia IPO dan Pergerakan Investor
Penurunan jumlah investor RLCO dan SUPA menunjukkan adanya fenomena euforia IPO yang bersifat sementara. Banyak investor ritel cenderung masuk saat penawaran perdana, namun tidak bertahan lama.
Kondisi ini sering dipicu oleh strategi jangka pendek, seperti mencari keuntungan cepat (trading) setelah saham mulai diperdagangkan di pasar sekunder. Ketika momentum mereda, sebagian investor memilih keluar.
Selain itu, fluktuasi harga saham juga turut memengaruhi keputusan investor. Pada kasus RLCO, kenaikan harga justru tidak diikuti dengan peningkatan jumlah investor, menandakan adanya konsolidasi kepemilikan saham.
Sementara pada SUPA, stabilitas harga tidak cukup kuat untuk menahan investor tetap bertahan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sentimen dan ekspektasi pasar sangat berperan dalam dinamika jumlah pemegang saham.
Implikasi bagi Pasar Modal
Penurunan jumlah investor dalam skala besar seperti yang terjadi pada RLCO dan SUPA menjadi sinyal penting bagi pasar modal Indonesia. Hal ini mencerminkan tingginya volatilitas minat investor ritel terhadap saham IPO.
Bagi emiten, menjaga kepercayaan investor pasca IPO menjadi tantangan tersendiri. Kinerja fundamental, transparansi, serta strategi bisnis jangka panjang menjadi faktor penentu untuk mempertahankan investor.
Sementara bagi regulator dan pelaku pasar, fenomena ini dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan literasi keuangan. Edukasi mengenai investasi jangka panjang perlu terus digencarkan agar investor tidak hanya berorientasi pada keuntungan sesaat.
Dengan demikian, meskipun penurunan jumlah investor RLCO dan SUPA terbilang tajam, hal ini juga membuka ruang pembelajaran bagi seluruh pihak dalam membangun pasar modal yang lebih stabil dan berkelanjutan.





