Lonjakan Harga Poliester Tekan Industri Fast Fashion Global

Dwi Prakoso

Lonjakan Harga Poliester Tekan Industri Fast Fashion Global

Suratkami.com – Jakarta – Lonjakan harga poliester mulai dirasakan industri tekstil global seiring kenaikan harga bahan bakar fosil akibat konflik di Timur Tengah.

Kenaikan biaya ini berdampak langsung pada rantai pasok pakaian, khususnya di Asia yang menjadi pusat produksi tekstil dunia. Produsen bahan baku hingga peritel mulai menghadapi tekanan biaya yang tidak kecil.

Selain itu, sejumlah perusahaan fast fashion global seperti Zara dan H&M diperkirakan akan terdampak dalam beberapa bulan ke depan jika kondisi ini terus berlanjut.

Dampak Lonjakan Harga Poliester pada Industri Tekstil

Lonjakan harga poliester terjadi karena bahan bakunya berasal dari minyak bumi. Ketika harga minyak naik akibat konflik geopolitik, biaya produksi serat sintetis ini ikut terdongkrak.

Dilaporkan, Filatex, produsen benang poliester besar di India, mengalami kenaikan biaya hingga 30 persen. Kenaikan ini berasal dari bahan baku utama seperti asam tereftalat murni dan monoetilena glikol.

Direktur Pelaksana Filatex, Madhu Sudhan Bhageria, menyebut pemasok dari China telah menaikkan harga. Sementara itu, pasokan dari Timur Tengah mengalami gangguan.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa lonjakan harga poliester tidak hanya bersifat lokal, tetapi berdampak global. Karena itu, tekanan menyebar ke seluruh rantai pasok industri pakaian.

Di sisi lain, poliester masih menjadi bahan dominan. Sekitar 59 persen produksi serat dunia berasal dari material ini. Penggunaannya sangat luas, mulai dari pakaian olahraga hingga busana formal.

Rantai Pasok Asia Mulai Tertekan

Asia menjadi pusat utama produksi tekstil dunia. Negara seperti Bangladesh, Vietnam, dan India memainkan peran penting dalam rantai pasok global.

Namun, lonjakan harga poliester membuat biaya produksi meningkat di kawasan ini. Meski begitu, beberapa peritel besar masih memiliki stok aman untuk beberapa musim ke depan.

Perusahaan ritel asal Inggris, Primark, menyatakan stok musim semi dan musim panas telah diamankan. Bahkan sebagian stok musim gugur dan musim dingin juga sudah tersedia.

Sementara itu, H&M menyebut belum melihat gangguan signifikan di Bangladesh. Namun, kondisi ini tetap dipantau secara ketat.

Di sisi lain, pemilik Zara, Inditex, belum memberikan komentar terkait pasokan poliester mereka. Hal ini menimbulkan spekulasi tentang strategi perusahaan menghadapi tekanan biaya.

Strategi Industri Hadapi Lonjakan Harga Poliester

Menghadapi lonjakan harga poliester, sejumlah perusahaan mulai mencari solusi alternatif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah beralih ke bahan daur ulang.

Poliester daur ulang dibuat dari limbah plastik, terutama botol bekas. Selain lebih ramah lingkungan, bahan ini juga dapat mengurangi ketergantungan pada minyak bumi.

Namun, kontribusi poliester daur ulang masih terbatas. Secara global, porsinya baru sekitar 12 persen dari total produksi poliester.

Alternatif yang Mulai Diterapkan

Beberapa strategi yang mulai diterapkan industri antara lain:

  • Menggunakan poliester daur ulang untuk menekan biaya
  • Diversifikasi sumber bahan baku dari berbagai negara
  • Meningkatkan efisiensi produksi untuk mengurangi pemborosan
  • Menyesuaikan harga jual produk secara bertahap

Meskipun begitu, langkah-langkah ini belum sepenuhnya mampu menahan dampak lonjakan harga poliester.

Dampak ke Konsumen dan Prospek ke Depan

Pada akhirnya, lonjakan harga poliester berpotensi berdampak pada konsumen. Harga pakaian bisa naik jika tekanan biaya terus berlanjut.

Namun, dalam jangka pendek, dampak tersebut mungkin belum terasa. Hal ini karena banyak peritel masih memiliki stok yang cukup.

Di sisi lain, jika konflik di Timur Tengah berlarut-larut, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Kondisi ini dapat memperpanjang tekanan pada industri tekstil global.

Karena itu, pelaku industri harus terus beradaptasi. Inovasi bahan baku dan efisiensi produksi menjadi kunci menghadapi situasi ini.

Lonjakan harga poliester bukan hanya isu sementara. Ini menjadi sinyal penting bagi industri untuk mulai beralih ke model produksi yang lebih berkelanjutan dan tahan terhadap gejolak global.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Cara Daftar Kredivo 2026 Mudah dan Cepat untuk Pemula

Cara Daftar Kredivo 2026 Mudah dan Cepat untuk Pemula

Kunjungi Artikel