Market Cap MORA Lampaui TLKM, Grup Sinar Mas Jadi Sorotan

Japur SK

Market Cap MORA Lampaui TLKM, Grup Sinar Mas Jadi Sorotan

SURATKAMI.COM, JAKARTA – Market cap MORA lampaui TLKM menjadi perbincangan hangat di pasar modal Indonesia. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) milik Grup Sinar Mas berhasil mencatatkan kapitalisasi pasar lebih besar dibanding PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Kondisi tersebut memicu perhatian investor karena TLKM selama ini dikenal sebagai raksasa telekomunikasi nasional. Namun, kehadiran MORA dengan valuasi besar menunjukkan perubahan peta kekuatan di sektor infrastruktur digital dan layanan internet.

Selain itu, merger bisnis telekomunikasi yang dilakukan Grup Sinar Mas dinilai menjadi faktor utama lonjakan valuasi saham MORA. Investor juga melihat prospek bisnis fiber optic dan layanan internet rumah masih sangat besar di Indonesia.

Market Cap MORA Lampaui TLKM di Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 13 Mei 2026, kapitalisasi pasar atau market cap MORA mencapai Rp 328 triliun. Angka tersebut menempatkan MORA di posisi kedelapan saham dengan market cap terbesar di Indonesia.

Sementara itu, TLKM berada di posisi kesembilan dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 293 triliun. Selisih nilai tersebut cukup mengejutkan pelaku pasar karena Telkom merupakan emiten BUMN besar dengan basis bisnis yang sangat luas.

Berikut daftar 10 saham dengan market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 744 triliun
  • PT DCI Indonesia Tbk (DCII) Rp 484 triliun
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 468 triliun
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 428 triliun
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 388 triliun
  • PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Rp 373 triliun
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) Rp 372 triliun
  • PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) Rp 328 triliun
  • PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 293 triliun
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) Rp 268 triliun

Kenaikan valuasi MORA memperlihatkan sektor digital dan jaringan internet semakin diminati investor. Di sisi lain, saham telekomunikasi berbasis infrastruktur juga dianggap memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.

Merger Moratelindo dan MyRepublic Jadi Kunci

Lonjakan market cap MORA tidak lepas dari merger antara PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo) dan PT Eka Mas Republik atau MyRepublic Indonesia. Penggabungan usaha tersebut resmi efektif mulai 22 April 2026.

Sebelum merger, Moratelindo dikenal sebagai penyedia jaringan backbone serat optik dan layanan internet sejak tahun 2000. Perusahaan ini memiliki jaringan fiber optic yang luas di berbagai wilayah Indonesia.

Per September 2025, Moratelindo tercatat memiliki:

  • Lebih dari 57 ribu kilometer kabel serat optik
  • Enam data center berkapasitas 3,3 megawatt
  • Lebih dari 16,8 ribu pelanggan enterprise
  • Hampir satu juta homepass
  • Lebih dari 296 ribu pelanggan ritel

Sementara itu, MyRepublic Indonesia fokus pada layanan fiber to the home (FTTH). Perusahaan tersebut melayani lebih dari 1,52 juta pelanggan ritel dengan kecepatan internet hingga 1 Gbps.

Selain itu, MyRepublic memiliki lebih dari 58 ribu kilometer kabel serat optik dan 8,7 juta homepass hingga September 2025. Gabungan aset dan pelanggan dari kedua perusahaan membuat MORA semakin kuat di sektor internet broadband nasional.

Prospek Bisnis Internet Fiber Masih Besar

Analis melihat kebutuhan internet cepat di Indonesia masih terus meningkat. Karena itu, perusahaan yang memiliki jaringan fiber optic luas berpotensi tumbuh agresif dalam beberapa tahun mendatang.

Selain kebutuhan rumah tangga, sektor bisnis dan pemerintah juga membutuhkan konektivitas stabil. Hal tersebut membuat bisnis infrastruktur digital tetap menarik bagi investor.

Di sisi lain, penetrasi internet fiber di Indonesia dinilai masih belum merata. Kondisi ini membuka peluang ekspansi besar bagi perusahaan seperti MORA maupun TLKM.

Strategi TLKM Lewat Spin Off Serat Optik

Meski market cap MORA lampaui TLKM, Telkom masih menyiapkan strategi besar untuk memperkuat bisnis infrastruktur digitalnya. Salah satunya melalui spin off aset serat optik ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau Infranexia.

TLKM menargetkan proses pemisahan usaha tersebut selesai pada kuartal III-2026. Nantinya, aset fiber optic Telkom akan dikelola secara khusus oleh entitas baru tersebut.

Selain itu, Telkom juga sedang mengeksplorasi konsolidasi aset serat optik dari PLN Icon Plus. Langkah itu dinilai dapat memperbesar skala bisnis dan meningkatkan potensi monetisasi aset.

PLN Icon Plus sendiri memiliki jaringan serat optik lebih dari 400 ribu kilometer di seluruh Indonesia. Perusahaan tersebut juga melayani sekitar 1,2 juta home connected dan 2,7 juta home passes.

BRI Danareksa Sekuritas menilai tambahan aset fiber optic PLN dapat memperkuat daya tarik bisnis infrastruktur Telkom. Karena itu, peluang masuknya investor strategis ke Infranexia dinilai semakin terbuka.

Investor Pantau Persaingan Infrastruktur Digital

Persaingan bisnis telekomunikasi kini tidak hanya soal layanan seluler. Infrastruktur fiber optic dan internet rumah menjadi area yang semakin penting di pasar digital Indonesia.

Market cap MORA lampaui TLKM menjadi sinyal bahwa investor mulai memberi perhatian besar pada perusahaan infrastruktur internet berbasis fiber. Selain itu, konsolidasi bisnis juga dianggap mampu meningkatkan valuasi perusahaan secara cepat.

Sementara itu, saham TLKM masih mendapat rekomendasi buy dari sejumlah analis. BRI Danareksa Sekuritas bahkan memperkirakan nilai wajar saham TLKM berada di kisaran Rp 4.100 hingga Rp 4.500 per saham.

Dengan perkembangan tersebut, persaingan sektor telekomunikasi nasional diperkirakan semakin menarik dalam beberapa tahun mendatang. Investor kini menanti langkah lanjutan dari MORA maupun TLKM dalam memperluas bisnis digital mereka.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kunjungi Artikel