Suratkami.com – Jakarta, Hasil survei terbaru Paramadina Public Policy Institute (PPPI) menunjukkan mayoritas pengemudi ojek online (ojol) lebih memilih potongan komisi 20% dengan fasilitas promo dan insentif ketimbang potongan 10% tanpa fasilitas tambahan. Temuan ini membuka perspektif baru bagi industri transportasi online di Indonesia.
Keputusan tersebut bukan sekadar soal angka komisi. Para pengemudi memahami potongan 20% yang diterapkan aplikator akan kembali kepada mereka dalam bentuk promo pelanggan, insentif, dan berbagai manfaat tambahan.
Industri transportasi online kini bukan hanya solusi mobilitas, tetapi juga tulang punggung ekonomi digital. Survei PPPI menjadi refleksi penting untuk kebijakan yang lebih adil bagi mitra pengemudi, aplikator, dan konsumen.
Survei Paramadina: Driver Ojol Pilih Komisi 20%
Hasil survei yang dirilis PPPI pada 23–26 September 2025 melibatkan 1.623 mitra pengemudi Gojek aktif di Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Semua responden memiliki jam online minimal 4 jam per hari. Data dikumpulkan secara daring melalui jaringan internal Gojek dengan pengawasan ketat peneliti.
Sebanyak 60,8% responden lebih memilih potongan komisi 20% dengan promo, insentif, dan manfaat tambahan. Sementara 39,2% lainnya lebih memilih potongan 10% tanpa fasilitas tambahan.
Managing Director PPPI Ahmad Khoirul Umam menegaskan kontroversi potongan komisi ini dapat lebih mudah dipahami setelah melihat aspirasi mitra pengemudi. Mayoritas pengemudi tidak menolak potongan 20% karena menyadari dampaknya terhadap pendapatan harian mereka.
Alasan Pengemudi Memilih Komisi Lebih Tinggi
Menurut Khoirul, pemahaman mitra pengemudi tentang fungsi potongan komisi penting bagi keberlanjutan ekosistem transportasi online. Komisi tersebut digunakan untuk promo pelanggan, insentif mitra, pemeliharaan aplikasi, hingga manfaat tambahan seperti diskon perawatan kendaraan, sembako, dan paket data.
Peneliti PPPI Annisa Rizkiayu Leofianti menambahkan 77,8% pengemudi lama (di atas 5 tahun bergabung dan jam online tinggi) mengetahui alasan aplikator menetapkan potongan komisi 20%. “Promo pelanggan sangat penting untuk menunjang penghasilan, terutama di kalangan pengemudi dengan jam online di atas 8 jam per hari,” ujarnya.
Stabilitas Pendapatan Jadi Prioritas
Survei juga mengungkap 81% pengemudi menilai stabilitas pendapatan bersih harian lebih penting dibanding pendapatan per order. Artinya, program promo dan insentif yang dibiayai dari potongan komisi justru membuat pendapatan lebih stabil.
Hal ini menunjukkan industri transportasi online tidak sekadar soal tarif per kilometer. Lebih dari itu, kesejahteraan mitra pengemudi juga bergantung pada strategi pemasaran aplikator.
Transportasi Online Sebagai Katalis Ekonomi Digital
Annisa menekankan industri transportasi online telah menjadi katalis penting pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Ekosistemnya harus dikelola dengan cara yang memastikan keberlanjutan bisnis sekaligus keadilan bagi pengemudi.
Data Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2023 mencatat pada 2022 sektor ini menyumbang Rp382,62 triliun atau 2% Produk Domestik Bruto (PDB). Seiring tren pertumbuhan, kontribusi ini diperkirakan meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Industri transportasi online juga membuka peluang lapangan kerja besar. Sejak hadir pada 2010, sektor ini melibatkan sekitar 4–5 juta mitra pengemudi. Dengan dukungan regulasi yang tepat, transportasi online dapat terus menjadi penggerak ekonomi nasional.
Tantangan Kebijakan dan Arah Masa Depan
Tim peneliti PPPI yang dipimpin Head Advisor Wijayanto Samirin bersama Ahmad Khoirul Umam dan peneliti lainnya menekankan pentingnya arah kebijakan industri transportasi online yang seimbang. Di satu sisi, pertumbuhan pesat harus dijaga. Di sisi lain, fungsi transportasi online sebagai instrumen kesejahteraan harus diperkuat.
Paramadina berharap hasil survei ini menjadi masukan bagi pemerintah, aplikator, dan masyarakat agar memahami aspirasi mitra pengemudi secara lebih objektif.
Tips Bagi Pengemudi Ojol untuk Mengoptimalkan Pendapatan
- Manfaatkan Promo dan Insentif: Aktifkan promo pelanggan untuk meningkatkan peluang order.
- Atur Jam Online Efektif: Jam sibuk (peak hour) lebih menguntungkan.
- Pelajari Skema Komisi: Pahami bagaimana komisi bekerja agar strategi kerja lebih tepat.
- Gunakan Fasilitas Tambahan: Seperti diskon perawatan kendaraan atau paket data yang disediakan aplikator.
- Pantau Regulasi Terbaru: Update kebijakan pemerintah agar tetap sesuai aturan.
FAQ
Q: Mengapa mayoritas pengemudi memilih potongan komisi 20%?
A: Karena potongan tersebut kembali ke mereka dalam bentuk promo pelanggan, insentif, dan manfaat tambahan yang membuat pendapatan lebih stabil.
Q: Apakah semua pengemudi tahu fungsi potongan komisi?
A: Berdasarkan survei, 77,8% pengemudi lama memahami fungsi potongan komisi, namun 22,2% belum mengetahui.
Q: Seberapa besar kontribusi industri transportasi online terhadap ekonomi nasional?
A: Menurut ITB, pada 2022 industri ini menyumbang Rp382,62 triliun atau 2% PDB.
Q: Apa yang perlu dilakukan pengemudi untuk meningkatkan penghasilan?
A: Memanfaatkan promo pelanggan, atur jam online strategis, dan gunakan fasilitas tambahan yang disediakan aplikator.
Q: Bagaimana kebijakan pemerintah terkait komisi ini?
A: Skema potongan komisi sudah diatur melalui Keputusan Menteri Perhubungan (KP) Nomor 1001 Tahun 2022.
Kesimpulan
Survei Paramadina menunjukkan mayoritas driver ojol lebih memilih komisi 20% dengan promo dan insentif ketimbang komisi lebih rendah tanpa fasilitas tambahan. Temuan ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara keuntungan aplikator, kesejahteraan mitra pengemudi, dan kepuasan pelanggan.
Industri transportasi online telah menjadi bagian penting dari ekonomi digital Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat, sektor ini dapat terus tumbuh dan memberi manfaat bagi jutaan orang.





