Selat Hormuz Ditutup Lagi, Begini Nasib Tanker Pertamina

Japur SK

Nasib Tanker Pertamina Usai Selat Hormuz Ditutup Lagi

SuratKami.com, Jakarta – Nasib tanker Pertamina kembali menjadi perhatian setelah Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu, 18 April 2026. Penutupan jalur laut penting itu terjadi hanya beberapa jam setelah Iran sempat membuka kembali akses pelayaran usai adanya kesepakatan gencatan senjata.

Penutupan Selat Hormuz berdampak langsung terhadap dua kapal tanker yang beroperasi untuk Pertamina. Kedua kapal tersebut, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di kawasan Teluk Persia dan belum bisa melanjutkan pelayaran.

Situasi ini membuat PT Pertamina International Shipping atau PIS harus kembali meninjau rencana pelayaran yang sebelumnya sudah disiapkan. Selain itu, perusahaan juga memperketat koordinasi dengan berbagai pihak demi menjamin keselamatan kapal dan awak.

Selat Hormuz Kembali Ditutup Iran

Iran sebelumnya sempat membuka Selat Hormuz pada Jumat, 17 April 2026. Pembukaan itu dilakukan setelah tercapai kesepakatan gencatan senjata yang melibatkan Israel dan Lebanon.

Namun, kondisi berubah cepat. Pada Sabtu, 18 April 2026, otoritas militer Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Iran menyebut keputusan tersebut diambil karena Amerika Serikat masih melanjutkan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran.

Pernyataan itu disampaikan melalui televisi pemerintah Iran. Teheran menegaskan bahwa pengawasan ketat akan tetap dilakukan sampai kebebasan pelayaran menuju Iran dipulihkan.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur laut terpenting di dunia. Jalur ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke berbagai kawasan, termasuk Asia dan Eropa.

Karena itu, penutupan kembali Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran baru terhadap distribusi energi global. Selain itu, dampaknya juga bisa terasa pada biaya logistik, harga minyak, hingga pengiriman bahan bakar.

Nasib Tanker Pertamina Masih Menunggu Kepastian

Nasib tanker Pertamina kini masih bergantung pada perkembangan situasi keamanan di kawasan Teluk Persia. Dua kapal yang dioperasikan untuk Pertamina hingga kini belum melintasi Selat Hormuz.

Kapal Pertamina Pride dilaporkan berada di sekitar perairan Al Jubail, Arab Saudi. Sementara itu, kapal Gamsunoro masih terpantau berada di sekitar perairan Dubai, Uni Emirat Arab.

PT Pertamina International Shipping telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Perusahaan menyusun rute alternatif, memetakan risiko, hingga menyiapkan rencana darurat apabila situasi di kawasan semakin memburuk.

Selain itu, perusahaan juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, antara lain:

  • Kementerian Luar Negeri RI
  • Otoritas pelabuhan setempat
  • Perusahaan asuransi
  • Pemilik kargo
  • Manajemen kapal
  • Mitra pelayaran internasional

Langkah tersebut dilakukan agar seluruh prosedur perizinan dan keamanan dapat dipenuhi. Dengan begitu, kapal bisa segera bergerak jika situasi kembali memungkinkan.

Keselamatan Awak Jadi Prioritas

PIS menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama. Selain menjaga keamanan muatan, perusahaan juga ingin memastikan kondisi para kru tetap aman selama menunggu kepastian pelayaran.

Di sisi lain, perusahaan tidak ingin mengambil risiko besar dengan memaksakan kapal melintasi wilayah yang masih rawan konflik. Karena itu, keputusan keberangkatan akan sangat bergantung pada perkembangan diplomatik dan keamanan di kawasan.

Ketegangan Iran dan Amerika Serikat Memanas

Penutupan kembali Selat Hormuz tidak lepas dari meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran menilai Washington belum menunjukkan itikad baik karena masih mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa blokade terhadap Iran akan tetap dilakukan jika belum ada kesepakatan damai. Ia juga memberi sinyal bahwa gencatan senjata yang sedang berjalan belum tentu diperpanjang.

Pernyataan tersebut membuat ketidakpastian di kawasan semakin tinggi. Banyak pihak kini menunggu apakah Iran dan Amerika Serikat dapat mencapai kesepakatan baru dalam beberapa hari ke depan.

Jika ketegangan terus meningkat, maka penutupan Selat Hormuz bisa berlangsung lebih lama. Kondisi itu tentu akan memperburuk distribusi energi dunia dan menambah beban pelayaran internasional.

Dampak Penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia

Bagi Indonesia, situasi ini dapat memengaruhi distribusi energi dan biaya impor bahan bakar. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak mentah dan gas dari Timur Tengah.

Jika penutupan berlangsung lama, maka biaya pengiriman energi bisa meningkat. Selain itu, harga minyak dunia juga berpotensi naik karena pasokan menjadi terganggu.

Namun, pemerintah dan Pertamina diperkirakan akan menyiapkan langkah mitigasi agar pasokan energi nasional tetap aman. Salah satu caranya adalah dengan mencari jalur pengiriman alternatif dan menambah cadangan stok bahan bakar.

Karena itu, perkembangan situasi di Selat Hormuz akan terus dipantau secara ketat. Nasib tanker Pertamina pun masih menunggu kepastian dari kondisi geopolitik yang terus berubah.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral YUP 2026 | VIVGFE78 | Undang Teman Berhadiah iPhone 17 Pro

Kode Referral YUP 2026 | VIVGFE78 | Undang Teman Berhadiah iPhone 17 Pro

Kunjungi Artikel