Tanjung Bintang, Lampung Selatan – 31 Juli 2025
Kondisi Pasar Tradisional Tanjung Bintang kian hari kian memprihatinkan. Aktivitas jual beli yang biasanya ramai dengan suara tawar-menawar kini berubah menjadi sepi dan lengang. Banyak pedagang mulai mengeluh karena minimnya pembeli yang datang berbelanja, terutama dalam beberapa minggu terakhir.
Salah satu pedagang sembako, Ibu Siti (45), yang telah berjualan di pasar tersebut selama lebih dari 10 tahun, mengungkapkan rasa prihatinnya. Ia mengatakan bahwa situasi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang ini benar-benar sepi. Dari pagi buka jam 6 sampai siang jam 11, kadang cuma ada satu dua pembeli saja. Biasanya waktu-waktu begini ramai, tapi sekarang terasa banget bedanya,” keluh Ibu Siti saat ditemui di lapaknya, Rabu (31/7/2025).
Ia juga menambahkan bahwa hasil penjualannya menurun drastis hingga 50 persen sejak bulan lalu. Penghasilan yang didapat kadang tidak cukup untuk menutupi biaya operasional dan kebutuhan rumah tangga.
Persaingan dan Gaya Hidup Baru Jadi Tantangan
Fenomena sepinya pasar tradisional ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap belanja daring (online), kehadiran pasar modern dan minimarket di berbagai pelosok desa, serta menurunnya daya beli akibat tekanan ekonomi.
“Sekarang orang-orang lebih senang belanja di minimarket, katanya lebih praktis dan banyak diskon. Padahal di pasar juga ada barang segar dan bisa ditawar,” ujar Pak Udin, pedagang sayur yang juga mengeluhkan hal serupa.
Tidak hanya itu, pergeseran gaya hidup masyarakat yang lebih memilih kenyamanan dan kecepatan dalam berbelanja turut memperburuk situasi. Banyak warga kini beralih ke aplikasi belanja online yang menawarkan pengantaran langsung ke rumah, tanpa harus repot datang ke pasar.
Harapan Akan Perhatian Pemerintah
Para pedagang berharap ada solusi nyata dari pihak pemerintah daerah. Mereka mengusulkan adanya program revitalisasi pasar, promosi belanja di pasar tradisional, serta peningkatan fasilitas umum di area pasar agar lebih bersih dan nyaman.
“Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, lama-lama pasar ini bisa mati. Padahal pasar tradisional seperti ini kan penting untuk ekonomi rakyat kecil,” tambah Ibu Siti.
Beberapa usulan lain yang juga muncul dari para pedagang adalah penyediaan area parkir yang lebih tertata, kebersihan pasar yang rutin dijaga, serta pelatihan digital marketing agar para pedagang bisa bersaing di era modern.
Potret Nyata Tantangan Ekonomi Rakyat
Pasar tradisional Tanjung Bintang menjadi salah satu potret nyata betapa sektor ekonomi kecil tengah menghadapi tantangan serius. Sepinya aktivitas pasar tidak hanya berdampak pada para pedagang, tetapi juga pada petani, nelayan, dan pelaku UMKM yang menjual hasil produksinya di sana.
Kini para pedagang hanya bisa berharap akan adanya perubahan dalam waktu dekat. Jika tidak ada tindakan nyata, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, pasar tradisional ini akan tinggal nama.
Pasar Tradisional Tanjung Bintang Kian Sepi, Pedagang Mengeluh Sulit Dapat Pembeli
Tanjung Bintang, Lampung Selatan – 31 Juli 2025
Kondisi Pasar Tradisional Tanjung Bintang kian hari kian memprihatinkan. Aktivitas jual beli yang biasanya ramai dengan suara tawar-menawar kini berubah menjadi sepi dan lengang. Banyak pedagang mulai mengeluh karena minimnya pembeli yang datang berbelanja, terutama dalam beberapa minggu terakhir.
Salah satu pedagang sembako, Ibu Siti (45), yang telah berjualan di pasar tersebut selama lebih dari 10 tahun, mengungkapkan rasa prihatinnya. Ia mengatakan bahwa situasi saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Sekarang ini benar-benar sepi. Dari pagi buka jam 6 sampai siang jam 11, kadang cuma ada satu dua pembeli saja. Biasanya waktu-waktu begini ramai, tapi sekarang terasa banget bedanya,” keluh Ibu Siti saat ditemui di lapaknya, Rabu (31/7/2025).
Ia juga menambahkan bahwa hasil penjualannya menurun drastis hingga 50 persen sejak bulan lalu. Penghasilan yang didapat kadang tidak cukup untuk menutupi biaya operasional dan kebutuhan rumah tangga.
Persaingan dan Gaya Hidup Baru Jadi Tantangan
Fenomena sepinya pasar tradisional ini diduga disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap belanja daring (online), kehadiran pasar modern dan minimarket di berbagai pelosok desa, serta menurunnya daya beli akibat tekanan ekonomi.
“Sekarang orang-orang lebih senang belanja di minimarket, katanya lebih praktis dan banyak diskon. Padahal di pasar juga ada barang segar dan bisa ditawar,” ujar Pak Udin, pedagang sayur yang juga mengeluhkan hal serupa.
Tidak hanya itu, pergeseran gaya hidup masyarakat yang lebih memilih kenyamanan dan kecepatan dalam berbelanja turut memperburuk situasi. Banyak warga kini beralih ke aplikasi belanja online yang menawarkan pengantaran langsung ke rumah, tanpa harus repot datang ke pasar.
Harapan Akan Perhatian Pemerintah
Para pedagang berharap ada solusi nyata dari pihak pemerintah daerah. Mereka mengusulkan adanya program revitalisasi pasar, promosi belanja di pasar tradisional, serta peningkatan fasilitas umum di area pasar agar lebih bersih dan nyaman.
“Kalau tidak ada perhatian dari pemerintah, lama-lama pasar ini bisa mati. Padahal pasar tradisional seperti ini kan penting untuk ekonomi rakyat kecil,” tambah Ibu Siti.
Beberapa usulan lain yang juga muncul dari para pedagang adalah penyediaan area parkir yang lebih tertata, kebersihan pasar yang rutin dijaga, serta pelatihan digital marketing agar para pedagang bisa bersaing di era modern.
Potret Nyata Tantangan Ekonomi Rakyat
Pasar tradisional Tanjung Bintang menjadi salah satu potret nyata betapa sektor ekonomi kecil tengah menghadapi tantangan serius. Sepinya aktivitas pasar tidak hanya berdampak pada para pedagang, tetapi juga pada petani, nelayan, dan pelaku UMKM yang menjual hasil produksinya di sana.
Kini para pedagang hanya bisa berharap akan adanya perubahan dalam waktu dekat. Jika tidak ada tindakan nyata, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, pasar tradisional ini akan tinggal nama.






Tinggalkan komentar