Potongan Ojol 8 Persen Dinilai Belum Cukup untuk Sejahterakan Pengemudi

Japur SK

Potongan Ojol 8 Persen Dinilai Belum Cukup untuk Sejahterakan Pengemudi
Potongan Ojol 8 Persen Dinilai Belum Cukup untuk Sejahterakan Pengemudi

Suratkami.comJakarta, kebijakan pembatasan potongan aplikasi ojek online (ojol) maksimal 8 persen sejak Juli 2026 dinilai belum otomatis meningkatkan kesejahteraan pengemudi. Persoalan pendapatan pengemudi tidak hanya ditentukan oleh persentase komisi, tetapi juga jumlah pesanan, tarif, waktu tunggu, biaya operasional, hingga sistem algoritma platform.

Kebijakan tersebut dikaitkan dengan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026. Dengan batas potongan maksimal 8 persen, sebanyak 92 persen omzet transaksi secara teoritis menjadi bagian yang diberikan kepada mitra pengemudi.

Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan klaim bahwa penghasilan pengemudi ojol meningkat dalam pidato kenegaraan di Gedung Parlemen pada 14 Agustus 2026. Namun, kondisi yang dirasakan sejumlah pengemudi di lapangan disebut belum menunjukkan perubahan berarti.

Potongan Ojol 8 Persen Belum Mengubah Pendapatan

Potongan ojol 8 persen menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan kesejahteraan pengemudi platform digital. Kebijakan tersebut secara langsung menyentuh pembagian pendapatan dari setiap transaksi.

Meski demikian, pendapatan bersih pengemudi tidak hanya bergantung pada besarnya potongan aplikasi. Setelah menerima pembayaran dari perjalanan, pengemudi masih harus menanggung berbagai biaya untuk menjalankan pekerjaannya.

Beberapa faktor yang menentukan pendapatan pengemudi antara lain:

  • jumlah pesanan yang diperoleh;
  • tarif perjalanan;
  • waktu yang digunakan untuk menunggu pesanan;
  • bonus dan insentif;
  • biaya bahan bakar;
  • biaya perawatan kendaraan;
  • cicilan kendaraan; serta
  • lamanya waktu berada di jalan.

Karena itu, pengurangan komisi tidak serta-merta membuat uang yang dibawa pulang pengemudi meningkat secara signifikan.

Para pengemudi juga berada dalam ekosistem yang melibatkan konsumen, merchant UMKM, dan platform digital. Konsumen cenderung sensitif terhadap harga, sedangkan merchant membutuhkan lalu lintas pengguna, promosi, serta voucher. Di sisi lain, platform harus menjaga keberlangsungan sistem dan mempertahankan pengguna.

Situasi tersebut membuat perubahan tarif atau pembagian pendapatan menjadi persoalan yang cukup kompleks.

Algoritma Menjadi Bagian Penting dalam Pekerjaan Ojol

Persoalan lain muncul dari ketergantungan pengemudi terhadap algoritma platform. Dalam riset terhadap mitra pengemudi di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta, mayoritas pengemudi menggambarkan pekerjaan mereka sebagai aktivitas yang semakin bergantung pada algoritma.

Algoritma berperan dalam distribusi pesanan. Sementara itu, pengemudi memiliki ruang yang terbatas untuk memengaruhi bagaimana pesanan tersebut diperoleh.

Kondisi tersebut semakin penting karena pekerjaan sebagai pengemudi platform sering menjadi pilihan ketika kesempatan kerja formal terbatas atau seseorang kehilangan pekerjaan. Dengan demikian, pekerjaan ojol dapat berfungsi sebagai semacam bantalan sosial bagi sebagian masyarakat.

Namun, pekerjaan berbasis platform memiliki perbedaan dengan pekerjaan formal. Dalam pekerjaan formal, seseorang dapat memiliki jalur karier dari staf menuju posisi yang lebih tinggi. Pada pekerjaan platform, jalur perkembangan semacam itu jauh lebih kabur.

Terlebih lagi, pengemudi dapat mengalami kesulitan berpindah pekerjaan ketika pilihan mencari nafkah di bidang lain juga terbatas. Akibatnya, mereka tetap bergantung pada platform meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam pekerjaan sehari-hari.

Pemberdayaan Pengemudi Dinilai Penting

Kesejahteraan pengemudi tidak hanya dapat dibahas melalui besarnya komisi. Pemberdayaan dan peningkatan keterampilan juga dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ekonomi digital yang lebih bernilai.

Indonesia disebut memiliki sekitar 7 juta mitra ojol. Mereka memiliki usia dan latar belakang pendidikan yang beragam. Namun, para pengemudi memiliki kemampuan pelayanan pelanggan yang dapat dikembangkan untuk menciptakan nilai lebih.

Pelatihan tertentu bahkan dinilai dapat membuka peluang bagi pengemudi untuk memperoleh akses terhadap segmen pelanggan dengan nilai lebih tinggi. Beberapa bidang keterampilan yang diminati antara lain:

  • bahasa asing;
  • pelayanan pelanggan;
  • literasi digital;
  • peningkatan keterampilan atau upskilling;
  • reskilling;
  • sertifikasi;
  • micro-credential; dan
  • kewirausahaan.

Menariknya, mayoritas pengemudi dalam survei lapangan disebut tidak ingin langsung meninggalkan platform meskipun memperoleh pemberdayaan dan pelatihan. Kondisi tersebut menjadi indikasi adanya loyalitas terhadap platform.

Dengan demikian, pelatihan tidak harus diarahkan untuk membuat pengemudi meninggalkan pekerjaan mereka. Sebaliknya, keterampilan baru dapat membantu meningkatkan kualitas layanan sekaligus membuka peluang pekerjaan atau sumber pendapatan lain.

Perlindungan Kerja Tidak Bisa Hanya Dibebankan kepada Aplikator

Upaya meningkatkan kesejahteraan pengemudi juga membutuhkan keterlibatan pemerintah. Persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya melalui kebijakan internal perusahaan aplikasi.

Pemerintah dinilai perlu menghadirkan aturan dan penegakan hukum terkait transparansi komisi, pelanggaran, serta jaminan sosial. Status pengemudi juga perlu mendapatkan kejelasan dan perlakuan yang adil, baik ketika mereka dipandang sebagai mitra, UMKM, maupun pekerja langsung platform.

Di sisi lain, perguruan tinggi dapat berperan menyediakan program pendidikan singkat yang fleksibel. Pemerintah dapat menghubungkan program tersebut dengan kebijakan ketenagakerjaan dan reskilling.

Industri juga dapat berkontribusi melalui program sertifikasi serta job matching. Kolaborasi tersebut dapat menciptakan jalur bagi pengemudi untuk mengembangkan kemampuan tanpa harus kehilangan akses terhadap pekerjaan yang selama ini menjadi sumber penghasilan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena ekonomi gig tidak seharusnya hanya berorientasi pada layanan dengan harga paling murah. Pengemudi yang memiliki keterampilan lebih baik berpotensi membantu platform mengembangkan layanan yang mengutamakan kualitas dan nilai.

Komisi 8 Persen Bukan Akhir Pembahasan

Pembatasan potongan aplikasi maksimal 8 persen dapat menjadi langkah penting dalam memperbaiki pembagian pendapatan. Namun, angka tersebut tidak cukup menjadi satu-satunya ukuran kesejahteraan pengemudi.

Pendapatan yang layak harus dilihat bersama dengan jumlah pesanan, biaya operasional, kondisi kerja, perlindungan sosial, serta kesempatan untuk berkembang.

Karena itu, perdebatan mengenai potongan ojol 8 persen seharusnya menjadi awal pembahasan yang lebih luas mengenai masa depan pekerja platform. Pembagian pendapatan yang lebih adil tetap penting, tetapi tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap kondisi kerja yang layak.

Kesimpulan

Kesejahteraan pengemudi ojol membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Pengurangan potongan aplikasi dapat membantu memperbaiki pembagian pendapatan, tetapi dampaknya sangat bergantung pada kondisi nyata yang dihadapi pengemudi.

Selain itu, perlindungan sosial, kepastian kondisi kerja, transparansi sistem, serta peningkatan keterampilan perlu berjalan bersamaan. Dengan demikian, ekonomi gig tidak hanya memberi kesempatan kepada masyarakat untuk bekerja, tetapi juga menyediakan ruang bagi mereka untuk berkembang.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Undangan Kredito Agustus 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kode Undangan Kredito Agustus 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kunjungi Artikel