SURATKAMI.COM, JAKARTA – Rupiah melemah ke Rp17.843 per USD pada penutupan perdagangan Senin (22/6/2026). Mata uang Garuda tercatat turun 0,22 persen atau 32 poin dibandingkan posisi sebelumnya di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pelemahan tersebut terjadi ketika pelaku pasar mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang diperkirakan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Di dalam negeri, pasar juga menaruh perhatian pada berbagai risiko inflasi yang dipetakan oleh Bank Indonesia (BI). Faktor eksternal maupun domestik dinilai masih berpotensi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
Rupiah Melemah ke Rp17.843 per USD Dipicu Sentimen Global
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu pemicunya adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memperingatkan Iran mengenai kemungkinan aksi militer lanjutan.
Menurut Ibrahim, pernyataan tersebut muncul ketika jalur diplomasi antara kedua negara kembali dibuka. Wakil Presiden AS JD Vance diketahui memimpin pembicaraan dengan perwakilan Iran di Swiss untuk meredakan ketegangan yang sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, pasar memperoleh sentimen yang lebih positif setelah proses negosiasi menunjukkan perkembangan konstruktif. Harapan terhadap penyelesaian konflik secara diplomatik membuat kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan energi global mulai berkurang.
Selain itu, Teheran disebut memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia. Kebijakan tersebut membantu meredakan tekanan di pasar energi yang sebelumnya sempat memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.
Perundingan AS-Iran Beri Harapan Baru
Perkembangan diplomatik menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor global. Para pejabat tinggi AS dan Iran dilaporkan telah menyelesaikan putaran pertama perundingan di Swiss.
Pembicaraan tersebut merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang dicapai pada pekan lalu. Kesepakatan itu bertujuan memperpanjang gencatan senjata yang masih rapuh sejak April setidaknya selama 60 hari ke depan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa proses perundingan berjalan positif. Bahkan, mediator dari Qatar dan Pakistan menyebut kedua negara telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.
Fokus Pasar pada Kelanjutan Negosiasi
Sementara itu, pembahasan teknis dijadwalkan berlanjut sepanjang pekan ini. Investor berharap proses tersebut dapat menghasilkan kesepakatan yang mampu menjaga stabilitas kawasan dan mengurangi risiko terhadap rantai pasok energi global.
Jika negosiasi berjalan lancar, tekanan terhadap harga minyak dunia berpotensi mereda. Kondisi ini dinilai dapat memberikan ruang yang lebih baik bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Data Ekonomi AS Jadi Perhatian Investor
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Fokus utama tertuju pada revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026 dan data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti atau Core PCE.
Core PCE dikenal sebagai indikator inflasi favorit Federal Reserve. Karena itu, data tersebut sering menjadi acuan utama dalam menentukan arah kebijakan suku bunga AS.
Apabila inflasi masih menunjukkan tekanan yang tinggi, peluang penurunan suku bunga dapat semakin kecil. Sebaliknya, data yang lebih moderat berpotensi membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Karena itu, investor global memilih bersikap hati-hati sambil menunggu hasil rilis data yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Bank Indonesia Waspadai Risiko Inflasi
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko inflasi yang perlu dicermati. Salah satunya berasal dari penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Turbo.
BI menilai kenaikan harga energi berpotensi memberikan kontribusi terhadap inflasi nasional. Selain itu, risiko imported inflation juga menjadi perhatian akibat kenaikan harga minyak dan komoditas global.
Dampak rambatan tersebut terutama dapat dirasakan pada kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah. Oleh sebab itu, perkembangan harga energi internasional akan terus dipantau.
Di sisi lain, BI juga mencermati potensi gangguan cuaca akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung mulai akhir Juni hingga Oktober atau November 2026.
Fenomena tersebut berpotensi menekan produksi pangan dan memicu kenaikan harga pada kelompok volatile food. Meskipun begitu, Deputi Gubernur Senior BI Aida S Budiman menilai risiko dari sisi hulu pertanian masih relatif terkendali karena kapasitas produksi pupuk domestik dinilai memadai.
Bank Indonesia juga memastikan inflasi masih berada dalam jalur sasaran pemerintah dan bank sentral, yakni 2,5±1 persen atau maksimal 3,5 persen.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Berikutnya
Berdasarkan perkembangan terbaru, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berlangsung fluktuatif.
Menurutnya, kombinasi sentimen geopolitik, data ekonomi Amerika Serikat, serta risiko inflasi domestik akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.
Karena itu, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.890 per USD pada perdagangan selanjutnya. Investor pun diperkirakan tetap berhati-hati sambil menunggu kepastian dari berbagai perkembangan global yang masih dinamis.





