Saham Bank Besar Menguat Usai BI Rate Naik ke 5,25 Persen

Dwi Prakoso

Saham Bank Besar Menguat Usai BI Rate Naik ke 5,25 Persen

Suratkami.com, Jakarta – Saham bank besar menguat pada perdagangan Rabu (20/5/2026) setelah Bank Indonesia (BI) secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Keputusan tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar. Investor menilai langkah agresif BI akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung kinerja sektor perbankan nasional.

Saham bank besar menguat karena kenaikan suku bunga berpotensi memperlebar margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Selain itu, kebijakan ini memperkuat keyakinan pasar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di tengah gejolak global.

Saham Bank Besar Menguat di Bursa Efek Indonesia

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 14.43 WIB, mayoritas saham perbankan berkapitalisasi jumbo berada di zona hijau.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat kenaikan tertinggi di antara bank besar. Saham BMRI melonjak 2,66 persen ke level Rp4.240 per saham.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI juga menguat 1,05 persen menjadi Rp3.850 per saham.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI naik 0,99 persen. Adapun saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA ikut menguat 0,42 persen.

Kondisi ini menunjukkan bahwa saham bank besar menguat sebagai respons langsung atas kebijakan moneter yang lebih ketat dari perkiraan pasar.

BI Rate Naik 50 Basis Poin ke 5,25 Persen

Bank Indonesia resmi menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama sejak April 2024.

Keputusan tersebut lebih agresif dibanding ekspektasi mayoritas ekonom. Dari 29 ekonom yang disurvei Reuters, sebanyak 16 ekonom memprediksi BI hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Sementara itu, survei The Wall Street Journal menunjukkan lima dari sembilan ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga. Sisanya memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin.

Selain BI Rate, bank sentral juga menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 basis poin menjadi 4,25 persen.

Di sisi lain, suku bunga Lending Facility juga naik 50 basis poin menjadi 6 persen.

Alasan BI Menaikkan Suku Bunga

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026.

“Hasil RDG 19-20 Mei 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta.

Menurut dia, langkah ini merupakan upaya untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Gejolak tersebut terutama dipicu oleh konflik di Timur Tengah yang memengaruhi pasar keuangan dan pergerakan mata uang.

Selain itu, BI ingin memastikan inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dampak Kenaikan BI Rate terhadap Saham Perbankan

Analis menilai saham bank besar menguat karena sektor perbankan umumnya memperoleh manfaat dari kenaikan suku bunga.

Bank dapat menyesuaikan bunga kredit lebih cepat dibanding kenaikan biaya dana. Karena itu, margin bunga bersih berpotensi meningkat dalam jangka pendek.

Namun, dampak terhadap laba bersih tetap bergantung pada beberapa faktor penting.

Beberapa faktor tersebut meliputi:

  • Kecepatan repricing kredit.
  • Kenaikan biaya dana atau cost of fund.
  • Pertumbuhan penyaluran kredit.
  • Kualitas aset dan rasio kredit bermasalah.

Jika bank mampu menjaga pertumbuhan kredit dan kualitas aset, kinerja keuangan diperkirakan tetap solid.

Sentimen Positif untuk Pasar Saham

Kenaikan BI Rate menunjukkan komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah ini dinilai penting untuk menahan tekanan terhadap rupiah dan mengendalikan inflasi.

Selain itu, kebijakan yang tegas memberikan sinyal positif kepada investor bahwa bank sentral siap merespons risiko global secara cepat.

Karena itu, saham bank besar menguat dan menjadi salah satu sektor yang paling diuntungkan dari perubahan kebijakan moneter tersebut.

Ke depan, investor akan mencermati apakah kenaikan suku bunga ini benar-benar mampu menjaga stabilitas rupiah tanpa mengganggu pertumbuhan kredit.

Jika kondisi ekonomi tetap terjaga, sektor perbankan berpotensi mempertahankan momentum positif hingga paruh kedua 2026.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Bank Saqu Mei 2026, Raih Bonus Saldo dengan Cara Ini!

Kode Referral Bank Saqu Mei 2026, Raih Bonus Saldo dengan Cara Ini!

Kunjungi Artikel