Suratkami.com – Jakarta – Tempo Scan gandeng Sino Biopharmaceutical melalui kerja sama strategis untuk mengembangkan obat inovatif, terutama obat kanker, di Indonesia. Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memperkuat industri farmasi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor yang selama ini masih mendominasi pasar.
Kerja sama tersebut dilakukan oleh PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) bersama Sino Biopharmaceutical Group (SBP Group), perusahaan farmasi besar asal China. Kedua perusahaan membentuk perusahaan patungan bernama PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia (TCBI) untuk mengembangkan berbagai produk biofarmasi bernilai tinggi di dalam negeri.
Pemerintah menyambut positif investasi tersebut karena dinilai sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan sektor kesehatan nasional. Selain itu, kolaborasi ini juga diharapkan mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kapasitas produksi, dan memperluas akses masyarakat terhadap obat-obatan modern dengan harga yang lebih terjangkau.
Tempo Scan Gandeng Sino Biopharmaceutical Perkuat Industri Farmasi Nasional
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan industri farmasi nasional sebagai bagian dari strategi membangun ekosistem kesehatan yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing.
Menurutnya, Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap kemandirian sektor farmasi. Karena itu, pemerintah terus membuka peluang kerja sama antara perusahaan nasional dengan mitra global agar Indonesia mampu memproduksi lebih banyak obat inovatif di dalam negeri.
Airlangga mengapresiasi keberhasilan PT Tempo Scan Pacific Tbk menggandeng Sino Biopharmaceutical Group melalui Chia Tai Tianqing Pharmaceutical Group (CTTQ). Ia menilai pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia merupakan langkah strategis yang datang pada waktu yang tepat.
“Saya ucapkan selamat, dan keberhasilan PT Tempo Scan mengandeng Sino Bio Farmasi (Sino Biopharmaceutical Group), ini merupakan hal yang luar biasa dan juga ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap prospek perekonomian di Indonesia. Joint Venture dengan Chia Tai Tianqing Farmasi (CTTQ) ini tepat waktu, karena Bapak Presiden selalu mengharapkan kita punya kemandirian di bidang obat-obatan,” ujar Airlangga dalam peresmian pembentukan TCBI di Jakarta.
Menurut Airlangga, kerja sama tersebut tidak hanya menghadirkan investasi baru. Namun, kolaborasi ini juga menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki prospek yang menarik bagi perusahaan farmasi global untuk mengembangkan bisnis dan inovasi kesehatan.
Fokus Kembangkan Obat Kanker dan Produk Biofarmasi
Melalui perusahaan patungan tersebut, Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical akan mengembangkan berbagai produk biofarmasi yang memiliki nilai tinggi. Fokus utamanya adalah memenuhi kebutuhan terapi penyakit yang selama ini masih bergantung pada produk impor.
Beberapa jenis penyakit yang menjadi prioritas pengembangan meliputi:
- Obat kanker atau onkologi.
- Penyakit hati atau liver.
- Diabetes.
- Penyakit pernapasan.
- Obat antiinfeksi.
Selain itu, perusahaan juga akan memproduksi berbagai produk biologis modern, antara lain:
- Antibodi monoklonal.
- Biosimilar.
- Protein rekombinan.
- Sitokin.
- Insulin biologis.
Produk-produk tersebut selama ini sebagian besar masih diimpor dari luar negeri dengan harga yang relatif tinggi. Karena itu, produksi di Indonesia diharapkan mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap terapi modern sekaligus memperkuat industri farmasi nasional.
Airlangga menegaskan hadirnya fasilitas biofarmasi baru akan memberikan nilai tambah bagi Indonesia. Di sisi lain, langkah tersebut juga diharapkan dapat mengurangi beban impor obat-obatan berteknologi tinggi.
“Harapannya, dengan biofarmasi ini, kita punya tambahan kemandirian di bidang obat-obatan yang selama ini bergantung kepada impor, dan tentunya obat-obat yang akan diproduksi ini termasuk obat-obat impor yang relatif mahal,” katanya.
Kolaborasi Strategis Percepat Transfer Teknologi
Pemerintah menilai kolaborasi antara Tempo Scan dan Sino Biopharmaceutical tidak hanya berfokus pada produksi obat. Lebih dari itu, kerja sama ini juga akan mempercepat transfer teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan kemampuan manufaktur dalam negeri.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan bahwa pembentukan PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia menggabungkan dua kekuatan besar dari masing-masing perusahaan.
Tempo Scan memiliki pengalaman panjang dalam bidang manufaktur farmasi nasional. Di sisi lain, Sino Biopharmaceutical melalui CTTQ memiliki kapasitas riset dan pengembangan produk biofarmasi yang telah diakui secara internasional.
Menurut Haryo, kombinasi tersebut menjadi modal penting untuk mempercepat pengembangan industri biofarmasi Indonesia.
“Tadi Bapak Menko sudah jelaskan, bahwa ini merupakan hal yang sangat strategis untuk menambah kemandirian produksi karena manufacturing-nya di Grup Tempo dan produknya dari Grup CTTQ. Kolaborasi ini menjadi contoh kemitraan yang sangat strategis,” ujarnya.
Selain memperkuat produksi, kerja sama tersebut juga diharapkan memperkokoh rantai pasok industri farmasi nasional. Dengan demikian, Indonesia memiliki kemampuan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan obat modern tanpa harus bergantung sepenuhnya pada impor.
Dampak Positif bagi Kesehatan dan Ekonomi Indonesia
Kehadiran PT Tempo CTTQ Biopharmaceutical Indonesia diperkirakan memberikan manfaat yang luas bagi sektor kesehatan maupun perekonomian nasional. Selain membuka peluang investasi baru, proyek ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kemampuan teknologi industri farmasi Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat diharapkan memperoleh akses yang lebih baik terhadap obat-obatan biologis dengan harga yang lebih kompetitif. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun sistem kesehatan yang lebih mandiri.
Jika pengembangan berjalan sesuai rencana, Indonesia dapat memperkuat posisi sebagai salah satu pusat produksi biofarmasi di kawasan Asia Tenggara. Karena itu, kolaborasi ini dinilai menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri farmasi nasional dalam jangka panjang.
Melalui langkah Tempo Scan gandeng Sino Biopharmaceutical, pemerintah optimistis target kemandirian obat-obatan nasional dapat tercapai secara bertahap. Selain mengurangi impor, kerja sama ini juga membuka peluang lahirnya inovasi biofarmasi yang mampu meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.





