Saham Sawit Melonjak, Prospek CPO Terdorong B50

Dwi Prakoso

Suratkami.com – Saham sawit melonjak signifikan pada perdagangan Selasa (14/4/2026), didorong sentimen positif prospek harga crude palm oil (CPO) dan kebijakan biodiesel B50 yang segera berlaku.

Pergerakan saham sektor perkebunan kembali mencuri perhatian pelaku pasar. Dalam beberapa hari terakhir, saham berbasis minyak kelapa sawit menunjukkan tren penguatan yang konsisten, bahkan sebagian mencatatkan lonjakan dua digit. Kondisi ini memperkuat optimisme investor terhadap sektor agribisnis, khususnya emiten penghasil crude palm oil (CPO).

Momentum kenaikan ini tidak terjadi tanpa alasan. Selain faktor teknikal, sentimen fundamental dari kebijakan energi nasional turut mendorong minat beli. Pemerintah yang akan menerapkan mandatori biodiesel B50 mulai Juli 2026 dinilai menjadi katalis utama bagi prospek industri sawit dalam jangka menengah hingga panjang.

Di sisi lain, dinamika global seperti harga minyak mentah dan kondisi geopolitik turut memengaruhi arah pergerakan harga minyak nabati, termasuk CPO. Kombinasi faktor domestik dan eksternal ini menjadikan sektor sawit kembali menjadi primadona di pasar saham.

Saham Sawit Melonjak Serentak

Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), mayoritas saham emiten sawit bergerak menguat pada sesi pagi. Penguatan dipimpin oleh PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang melonjak 17,20 persen ke level Rp920 per saham.

Kenaikan ini melanjutkan reli signifikan sehari sebelumnya, sekaligus memperpanjang tren positif menjadi lima hari berturut-turut. Lonjakan tajam tersebut mencerminkan tingginya minat investor terhadap saham berbasis CPO.

Saham lainnya juga mengikuti tren serupa. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) menguat 7,10 persen ke Rp1.660, sementara PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) naik 6,28 persen ke Rp2.520.

Tidak hanya itu, sejumlah emiten lain seperti PT Gozco Plantations Tbk (GZCO), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), hingga PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) turut mencatatkan penguatan yang cukup solid.

Sentimen B50 Dorong Prospek CPO

Kebijakan mandatori biodiesel B50 menjadi salah satu faktor utama yang mengerek optimisme terhadap sektor sawit. Program ini mewajibkan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis minyak sawit dalam solar, yang akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

Riset dari Indo Premier Sekuritas menyebutkan bahwa implementasi B50 berpotensi menyerap sekitar 3 juta ton CPO per tahun. Angka tersebut setara dengan sekitar 4 persen dari total permintaan global, sehingga berpotensi memperketat pasokan dan mendorong kenaikan harga.

Untuk tahun 2026, harga rata-rata CPO diproyeksikan mencapai MYR4.600 per ton, meningkat sekitar 13 persen dari estimasi sebelumnya. Bahkan, dalam periode 2027 hingga 2028, harga diperkirakan dapat menembus MYR5.000 per ton.

Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global. Dukungan subsidi serta kenaikan pungutan ekspor turut menjadi faktor pendukung keberlanjutan program tersebut.

Proyeksi Kinerja Emiten Sawit

Seiring dengan prospek harga yang semakin kuat, kinerja keuangan emiten sawit diperkirakan ikut terdongkrak. Indo Premier menaikkan estimasi laba sektor ini sebesar 15 hingga 20 persen untuk periode 2026 hingga 2027.

Pertumbuhan laba sektor diproyeksikan mencapai 13 persen pada 2026 dan tetap tumbuh pada 2027 meskipun dalam laju yang lebih moderat. Faktor biaya seperti pupuk dan pembelian eksternal masih menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.

Namun demikian, pada 2028, laba inti sektor diperkirakan kembali meningkat sekitar 6 persen. Hal ini didukung oleh potensi penurunan biaya produksi serta stabilisasi volume produksi tandan buah segar (FFB).

Secara keseluruhan, pertumbuhan laba sektor sawit diperkirakan mencapai rata-rata 7 persen per tahun dalam periode 2025 hingga 2028. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan dibandingkan proyeksi sebelumnya yang cenderung stagnan.

Pergerakan Global Masih Jadi Faktor Risiko

Meski prospek jangka menengah terlihat cerah, pergerakan harga CPO tetap dipengaruhi oleh dinamika global. Pada perdagangan terbaru, kontrak berjangka CPO di Malaysia justru mengalami koreksi lebih dari 1 persen.

Penurunan ini dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah serta minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai. Selain itu, munculnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran turut meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Kondisi ini membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel dalam jangka pendek. Pasalnya, harga minyak mentah yang lebih rendah dapat menekan permintaan alternatif energi seperti biodiesel berbasis CPO.

Di sisi lain, harga minyak nabati global memang saling berkaitan. Pergerakan minyak kedelai di pasar internasional, termasuk di Dalian dan Chicago, turut memengaruhi harga minyak sawit karena keduanya bersaing dalam pasar yang sama.

Kesimpulan

Saham sawit melonjak didorong kombinasi sentimen positif dari kebijakan B50 dan prospek kenaikan harga CPO global. Meskipun masih dibayangi risiko eksternal, sektor ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang menarik.

Dengan valuasi yang relatif murah dan proyeksi kinerja yang meningkat, saham-saham berbasis minyak sawit berpeluang kembali menjadi pilihan utama investor di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Cara Melihat Kode Referral Bank Saqu Mei 2026 dan Nikmati Promo Pengguna Baru

Cara Melihat Kode Referral Bank Saqu Mei 2026 dan Nikmati Promo Pengguna Baru

Kunjungi Artikel