Harga Minyak Dunia Volatil Dipicu Ketegangan Selat Hormuz

Dwi Prakoso

grafik harga minyak dunia volatil akibat konflik Selat Hormuz

Suratkami.com – Jakarta – Harga minyak dunia volatil kembali menjadi sorotan pasar global setelah ketegangan di Selat Hormuz memanas dalam beberapa hari terakhir. Jalur pelayaran strategis tersebut mengalami buka-tutup yang memicu ketidakpastian di pasar energi internasional.

Pada awal pekan ini, harga minyak dunia volatil terlihat dari lonjakan harga yang signifikan dalam perdagangan Asia, Senin (20/4/2026). Kenaikan ini terjadi setelah insiden militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Sementara itu, pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi kedua negara yang belum menunjukkan kepastian. Meski ada klaim kemajuan, situasi di lapangan tetap berisiko tinggi dan berpotensi mengganggu stabilitas harga energi.

Harga Minyak Dunia Volatil Akibat Konflik Selat Hormuz

Harga minyak dunia volatil dipicu oleh dinamika geopolitik yang belum mereda, terutama terkait kontrol Iran atas Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia.

Pada akhir pekan lalu, Iran sempat membuka akses pelayaran. Namun, tidak lama kemudian kembali menutupnya dengan alasan adanya pelanggaran kesepakatan oleh Amerika Serikat. Kondisi ini langsung berdampak pada distribusi minyak global.

Selain itu, laporan menyebutkan bahwa Amerika Serikat menyita kapal berbendera Iran yang hendak menuju pelabuhan Bandar Abbas. Insiden tersebut semakin memperkeruh hubungan kedua negara.

Akibatnya, pasar merespons dengan cepat. Harga minyak mentah jenis WTI melonjak sekitar 8 persen ke USD90,53 per barel. Sementara itu, Brent naik 6,7 persen ke USD96,45 per barel pada awal perdagangan pekan ini.

Pergerakan Harga Minyak Masih Fluktuatif

Meski mengalami lonjakan, harga minyak dunia volatil juga tercermin dari pergerakan tajam sebelumnya. Pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga minyak justru anjlok cukup dalam.

Kontrak Brent turun lebih dari 9 persen ke USD90,38 per barel. Di sisi lain, WTI bahkan merosot hingga 11,45 persen ke USD83,85 per barel. Penurunan ini menunjukkan tingginya ketidakpastian pasar.

Analis dari ANZ Research menilai kondisi saat ini sangat kompleks. Menurut mereka, pemulihan pasar energi ke kondisi normal tidak akan mudah, bahkan jika jalur pelayaran kembali dibuka sepenuhnya.

Pola Perdagangan “Sell on Rally”

Dalam kondisi harga minyak dunia volatil, pelaku pasar cenderung menggunakan strategi jangka pendek. Salah satu pola yang muncul adalah “sell on rally” dan “buy on dip”.

Artinya, investor cenderung menjual saat harga naik dan membeli saat harga turun. Strategi ini mencerminkan ketidakpastian arah tren dalam jangka menengah.

Selain itu, volatilitas tinggi membuat risiko perdagangan meningkat. Oleh karena itu, investor perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Analisis Teknikal dan Level Penting

Secara teknikal, tren utama minyak mentah jenis WTI masih berada dalam fase penurunan. Harga saat ini tengah menguji area support penting di kisaran USD79,73 hingga USD78,97 per barel.

Jika level tersebut ditembus, potensi penurunan bisa berlanjut ke USD73,56. Bahkan, harga bisa mendekati rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar USD65,49.

Namun, jika terjadi rebound, ada beberapa level resistance yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • USD91,66 sebagai resistance awal
  • USD94,65 sebagai resistance lanjutan
  • Area psikologis di atas USD95 per barel

Dengan kondisi ini, arah harga masih sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan sentimen pasar global.

Gangguan Pasokan Tekan Pasar Energi

Di sisi fundamental, harga minyak dunia volatil juga dipengaruhi oleh gangguan pasokan yang signifikan. Konflik Iran disebut telah mengurangi pasokan minyak global dalam jumlah besar.

Data menunjukkan lebih dari 500 juta barel minyak dan kondensat keluar dari pasar sejak akhir Februari. Ini menjadi salah satu gangguan terbesar dalam sejarah energi modern.

Selain itu, produksi global juga masih tertekan. Gangguan pasokan diperkirakan mencapai sekitar 12 juta barel per hari.

Sementara itu, pemulihan produksi tidak bisa dilakukan secara cepat. Beberapa ladang minyak di Kuwait dan Irak bahkan membutuhkan waktu hingga lima bulan untuk kembali normal.

Di sisi lain, ketergantungan dunia terhadap jalur Selat Hormuz membuat situasi semakin sensitif. Setiap eskalasi kecil dapat langsung berdampak pada harga.

Karena itu, harga minyak dunia volatil diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan data fundamental yang terus berubah.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral SpayLater Mei 2026, Dapat 40.000 Koin Shopee!

Kode Referral SpayLater Mei 2026, Dapat 40.000 Koin Shopee!

Kunjungi Artikel