Suratkami.com, Jakarta – saham kesehatan melonjak tajam di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Kenaikan ini dipicu sentimen global terkait munculnya kasus virus Hanta atau hantavirus yang kembali menjadi perhatian dalam beberapa hari terakhir.
Investor memburu saham-saham farmasi, alat kesehatan, laboratorium, hingga rumah sakit. Akibatnya, sejumlah emiten kesehatan mencatat lonjakan signifikan, bahkan beberapa di antaranya menyentuh auto rejection atas (ARA).
Pergerakan ini mengingatkan pasar pada awal pandemi Covid-19. Saat itu, saham sektor kesehatan menjadi primadona karena ekspektasi meningkatnya permintaan layanan medis dan produk farmasi.
Saham Kesehatan Melonjak hingga Auto Rejection Atas
Salah satu emiten yang mencuri perhatian adalah PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS). Saham MEDS melonjak 34,48 persen ke level Rp117 per saham dan langsung menyentuh ARA. Dalam sepekan, saham ini telah menguat 51,95 persen.
Selain itu, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA) juga naik 25 persen ke Rp510 per saham. PT Phapros Tbk (PEHA) menguat 24,83 persen ke Rp372, sementara PT Kimia Farma Tbk (KAEF) melonjak 24,51 persen ke level Rp635 per saham.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah emiten lain, seperti:
- PT Royal Prima Tbk (PRIM) naik 9,88 persen
- PT Haloni Jane Tbk (HALO) menguat 8,64 persen
- PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) naik 7,86 persen
- PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk (DGNS) menguat 6,67 persen
- PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) naik 6,62 persen
- PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) bertambah 5,67 persen
- PT Bundamedik Tbk (BMHS) menguat 4,86 persen
Lonjakan ini menunjukkan bahwa saham kesehatan melonjak hampir merata di berbagai subsektor, mulai dari farmasi hingga layanan kesehatan.
Sentimen Virus Hanta Dorong Spekulasi Investor
Perhatian terhadap virus Hanta meningkat setelah laporan kasus pada kapal pesiar MV Hondius. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melaporkan delapan kasus yang terkait dengan kapal tersebut, termasuk tiga kematian.
Dari total kasus, lima telah dipastikan sebagai Andes virus. Jenis ini dikenal sebagai satu-satunya hantavirus yang dapat menular antarmanusia secara terbatas melalui kontak dekat dalam waktu lama.
Meski begitu, WHO menilai risiko kesehatan masyarakat global masih rendah. Organisasi tersebut menegaskan belum ada indikasi bahwa virus ini berkembang menjadi ancaman pandemi berskala luas.
Namun, pasar saham sering kali merespons cepat terhadap potensi risiko kesehatan. Karena itu, saham kesehatan melonjak lebih karena ekspektasi dan spekulasi jangka pendek.
Kemenkes Pastikan Dua Suspek di Indonesia Negatif
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengonfirmasi sempat terdapat dua suspek virus Hanta di Indonesia, yakni di Jakarta dan Yogyakarta.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan kedua pasien tersebut kini telah dinyatakan negatif dan sudah sembuh.
“Benar ada dua suspek. Tapi hari ini saya dapat info keduanya sudah negatif dan sembuh,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat screening dan surveillance.
Menurutnya, langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi apabila terjadi peningkatan kasus di berbagai negara.
Mengapa Saham Kesehatan Melonjak?
Pola Mirip Awal Pandemi Covid-19
Analis menilai reli kali ini lebih banyak ditopang sentimen dibanding perubahan fundamental perusahaan.
Saat muncul isu penyakit menular, investor biasanya memburu emiten yang bergerak di bidang:
- Farmasi
- Alat kesehatan
- Laboratorium diagnostik
- Rumah sakit
- Distribusi produk medis
Selain itu, saham berkapitalisasi kecil cenderung mengalami kenaikan paling agresif karena pergerakannya lebih sensitif terhadap sentimen pasar.
Namun, volatilitas tinggi juga meningkatkan risiko koreksi tajam apabila sentimen mereda.
Investor Perlu Waspadai Risiko Aksi Ambil Untung
Meski saham kesehatan melonjak dalam satu hari perdagangan, investor tetap perlu berhati-hati. Hingga saat ini, belum ada status darurat kesehatan global yang ditetapkan terkait virus Hanta.
Karena itu, kenaikan harga saham berpotensi bersifat sementara. Jika kekhawatiran pasar mulai mereda, aksi ambil untung dapat terjadi dalam waktu singkat.
Di sisi lain, emiten yang naik tajam tanpa dukungan fundamental yang kuat berisiko mengalami penurunan signifikan.
Investor disarankan untuk mencermati laporan keuangan, prospek bisnis, serta valuasi perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi. Dengan demikian, potensi keuntungan dapat diimbangi dengan pengelolaan risiko yang lebih baik.





