Saham BBCA Menguat, Buyback dan Dividen Jadi Penopang

Dwi Prakoso

Saham BBCA Menguat, Buyback dan Dividen Jadi Penopang

Suratkami.com, Jakarta – Saham BBCA menguat signifikan sepanjang pekan ini dan menarik perhatian pelaku pasar. Penguatan tersebut terjadi di tengah kondisi pasar saham yang masih dibayangi sentimen global.

Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat naik 5,56 persen dalam sepekan. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya tumbuh 0,18 persen.

Penguatan saham BBCA menguat ini dinilai tidak lepas dari kombinasi valuasi yang semakin menarik, program buyback saham, serta kebijakan pembagian dividen secara kuartalan. Faktor-faktor tersebut menjadi katalis positif bagi investor yang mencari saham berfundamental kuat.

Saham BBCA Menguat Setelah Sempat Menyentuh Titik Terendah

Sebelumnya, saham BBCA sempat terkoreksi hingga Rp5.850 per saham. Level itu menjadi posisi terendah sepanjang 2026 sekaligus titik terendah sejak 4 November 2020.

Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Saat ini, harga saham BBCA kembali bergerak di atas level psikologis Rp6.000 per saham.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minat beli mulai meningkat. Selain itu, investor melihat koreksi harga sebelumnya sebagai peluang akumulasi.

Berdasarkan riset Indo Premier Sekuritas yang disusun Jovent Muliadi dan Axel Azriel, valuasi BBCA kini berada di bawah rata-rata historisnya.

PBV BBCA tercatat sekitar 2,7 kali. Sementara itu, PER 2026 diperkirakan berada di kisaran 13 kali.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rerata 10 tahun terakhir. Secara historis, BBCA diperdagangkan pada PBV 3,8 kali dan PER 20,9 kali.

Buyback Saham Jadi Sinyal Kepercayaan Manajemen

Program buyback menjadi salah satu alasan utama saham BBCA menguat. BCA telah memulai pembelian kembali saham sejak 28 April 2026.

Program tersebut akan berlangsung hingga 11 Maret 2027. Total dana yang disiapkan mencapai maksimal Rp5 triliun.

Head of Research MNC Sekuritas, Victoria Venny, menilai buyback menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.

Menurut dia, harga saham BBCA saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental perusahaan yang masih solid.

“Di tengah kinerja yang tetap solid dari BCA, tekanan terhadap valuasi memang membuat adanya diskoneksi antara fundamental dan harga. Namun BCA tidak tinggal diam, mereka menjalankan buyback,” ujar Victoria Venny.

Selain menjadi sinyal positif, buyback juga berfungsi sebagai buffer ketika tekanan jual meningkat. Dengan demikian, perusahaan dapat membantu menjaga stabilitas harga saham di pasar.

Dividen Kuartalan Menambah Daya Tarik Investor

Selain buyback, kebijakan pembagian dividen kuartalan turut mendukung saham BBCA menguat. Strategi ini memberikan arus kas yang lebih rutin bagi pemegang saham.

Investor pun memiliki visibilitas cash flow yang lebih jelas. Di tengah volatilitas pasar, kepastian dividen menjadi faktor yang sangat diperhatikan.

Victoria menilai langkah ini mencerminkan komitmen BCA untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham.

Manfaat Dividen Kuartalan bagi Investor

Beberapa keuntungan pembagian dividen kuartalan antara lain:

  • Memberikan pemasukan yang lebih rutin.
  • Menambah kepastian arus kas investor.
  • Menjaga minat beli saham saat pasar bergejolak.
  • Meningkatkan daya tarik dividend yield.
  • Menunjukkan disiplin alokasi modal perusahaan.

Selain itu, valuasi yang lebih murah membuat tingkat imbal hasil dividen terlihat semakin menarik.

Fundamental BCA Tetap Solid di Kuartal I-2026

Kinerja operasional BCA tetap menunjukkan stabilitas. Hingga akhir Maret 2026, total kredit mencapai Rp994 triliun.

Angka tersebut tumbuh 6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di level 1,8 persen.

BCA juga mencatat laba bersih Rp14,7 triliun pada kuartal I-2026. Nilai ini tumbuh 4 persen secara tahunan.

Pendapatan bunga bersih mencapai Rp21,2 triliun. Sementara itu, pendapatan non-bunga naik 16 persen menjadi Rp6,7 triliun.

Beban operasional tercatat Rp8,5 triliun. Adapun beban pencadangan sebesar Rp1,2 triliun disiapkan sebagai langkah antisipatif untuk memperkuat manajemen risiko.

Peluang Rerating Saham Masih Terbuka

Dengan fundamental yang tetap kokoh, saham BBCA menguat didukung oleh sentimen korporasi yang kuat. Valuasi yang lebih rendah juga membuka peluang rerating apabila tekanan eksternal mulai mereda.

Kombinasi buyback saham dan dividen kuartalan menjadi bukti bahwa manajemen BCA mengambil langkah proaktif. Strategi tersebut bertujuan menjaga kepercayaan investor sekaligus menciptakan nilai jangka panjang.

Bagi investor, kondisi ini memberikan sinyal bahwa BBCA masih menjadi salah satu saham perbankan unggulan di pasar modal Indonesia. Jika sentimen global membaik, potensi penguatan saham BBCA dinilai masih cukup terbuka.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Promo Maxim Terbaru Mei 2026: Klaim Saldo 100 Ribu untuk Pengguna Baru

Kode Promo Maxim Terbaru Mei 2026: Klaim Saldo 100 Ribu untuk Pengguna Baru

Kunjungi Artikel