Refleksi Ekstensifikasi Lahan Pertanian Papua terhadap Biodiversitas Indonesia dan Paru-Paru Dunia

Japur SK

suratkami com 1779435710

Refleksi Ekstensifikasi Lahan Pertanian Papua terhadap Biodiversitas Indonesia dan Paru-Paru Dunia

Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 22 Mei

Oleh: Syahid Mujibur Rahman, M.Pd.

Pemerhati Lingkungan dan Guru Geografi

Tanggal 22 Mei diperingati dunia sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. Momentum ini menjadi pengingat penting bahwa keberagaman hayati bukan sekadar kekayaan alam, melainkan fondasi kehidupan manusia. Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki tanggung jawab besar menjaga ekosistemnya, terutama hutan Papua yang saat ini menghadapi ancaman serius akibat ekstensifikasi lahan pertanian skala besar.

Papua merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di dunia. Wilayah ini dikenal sebagai rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna endemik, mulai dari burung cenderawasih, kanguru pohon, kasuari, hingga berbagai jenis anggrek hutan tropis yang tidak ditemukan di tempat lain di bumi. Tidak berlebihan jika Papua disebut sebagai salah satu “paru-paru dunia” karena perannya dalam menyerap karbon dan menjaga kestabilan iklim global.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, kawasan hutan Papua mulai mengalami tekanan besar akibat proyek pembukaan lahan pertanian dan food estate. Pemerintah menargetkan pengembangan kawasan pertanian skala luas di Merauke, Papua Selatan, sebagai bagian dari program ketahanan pangan nasional. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023, proyek tersebut menargetkan pembukaan lahan hingga sekitar 700 ribu hektare.

Data berbagai lembaga lingkungan menunjukkan bahwa dampak ekologis mulai terlihat secara nyata. Laporan pemantauan citra satelit menunjukkan sekitar 22 ribu hektare lahan di Merauke telah mengalami konversi untuk proyek pertanian sejak 2024–2025. Bahkan angka deforestasi Papua meningkat tajam menjadi sekitar 77 ribu hektare pada tahun 2025, naik drastis dibanding tahun sebelumnya.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar terhadap masa depan biodiversitas Indonesia. Pembukaan hutan primer secara masif akan menyebabkan hilangnya habitat satwa endemik Papua. Banyak spesies di Papua memiliki wilayah hidup yang sangat terbatas sehingga perubahan kecil pada ekosistem dapat menyebabkan penurunan populasi bahkan kepunahan.

Selain itu, pembukaan lahan juga berdampak pada rusaknya sistem ekologis hutan hujan tropis. Hutan Papua memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air, pengatur iklim, penahan erosi, dan penyerap karbon dunia. Ketika hutan ditebang untuk pertanian monokultur, maka kemampuan alam menyerap emisi karbon ikut menurun. Sejumlah kajian bahkan memperkirakan bahwa proyek food estate di Papua berpotensi meningkatkan emisi karbon dalam jumlah sangat besar akibat hilangnya tutupan hutan alami.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah ancaman terhadap masyarakat adat Papua. Bagi masyarakat lokal, hutan bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga ruang budaya, spiritual, dan identitas kehidupan. Hilangnya hutan berarti hilangnya sumber pangan tradisional, tanaman obat, hingga rusaknya relasi budaya masyarakat dengan alam.

Di sisi lain, kebutuhan ketahanan pangan nasional memang menjadi tantangan nyata di tengah pertumbuhan penduduk dan ancaman krisis pangan global. Namun pembangunan pertanian seharusnya tidak dilakukan dengan mengorbankan kawasan hutan primer yang memiliki nilai ekologis sangat tinggi. Pendekatan pembangunan berkelanjutan perlu lebih dikedepankan melalui optimalisasi lahan yang sudah ada, pertanian ramah lingkungan, agroforestri, dan perlindungan kawasan konservasi.

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan kepentingan ekonomi dari keberlanjutan lingkungan. Ketahanan pangan dan ketahanan ekologis harus berjalan beriringan. Sebab ketika biodiversitas rusak, manusia sesungguhnya sedang menghancurkan fondasi kehidupannya sendiri.

Papua bukan sekadar wilayah administratif Indonesia bagian timur. Papua adalah benteng terakhir biodiversitas tropis dunia. Menjaga hutan Papua berarti menjaga keseimbangan iklim bumi, mempertahankan kekayaan hayati Indonesia, dan mewariskan kehidupan yang layak bagi generasi masa depan.

“Ketika hutan terakhir ditebang dan sungai terakhir tercemar, manusia baru menyadari bahwa uang tidak dapat dimakan.”

— Artikel dikirim oleh: SMR ([email protected])

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral ShopeePay Mei 2026, Klaim Saldo Rp5.000 Khusus Pengguna Baru!

Kode Referral ShopeePay Mei 2026, Klaim Saldo Rp5.000 Khusus Pengguna Baru!

Kunjungi Artikel