SURATKAMI.COM, Jakarta – Divestasi SBG menjadi langkah besar yang disiapkan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) pada 2026. Perseroan berencana melepas hampir seluruh kepemilikan saham anak usahanya, PT Sintesa Bara Gemilang Tbk (SBG), sebagai bagian dari transformasi bisnis jangka panjang.
Langkah tersebut diumumkan setelah Astrindo menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Indo Panca Borneo (IPB) pada 21 Mei 2026. Melalui transaksi ini, Astrindo akan menjual 99,90 persen saham SBG kepada pihak nonafiliasi tersebut.
Nilai transaksi divestasi SBG mencapai Rp1,79 triliun. Dana segar itu nantinya akan digunakan untuk memperkuat ekspansi usaha sekaligus mendukung perubahan portofolio bisnis perseroan menuju sektor energi yang lebih berkelanjutan.
Divestasi SBG Jadi Bagian Strategi Transformasi Astrindo
Manajemen Astrindo menilai pelepasan saham SBG merupakan langkah strategis untuk memperbaiki struktur keuangan perusahaan. Selain itu, perusahaan ingin memperkuat fokus bisnis pada sektor energi ramah lingkungan dan berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Dalam keterbukaan informasi pada Sabtu, 23 Mei 2026, manajemen menyebut transaksi tersebut akan memberi dampak positif bagi pengembangan usaha ke depan. Karena itu, perseroan optimistis strategi ini dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Di sisi lain, divestasi SBG juga memungkinkan Astrindo mengurangi beban kewajiban perusahaan. Saat ini, Astrindo masih menjadi corporate guarantor atas utang SBG yang nilainya mencapai Rp4 triliun.
Dengan pelepasan tersebut, risiko finansial perusahaan dinilai dapat lebih terkendali. Selain itu, arus kas perseroan diperkirakan menjadi lebih fleksibel untuk mendukung proyek baru.
Nilai Aset dan Pendapatan SBG Sangat Besar
SBG merupakan salah satu anak usaha penting milik Astrindo. Perusahaan ini bergerak di sektor investasi batu bara dan memiliki kontribusi besar terhadap pendapatan grup.
Hingga akhir 2025, total aset SBG mencapai USD626,3 juta. Nilai itu setara sekitar 39 persen dari total aset Astrindo secara keseluruhan.
Sementara itu, pendapatan usaha SBG tercatat mencapai USD197,9 juta. Angka tersebut berkontribusi sekitar 84,19 persen terhadap total pendapatan perseroan.
Besarnya kontribusi itu membuat transaksi divestasi SBG masuk kategori material. Ketentuan tersebut mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan atau POJK Nomor 17 Tahun 2020.
Karena itu, Astrindo akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2026. Agenda utama rapat adalah meminta persetujuan pemegang saham atas rencana penjualan saham SBG.
Akuisisi Tambang Batu Bara Jadi Latar Belakang
SBG sebelumnya melakukan ekspansi besar pada 2023 melalui akuisisi PT Mining Ltd Hongkong. Akuisisi tersebut memberi akses terhadap tiga konsesi tambang batu bara di Kalimantan.
Berikut wilayah tambang yang berada di bawah pengelolaan perusahaan:
- Jembayan di Kalimantan Timur
- Penajam di Kalimantan Timur
- Sebuku di Kalimantan Selatan
Akuisisi tersebut dibiayai pinjaman sebesar USD432,8 juta atau sekitar Rp6,5 triliun. Nilai pinjaman yang besar itu turut memengaruhi strategi restrukturisasi Astrindo saat ini.
Fokus ke Energi Berkelanjutan dan ESG
Transformasi bisnis menjadi alasan utama di balik divestasi SBG. Astrindo mulai mengarahkan fokus perusahaan pada sektor energi yang lebih berkelanjutan.
Langkah ini sejalan dengan tren global yang menekankan investasi hijau dan pengurangan ketergantungan pada energi fosil. Selain itu, investor kini semakin memperhatikan penerapan prinsip ESG dalam pengelolaan perusahaan.
Astrindo melihat peluang pertumbuhan di sektor energi ramah lingkungan masih sangat besar. Karena itu, perusahaan mulai menyesuaikan portofolio usahanya agar lebih kompetitif dalam jangka panjang.
Meskipun begitu, keputusan melepas anak usaha dengan kontribusi pendapatan besar tetap menjadi perhatian pasar. Investor diperkirakan akan mencermati strategi pengganti yang disiapkan perusahaan setelah transaksi selesai.
Namun, dana Rp1,79 triliun dari divestasi SBG dinilai dapat menjadi modal penting bagi Astrindo untuk membuka lini bisnis baru. Selain itu, pengurangan beban utang juga dapat memperbaiki rasio keuangan perusahaan.
Transaksi Ditargetkan Rampung Akhir 2026
Astrindo dan IPB menargetkan transaksi penjualan saham selesai pada akhir 2026. Saat ini, kedua pihak masih menjalani proses pemenuhan syarat dan administrasi yang diperlukan.
Pasar modal diperkirakan akan terus memantau perkembangan proses tersebut. Apalagi, divestasi SBG menjadi salah satu transaksi korporasi besar di sektor energi tahun ini.
Sementara itu, keputusan akhir tetap bergantung pada persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB mendatang. Jika disetujui, Astrindo akan melanjutkan transformasi bisnis menuju perusahaan energi yang lebih modern dan berkelanjutan.
Dengan strategi baru tersebut, Astrindo berharap dapat menjaga pertumbuhan usaha di tengah perubahan arah industri energi global. Selain itu, perusahaan juga ingin memperkuat posisi bisnisnya dalam jangka panjang.





