SURATKAMI.COM, Jakarta – Subsidi energi naik dalam satu dekade terakhir menjadi perhatian serius pemerintah dan Dewan Energi Nasional (DEN). Kenaikan anggaran subsidi dan kompensasi energi dinilai membebani keuangan negara sekaligus mendorong perlunya diversifikasi energi nasional.
Anggota DEN Muhammad Kholid Syeirazi menilai pemanfaatan gas bumi domestik dapat menjadi solusi jangka panjang. Salah satu opsi yang kini mulai dikaji pemerintah adalah penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti liquified petroleum gas (LPG).
Selain itu, pemerintah juga melihat potensi besar gas domestik yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan cadangan yang cukup besar, gas bumi dinilai mampu membantu menekan impor energi dan mengurangi tekanan subsidi energi nasional.
Subsidi Energi Naik dalam Satu Dekade
Berdasarkan data DEN, total subsidi dan kompensasi energi mengalami lonjakan signifikan dalam 10 tahun terakhir. Pada 2015, nilainya tercatat sekitar Rp119,1 triliun. Namun pada 2025, angkanya meningkat menjadi sekitar Rp313,9 triliun.
Sementara itu, lonjakan tertinggi terjadi pada 2022. Saat itu, subsidi dan kompensasi energi sempat mencapai sekitar Rp551 triliun akibat kenaikan harga energi global setelah konflik Rusia-Ukraina.
Untuk tahun ini, pemerintah melalui APBN 2026 mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp210 triliun. Sedangkan kompensasi energi mencapai Rp381 triliun.
Menurut Kholid, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi. Pemerintah kini mulai fokus pada pemanfaatan gas bumi domestik agar ketergantungan terhadap LPG dan BBM impor dapat ditekan.
“Indonesia sebenarnya memiliki potensi gas domestik yang cukup besar. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi energi yang dapat diakses masyarakat secara aman, efisien, dan ekonomis,” ujar Kholid dalam Focus Group Discussion (FGD) di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Pemanfaatan Gas Domestik Terus Meningkat
DEN mencatat pemanfaatan gas bumi domestik terus mengalami peningkatan sejak 2012. Bahkan, volume penggunaan gas di dalam negeri kini sudah melampaui volume ekspor gas nasional.
Pada 2025, pemanfaatan domestik gas tercatat mencapai sekitar 3.882 BBTUD. Di sisi lain, ekspor gas turun menjadi sekitar 1.718 BBTUD.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan energi domestik semakin besar. Karena itu, pemerintah mulai mendorong penggunaan gas bumi di berbagai sektor, mulai dari rumah tangga hingga industri.
Kholid menjelaskan bahwa kebijakan penggunaan CNG memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Selain rumah tangga, sektor transportasi dan industri juga dinilai cocok menggunakan energi tersebut.
Menurut DEN, harga gas alam jauh lebih murah dibanding LPG nonsubsidi. Biaya energi gas alam berada di kisaran Rp38,5 per mega joule (MJ). Sementara itu, LPG nonsubsidi dapat mencapai sekitar Rp285 per MJ.
Perbedaan harga tersebut dinilai mampu memberikan efisiensi besar bagi masyarakat maupun pelaku usaha. Selain itu, penggunaan gas bumi juga dianggap lebih ramah lingkungan.
Keunggulan CNG untuk Transportasi dan Industri
Pada sektor transportasi, penggunaan CNG diyakini mampu menekan biaya operasional kendaraan. Selain lebih murah, emisi yang dihasilkan juga lebih rendah dibanding bahan bakar minyak konvensional.
Sementara itu, sektor industri dinilai akan memperoleh keuntungan dari kestabilan pasokan dan efisiensi biaya energi. Gas bumi dianggap lebih stabil dibanding batu bara maupun BBM.
Tantangan Implementasi CNG Rumah Tangga
Meski memiliki banyak keunggulan, implementasi CNG untuk rumah tangga masih menghadapi sejumlah tantangan teknis. Salah satu masalah utama adalah faktor keselamatan.
Kholid menjelaskan bahwa tekanan tabung CNG jauh lebih tinggi dibanding tabung LPG biasa. Tekanan tabung CNG dapat mencapai 150 hingga 200 bar. Sebagai perbandingan, tekanan tabung LPG rumah tangga hanya sekitar 8 bar.
Karena itu, material tabung CNG membutuhkan teknologi yang lebih kompleks dan mahal. Selain itu, hingga kini belum tersedia standar internasional khusus untuk tabung CNG rumah tangga, termasuk katup, selang, dan sistem instalasinya.
“Isu keselamatan menjadi aspek yang sangat krusial karena karakteristik CNG berbeda dengan LPG. Pemerintah perlu memastikan standardisasi dan sistem monitoring sebelum implementasi dilakukan secara luas,” kata Kholid.
Langkah Pemerintah Menekan Beban Energi
Pemerintah kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara subsidi energi dan ketahanan fiskal negara. Karena itu, diversifikasi energi dipandang menjadi langkah penting dalam jangka panjang.
Beberapa upaya yang mulai didorong pemerintah antara lain:
- Meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik.
- Mengurangi ketergantungan pada LPG impor.
- Memperluas penggunaan energi yang lebih efisien.
- Menyiapkan standar keselamatan CNG rumah tangga.
- Mengembangkan infrastruktur distribusi gas nasional.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan kesiapan industri pendukung. Infrastruktur distribusi, teknologi tabung, hingga edukasi masyarakat menjadi faktor penting sebelum implementasi dilakukan secara luas.
Meskipun begitu, wacana penggunaan CNG sebagai pengganti LPG dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk mengurangi tekanan subsidi energi naik setiap tahun. Dengan cadangan gas domestik yang besar, Indonesia memiliki peluang memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan beban anggaran negara.





