Rights Issue FORU Rp27,7 Triliun, Pemegang Saham Terancam Dilusi 99,79 Persen

Dwi Prakoso

Rights Issue FORU Rp27,7 Triliun, Pemegang Saham Terancam Dilusi 99,79 Persen

Suratkami.com, Jakarta – Rights Issue FORU menjadi sorotan pasar modal setelah PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) mengumumkan rencana penerbitan saham baru dalam jumlah sangat besar. Aksi korporasi ini berpotensi menghimpun dana hingga Rp27,7 triliun dan mengubah arah bisnis perseroan secara signifikan.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan pada 9 Juni 2026, perusahaan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 219,5 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Nilai tersebut menjadikan aksi korporasi ini sebagai salah satu rights issue terbesar yang pernah dilakukan emiten dengan kapitalisasi menengah di Bursa Efek Indonesia.

Tidak hanya berfokus pada penggalangan dana, Rights Issue FORU juga menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis perusahaan. Perseroan yang selama ini dikenal bergerak di sektor komunikasi pemasaran dan media akan beralih menjadi perusahaan holding dengan eksposur besar pada sektor pertambangan batu bara kokas.

Rights Issue FORU Berpotensi Himpun Rp27,7 Triliun

Dalam aksi korporasi ini, setiap pemegang 100 saham lama akan memperoleh 47.177 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Melalui mekanisme tersebut, pemegang saham memiliki kesempatan membeli saham baru sesuai porsi kepemilikannya.

Namun, terdapat konsekuensi besar bagi investor yang tidak menggunakan haknya. Perseroan mengungkapkan bahwa pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD berpotensi mengalami dilusi kepemilikan hingga 99,79 persen.

Besarnya potensi dilusi ini muncul karena jumlah saham baru yang diterbitkan jauh lebih besar dibandingkan jumlah saham yang saat ini beredar. Karena itu, investor perlu mencermati detail pelaksanaan rights issue sebelum mengambil keputusan investasi.

Selain itu, aksi korporasi tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 16 Juli 2026.

IMR Asia Holding Masukkan Saham PT Borneo Prima

Pemegang saham pengendali FORU, IMR Asia Holding Pte Ltd, yang saat ini menguasai 76,81 persen saham perseroan menyatakan akan melaksanakan seluruh haknya dalam rights issue.

Menariknya, pelaksanaan hak tersebut tidak dilakukan melalui setoran tunai. IMR Asia Holding memilih mekanisme inbreng atau setoran non-tunai dengan menyerahkan 49 persen saham PT Borneo Prima.

Nilai transaksi inbreng tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp21,2 triliun. Dengan masuknya aset tersebut, PT Borneo Prima akan menjadi salah satu aset strategis utama dalam struktur bisnis FORU ke depan.

Langkah ini menunjukkan bahwa rights issue tidak hanya bertujuan menambah modal, tetapi juga menjadi sarana restrukturisasi dan transformasi bisnis perusahaan secara menyeluruh.

Profil Singkat PT Borneo Prima

PT Borneo Prima merupakan perusahaan tambang yang beroperasi di Kalimantan Tengah. Fokus utama perusahaan berada pada produksi batu bara kokas atau batu bara metalurgi.

Jenis batu bara tersebut banyak digunakan dalam industri baja sebagai bahan baku utama proses produksi. Permintaan batu bara metalurgi umumnya berkaitan erat dengan pertumbuhan industri konstruksi dan manufaktur global.

Karena itu, masuknya PT Borneo Prima dinilai dapat memberikan sumber pendapatan baru bagi FORU di luar bisnis komunikasi pemasaran yang selama ini dijalankan.

Dana Publik Akan Digunakan untuk Modal Kerja

Sementara itu, dana yang berasal dari pelaksanaan HMETD oleh pemegang saham publik diperkirakan mencapai sekitar Rp6,4 triliun.

Manajemen menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memberikan pinjaman modal kerja kepada PT Borneo Prima. Tujuannya adalah mendukung kegiatan operasional sekaligus pengembangan bisnis perusahaan tambang tersebut.

Dengan skema tersebut, sebagian besar hasil penghimpunan dana akan diarahkan untuk memperkuat aktivitas usaha di sektor pertambangan. Di sisi lain, FORU akan memperoleh eksposur yang lebih besar terhadap prospek industri batu bara metalurgi.

Meskipun begitu, investor tetap perlu memperhatikan risiko yang melekat pada sektor pertambangan, termasuk fluktuasi harga komoditas global dan perubahan permintaan industri baja dunia.

FORU Siapkan Transformasi Menjadi Perusahaan Holding

Seiring masuknya kepemilikan di PT Borneo Prima, FORU juga berencana mengubah kegiatan usaha utama perseroan. Perusahaan akan bertransformasi menjadi holding company yang mengelola investasi pada berbagai entitas anak usaha.

Transformasi ini menandai perubahan besar dalam model bisnis FORU. Sebelumnya, perusahaan lebih dikenal sebagai emiten yang bergerak di bidang komunikasi pemasaran, media, dan layanan periklanan.

Namun, setelah rights issue terlaksana, kontribusi sektor pertambangan diperkirakan akan menjadi salah satu penopang utama pendapatan perseroan. Karena itu, profil risiko dan potensi pertumbuhan FORU juga akan berubah secara signifikan.

Seluruh agenda penting tersebut, mulai dari Rights Issue FORU, transaksi inbreng PT Borneo Prima, hingga perubahan kegiatan usaha utama, akan dibahas dan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 16 Juli 2026.

Bagi investor, keputusan tersebut akan menjadi penentu arah masa depan FORU. Jika seluruh rencana disetujui, perusahaan berpotensi bertransformasi dari bisnis media menjadi holding dengan fokus yang lebih besar pada sektor pertambangan batu bara kokas.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Jadwal Praktek Dokter RS Imanuel Lampung Lengkap Terbaru Juni 2026

Jadwal Praktek Dokter RS Imanuel Lampung Lengkap Terbaru Juni 2026

Kunjungi Artikel