Rupiah Menguat ke Rp17.865 per USD, Investor Asing Makin Percaya

Dwi Prakoso

Rupiah Menguat ke Rp17.865 per USD, Investor Asing Makin Percaya

Suratkami.com, Jakarta – Rupiah menguat ke Rp17.865 per USD pada penutupan perdagangan Jumat, 12 Juni 2026. Penguatan tersebut menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang semakin solid setelah Bank Indonesia mengambil sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan moneter yang diterapkan berhasil meningkatkan optimisme investor terhadap aset-aset domestik.

Selain itu, derasnya aliran modal asing yang masuk ke berbagai instrumen keuangan Indonesia turut menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata uang Garuda. Kondisi ini sekaligus mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi nasional.

Rupiah Menguat ke Rp17.865 per USD Berkat Kebijakan Bank Indonesia

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup di level Rp17.865 per dolar Amerika Serikat.

Menurut Destry, posisi tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,84 persen dibandingkan penutupan pada 5 Juni 2026 yang berada di level Rp18.010 per USD.

Ia menegaskan bahwa penguatan rupiah tidak terjadi secara kebetulan. Pasar memberikan respons positif terhadap bauran kebijakan yang diterapkan Bank Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.

Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen. Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Tidak hanya itu, Bank Indonesia juga memberikan insentif hedging swap bagi investor asing. Sementara itu, akses repo diperluas guna mendukung likuiditas perbankan nasional.

Destry menyebut peningkatan intensitas operasi moneter dalam rupiah maupun valuta asing turut memperkuat efektivitas kebijakan tersebut. Di sisi lain, sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pasar.

Arus Modal Asing Meningkat Setelah BI-Rate Naik

Kenaikan BI-Rate ternyata langsung memberikan dampak positif terhadap pergerakan modal asing. Setelah kebijakan tersebut diumumkan, minat investor global terhadap instrumen keuangan Indonesia mengalami peningkatan signifikan.

Destry mengungkapkan bahwa aliran masuk modal asing atau inflows menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dalam dua hari berturut-turut.

Pada 10 Juni 2026, transaksi SRBI nonresiden mencatat aliran dana masuk sebesar Rp15,11 triliun. Kemudian pada 11 Juni 2026, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) mencatat inflows sebesar Rp3,91 triliun.

Besarnya dana yang masuk menunjukkan bahwa instrumen keuangan domestik masih memiliki daya tarik tinggi di mata investor internasional. Kondisi ini sekaligus memperkuat stabilitas pasar keuangan Indonesia.

Meskipun situasi global masih dibayangi ketidakpastian, investor tetap melihat Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang menjanjikan. Karena itu, penguatan rupiah mendapatkan dukungan yang cukup kuat dari sisi fundamental.

Kepercayaan Investor Global Terus Menguat

Kepercayaan investor juga terlihat dari keberhasilan penjualan perdana obligasi internasional Danantara. Instrumen tersebut berhasil menyerap dana sebesar Rp26,9 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa investor global masih menaruh keyakinan tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah maupun panjang.

Selain memperkuat pembiayaan nasional, keberhasilan penerbitan obligasi itu juga menjadi indikator bahwa aset-aset domestik masih diminati oleh pasar internasional.

Kerja Sama Regional Perkuat Ketahanan Rupiah

Tidak hanya mengandalkan instrumen moneter dalam negeri, Bank Indonesia juga memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama internasional.

Bank Indonesia resmi menandatangani tiga kesepakatan strategis bersama People’s Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama tersebut difokuskan untuk memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan bilateral atau Local Currency Transaction (LCT).

Selain itu, ketiga otoritas moneter juga memperkuat Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) guna meningkatkan stabilitas sistem keuangan regional.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi di kawasan Asia.

Dengan semakin luasnya penggunaan mata uang lokal, risiko fluktuasi nilai tukar akibat gejolak dolar AS dapat ditekan. Karena itu, stabilitas rupiah diharapkan semakin terjaga dalam jangka panjang.

Bank Indonesia Siap Jaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berbagai instrumen kebijakan akan terus dioptimalkan secara konsisten dan terukur.

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan akan diperkuat untuk menghadapi potensi tekanan eksternal.

Destry menegaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia harus terus dijaga melalui kombinasi kebijakan moneter, fiskal, serta penguatan kerja sama internasional.

Dengan dukungan arus modal asing yang positif, penguatan instrumen moneter, dan meningkatnya kepercayaan investor global, prospek rupiah dalam waktu dekat dinilai tetap berada dalam jalur yang stabil.

Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi dinamika ekonomi global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Krom Bank Juni 2026, Bisa Klaim Bonus Rp150.000

Kode Referral Krom Bank Juni 2026, Bisa Klaim Bonus Rp150.000

Kunjungi Artikel