Suratkami.com – Surabaya, kesejahteraan finansial menjadi salah satu bentuk kemerdekaan yang semakin relevan bagi generasi muda, termasuk Gen Z. Kelompok usia 18–25 tahun tercatat memiliki tingkat literasi finansial tertinggi sebesar 73,22 persen dan aktif mencari sumber pendapatan alternatif –
Gen Z menghadapi kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian dengan cara yang berbeda. Ketidakpastian tidak selalu dipandang sebagai krisis, tetapi menjadi kondisi yang perlu dipahami dan dinavigasi dalam kehidupan sehari-hari.
Cara tersebut terlihat dari pilihan untuk mencari pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi. Selain itu, sebagian anak muda juga mulai berjualan secara daring atau mencoba sumber pendapatan tambahan melalui affiliate marketing dan live streaming.
Namun, kemampuan beradaptasi dengan kondisi ekonomi belum otomatis menunjukkan kesiapan finansial secara menyeluruh. Masih terdapat kesenjangan dalam pemanfaatan produk keuangan dan perlindungan yang sesuai dengan karakteristik penghasilan generasi muda.
Literasi Finansial Gen Z Semakin Penting
Tingkat literasi finansial Gen Z usia 18–25 tahun yang mencapai 73,22 persen menunjukkan meningkatnya kesadaran terhadap pengelolaan keuangan. Kelompok ini juga menjadi generasi yang aktif mencari alternatif pendapatan di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Di sisi lain, pola pendapatan anak muda tidak selalu bersifat tetap. Sebagian memperoleh pemasukan dari pekerjaan utama sekaligus sumber lain. Kondisi tersebut membuat pengelolaan keuangan membutuhkan pemahaman yang lebih baik.
Produk keuangan dan perlindungan juga perlu dipahami berdasarkan kebutuhan. Anak muda perlu mengetahui manfaat, risiko, serta kemampuan mereka sebelum mengambil keputusan finansial.
Hal tersebut menjadi penting karena kesadaran finansial tidak berhenti pada kemampuan memperoleh penghasilan. Literasi juga mencakup kemampuan menentukan prioritas, mengelola risiko, serta mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.
Dalam konteks perlindungan, Gen Z sebenarnya menunjukkan keterbukaan terhadap asuransi. Hanya 11,8 persen yang menyatakan sepenuhnya tidak percaya terhadap asuransi.
Angka tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat pemahaman anak muda mengenai fungsi perlindungan. Dengan pemahaman yang memadai, keputusan finansial dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan masing-masing.
Smart Financial Day Dekatkan Edukasi kepada Mahasiswa
Upaya mendekatkan literasi keuangan kepada generasi muda dilakukan melalui Smart Financial Day. Kegiatan tersebut diselenggarakan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dalam rangkaian Top Agent & Distribution Excellence Awards (TADEA) 2026 di Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.
Mengusung tema “Preparing Long-term Assets Now!”, kegiatan ini dihadiri lebih dari 300 anak muda. Mahasiswa diajak memahami pentingnya membangun fondasi finansial sejak masa kuliah.
Pesan utama kegiatan tersebut adalah perencanaan finansial tidak harus menunggu seseorang lulus kuliah atau mempunyai pekerjaan tetap. Kebiasaan mengelola uang secara bijak dapat dimulai sejak masih menjadi mahasiswa.
Bagi Amaira, mahasiswa baru Universitas Airlangga, pemahaman mengenai perencanaan keuangan dan asuransi memiliki kaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
“Pengetahuan ini soal perencanaan keuangan dan asuransi bermanfaat banget, sebab sebagai mahasiswa yang jauh dari keluarga, nggak ada yang mengontrol keuangan kita sehari-hari. Jadi perlu ada kesadaran dari diri sendiri,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan pekerja atau orang yang telah berkeluarga. Mahasiswa juga menghadapi tantangan dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran secara mandiri.
Karena itu, kebiasaan finansial yang dibangun sejak kuliah dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi kehidupan setelah pendidikan selesai.
Mahasiswa Didorong Memahami Risiko Finansial
Dalam salah satu sesi Smart Financial Day, Rizki Ramdhani dari Prudential Indonesia membagikan perspektif mengenai pentingnya kecerdasan finansial di era digital.
Menurut dia, akses terhadap informasi dan layanan keuangan yang semakin luas perlu diikuti kemampuan memahami manfaat dan risiko. Selain itu, setiap keputusan finansial perlu disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan hidup.
Bagi mahasiswa, literasi finansial tidak sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kemampuan tersebut juga mencakup sejumlah aspek penting, antara lain:
- Menentukan prioritas keuangan.
- Mengelola pemasukan dari berbagai sumber.
- Mengantisipasi risiko finansial.
- Mempersiapkan perlindungan jangka panjang.
- Memahami manfaat dan risiko produk keuangan.
Salah satu topik yang dibahas adalah asuransi sebagai bagian dari pengelolaan risiko. Mahasiswa diperkenalkan dengan manfaat asuransi kesehatan, jiwa, dan umum.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perbedaan asuransi tradisional dan Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI). Pengetahuan tersebut diharapkan membantu mahasiswa lebih kritis dalam melihat karakteristik, manfaat, serta risiko setiap produk.
Antusiasme peserta terlihat melalui berbagai pertanyaan saat sesi tanya jawab. Beberapa di antaranya berkaitan dengan jenis asuransi yang relevan untuk mahasiswa dan kesesuaian perlindungan dengan kondisi anggaran yang belum menentu.
Pertanyaan juga menyentuh kebutuhan perlindungan yang dapat membantu mempersiapkan kebutuhan tahunan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa mahasiswa mulai menghubungkan konsep finansial dengan kebutuhan nyata dalam kehidupan mereka.
Perlindungan Bisa Disesuaikan dengan Kondisi Keuangan
Rizki menjelaskan bahwa mahasiswa yang telah mempunyai penghasilan tambahan dapat mulai mempertimbangkan perlindungan kesehatan sebagai salah satu prioritas awal.
Seiring bertambahnya tanggung jawab, kebutuhan perlindungan juga dapat berkembang. Ketika seseorang mulai membangun keluarga, perlindungan jiwa dapat menjadi bagian penting dalam perencanaan finansial.
Namun, keputusan mengenai perlindungan tetap perlu mempertimbangkan kemampuan finansial. Premi asuransi pada dasarnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan nasabah.
Pendekatan tersebut menjadi relevan bagi Gen Z yang mempunyai pola pemasukan berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Sebagian anak muda dapat memperoleh pendapatan dari pekerjaan, usaha daring, maupun aktivitas digital lainnya.
Dengan demikian, keputusan finansial tidak seharusnya hanya mempertimbangkan produk yang tersedia. Kesesuaian antara manfaat, risiko, kebutuhan, dan kemampuan membayar juga menjadi pertimbangan penting.
Pemahaman seperti itu dapat membantu anak muda menghindari keputusan keuangan yang dilakukan hanya karena mengikuti tren. Terlebih lagi, akses terhadap berbagai layanan finansial kini semakin mudah melalui perangkat digital.
Levela Jadi Sarana Edukasi Keuangan Digital
Untuk mendukung pembelajaran secara berkelanjutan, Rizki turut memperkenalkan Levela. Platform edukasi keuangan digital tersebut ditujukan bagi mahasiswa dan generasi muda.
Levela dirancang dengan materi yang praktis, interaktif, dan mudah diakses. Topik yang dibahas berkaitan dengan berbagai persoalan finansial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Beberapa topik yang menjadi bagian dari edukasi tersebut meliputi:
- Pengelolaan anggaran.
- Menabung.
- Utang.
- Asuransi.
- Perencanaan keuangan.
- Pencegahan penipuan digital.
Kehadiran edukasi digital menjadi penting karena generasi muda tumbuh dalam lingkungan dengan akses informasi yang sangat luas. Namun, banyaknya informasi juga membuat kemampuan memilah dan memahami informasi menjadi semakin diperlukan.
Literasi finansial membantu anak muda tidak hanya mengetahui istilah keuangan. Mereka juga dapat memahami bagaimana sebuah keputusan berdampak terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang.
Membangun Kesejahteraan Finansial Sejak Muda
Semangat membangun kesejahteraan finansial juga berkaitan dengan gagasan kemerdekaan untuk mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berdaulat.
Generasi muda membutuhkan kemampuan untuk menghadapi perubahan ekonomi secara lebih tangguh. Pengelolaan keuangan yang baik dapat menjadi salah satu fondasi untuk mencapai tujuan tersebut.
Prudential Indonesia melalui semangat “Janji, Jadi Nyata” menempatkan komitmen sebagai bagian dari upaya mewujudkan tujuan bagi diri sendiri dan orang-orang yang disayangi.
Sementara itu, kegiatan seperti Smart Financial Day menjadi salah satu pendekatan untuk membawa pembahasan finansial lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. Edukasi tidak hanya membahas produk, tetapi juga kebiasaan dan cara mengambil keputusan.
Dengan demikian, literasi finansial Gen Z dapat menjadi bekal menghadapi ketidakpastian. Kemampuan memperoleh pendapatan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan mengelola, melindungi, dan merencanakan keuangan.
Pada akhirnya, membangun aset dan perlindungan tidak harus menunggu usia tertentu. Kebiasaan sederhana yang dibangun sejak masa kuliah dapat menjadi fondasi untuk perjalanan finansial yang lebih terarah.
Kesimpulan
Literasi finansial Gen Z menjadi semakin penting seiring perubahan pola kerja, pendapatan, dan akses terhadap layanan keuangan. Tingkat literasi sebesar 73,22 persen pada kelompok usia 18–25 tahun menunjukkan adanya kesadaran yang kuat.
Namun, kesadaran tersebut tetap perlu diikuti kemampuan mengambil keputusan yang tepat. Pengelolaan anggaran, menabung, memahami utang, mengelola risiko, serta memilih perlindungan sesuai kemampuan merupakan bagian dari kecakapan finansial.
Melalui Smart Financial Day dan edukasi digital seperti Levela, generasi muda didorong membangun fondasi finansial sejak dini. Dengan pemahaman yang lebih baik, Gen Z dapat menghadapi ketidakpastian ekonomi dengan lebih percaya diri sekaligus mempersiapkan masa depan secara lebih matang.





