Suratkami.com – Potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai hampir 3.700 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya masih jauh dari skala tersebut. Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menyebut kapasitas yang telah dimanfaatkan baru sekitar 15,4 GW, atau kurang dari satu persen dari potensi nasional.
Besarnya selisih itu menempatkan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai peluang sekaligus pekerjaan besar bagi Indonesia. Pemerintah ingin mengarahkan investasi dan hilirisasi ke sumber energi yang lebih bersih, termasuk tenaga surya, hidro, dan panas bumi. Akan tetapi, potensi alam perlu diikuti pembangunan proyek dan kapasitas pembangkit agar benar-benar masuk ke pasokan energi.
Rosan menyampaikan bahwa sumber daya untuk mendukung peralihan tersebut tersedia di dalam negeri. Menurutnya, gelombang investasi berikutnya diharapkan mengalir ke sektor energi terbarukan. Pemerintah juga mendorong program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 GW yang diluncurkan Presiden pada Agustus sebagai upaya memperbesar skala pengembangan.
Potensi energi terbarukan Indonesia belum banyak dimanfaatkan
Angka potensi 3.700 GW menggambarkan besarnya sumber energi yang dapat dikembangkan, bukan jumlah listrik yang saat ini tersedia dari pembangkit. Jarak antara potensi dan pemanfaatan aktual terlihat dari angka 15,4 GW yang disampaikan Rosan. Dengan pemanfaatan di bawah satu persen, masih terbuka ruang besar untuk menambah kapasitas EBT.
Namun, pengembangan potensi tersebut tidak berlangsung otomatis. Proyek harus diwujudkan menjadi pembangkit dan terhubung dengan sistem penyediaan listrik. Karena itu, besarnya sumber daya saja belum cukup untuk mengubah komposisi energi nasional. Investasi, perencanaan, dan pelaksanaan proyek menjadi bagian penting dari upaya mengubah potensi menjadi kapasitas yang beroperasi.
Tenaga surya, hidro, dan panas bumi termasuk sumber yang disebut Rosan dalam arah menuju hilirisasi lebih bersih. Masing-masing menambah pilihan dalam pengembangan energi terbarukan. Sementara itu, program PLTS 100 GW menjadi salah satu langkah yang diarahkan untuk memberikan skala nasional bagi ambisi tersebut.
Target program itu juga menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan antara rencana dan realisasi. Peluncuran program dapat memberi arah bagi pengembangan, tetapi penambahan pembangkit tetap menjadi ukuran kemajuan yang terlihat. Dengan demikian, perhatian tidak hanya tertuju pada besarnya target, tetapi juga pada perkembangan kapasitas dan investasi dari waktu ke waktu.
Bauran EBT semester I 2026 mencapai 17,3%
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bauran EBT mencapai 17,3 persen pada semester I 2026. Capaian ini masih berada dalam rentang sasaran Rencana Strategis (Renstra) nasional sebesar 17–21 persen. Artinya, angka tersebut masuk ke kisaran target, meski belum mencapai batas atasnya.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyampaikan capaian tersebut dalam acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026. Ia menjelaskan bahwa bauran energi hijau sempat menyentuh 18,3 persen pada triwulan pertama tahun ini. Untuk semester pertama, angkanya tercatat 17,3 persen.
Perbedaan angka antarperiode itu menunjukkan bahwa capaian bauran dapat bergerak selama tahun berjalan. Karena itu, angka triwulanan dan semesteran perlu dibaca sesuai periode pengukurannya. Eniya menyebut angka semester I sebagai capaian bauran energi nasional yang dilaporkan kepada pemerintah dalam forum tersebut.
Bauran EBT dan kapasitas pembangkit terpasang merupakan dua ukuran yang berbeda. Bauran menggambarkan porsi energi terbarukan dalam pasokan energi, sedangkan kapasitas terpasang menunjukkan kemampuan pembangkit yang telah dibangun. Keduanya membantu melihat kemajuan sektor, tetapi tidak dapat dipertukarkan begitu saja.
Kapasitas pembangkit meningkat, investasi masih landai
Menurut Eniya, kapasitas terpasang pembangkit EBT nasional secara akumulatif mencapai 16,32 GW. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi 12 GW pada 2021. Kenaikan itu memperlihatkan adanya penambahan kapasitas dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, Eniya menilai pertumbuhan investasi EBT masih tergolong landai jika dibandingkan dengan sasaran jangka panjang. Ia mengatakan investasi memang meningkat, tetapi perkembangannya perlu mendapat perhatian agar pencapaian Renstra dapat dikejar. Penilaian tersebut menyoroti jarak antara tren saat ini dan kebutuhan untuk mempercepat pengembangan.
Angka 15,4 GW yang disebut Rosan dan kapasitas terpasang 16,32 GW yang disampaikan Eniya muncul dalam konteks keterangan berbeda. Karena itu, keduanya perlu dipahami sesuai penjelasan masing-masing pejabat, bukan dianggap sebagai angka yang menjelaskan ukuran yang persis sama. Data yang tersedia sama-sama menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan masih kecil dibandingkan potensi nasional.
Untuk memperbesar kontribusi EBT, pemerintah perlu mendorong proyek agar bergerak dari rencana menuju pembangunan dan operasi. Di sisi lain, perkembangan investasi menjadi perhatian karena penambahan kapasitas membutuhkan pendanaan serta pelaksanaan yang konsisten. Pemerintah menempatkan program PLTS 100 GW sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan skala pengembangan energi surya.
Tantangan mengubah potensi menjadi pasokan energi
Potensi yang besar memberi Indonesia ruang untuk mengembangkan sumber energi bersih. Namun, angka potensi tidak langsung berarti seluruh sumber tersebut dapat dimanfaatkan dalam waktu singkat. Besaran pemanfaatan aktual, bauran energi, dan kapasitas pembangkit menjadi indikator berbeda yang sama-sama penting untuk menilai kemajuan.
Ke depan, perkembangan sektor akan terlihat dari kemampuan menambah kapasitas pembangkit sekaligus menjaga peningkatan investasi. Bauran EBT sebesar 17,3 persen pada semester I 2026 sudah berada dalam rentang target Renstra, tetapi penilaian Eniya menunjukkan pertumbuhan investasi masih perlu diperhatikan. Kedua hal tersebut memberi gambaran tentang capaian sekaligus pekerjaan yang belum selesai.
Dengan potensi hampir 3.700 GW dan pemanfaatan yang masih di bawah satu persen, ruang pengembangan energi terbarukan Indonesia tetap sangat besar. Program PLTS 100 GW memberi skala bagi salah satu jalur pengembangan tersebut. Tantangan berikutnya ialah menjaga agar rencana dan investasi menghasilkan tambahan kapasitas yang nyata, sehingga sumber energi bersih dapat berkontribusi lebih besar pada pasokan nasional.








