SuratKami.com – Jakarta, PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menyetujui rencana pemecahan saham atau stock split dengan rasio 1:2. Keputusan ini membuka peluang bagi investor untuk memperoleh saham perseroan dengan nilai nominal per lembar yang lebih rendah.
Manajemen PBSA memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 September 2026. Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan akan mengubah nilai nominal saham dari Rp50 menjadi Rp25 per lembar.
Melalui aksi korporasi tersebut, jumlah saham yang ditempatkan dan disetor akan meningkat dari 3 miliar lembar menjadi 6 miliar lembar. Namun, pemecahan saham ini tidak mengubah total nilai modal perseroan. Manajemen menargetkan langkah tersebut dapat meningkatkan keterjangkauan harga saham dan mendukung likuiditas perdagangan PBSA di bursa.
PBSA Stock Split dengan Rasio 1:2
Stock split merupakan aksi korporasi yang membagi setiap saham lama menjadi beberapa saham baru. Dalam rencana PBSA, setiap satu saham lama akan berubah menjadi dua saham baru.
Dengan rasio tersebut, nilai nominal setiap lembar saham turun dari Rp50 menjadi Rp25. Sebaliknya, jumlah saham yang dimiliki investor akan bertambah dua kali lipat setelah pelaksanaan pemecahan saham.
Sebagai gambaran, investor yang sebelumnya memiliki 1.000 saham PBSA akan memperoleh 2.000 saham setelah stock split. Perhitungan ini berlaku dengan asumsi investor memegang saham hingga tanggal pelaksanaan dan seluruh sahamnya memenuhi ketentuan distribusi.
Meski jumlah saham bertambah, stock split tidak otomatis meningkatkan nilai investasi. Harga pasar saham dapat menyesuaikan secara proporsional ketika aksi korporasi berlangsung. Selanjutnya, pergerakan harga tetap bergantung pada permintaan dan penawaran di pasar.
Manajemen menjelaskan bahwa perseroan mempertimbangkan langkah ini untuk memperluas keterjangkauan saham bagi investor. Selain itu, perusahaan berharap pemecahan saham dapat mendukung peningkatan likuiditas perdagangan saham PBSA di BEI.
Struktur Modal PBSA Tetap Sama
Rencana stock split mengubah jumlah lembar saham dan nilai nominalnya, tetapi tidak mengubah total nilai modal perseroan. Karena itu, investor perlu membedakan perubahan jumlah saham dari perubahan nilai kepemilikan secara keseluruhan.
Berdasarkan keterbukaan informasi, modal dasar PBSA tetap sebesar Rp480 miliar. Setelah stock split, jumlah saham dalam modal dasar meningkat dari 9,6 miliar lembar menjadi 19,2 miliar lembar.
Sementara itu, modal ditempatkan dan disetor tetap sebesar Rp150 miliar. Nilai tersebut setara dengan 31,25% dari modal dasar perseroan.
Perubahan juga terjadi pada saham dalam portepel, yaitu saham yang belum ditempatkan atau diterbitkan sebagai bagian dari modal ditempatkan. Jumlahnya meningkat dari 6,6 miliar lembar menjadi 13,2 miliar lembar.
Meskipun jumlah saham dalam portepel bertambah, nilai nominal totalnya tetap Rp330 miliar. Dengan demikian, seluruh perubahan tersebut mencerminkan penyesuaian struktur jumlah saham, bukan penambahan nilai modal perseroan.
Jadwal Stock Split PBSA Oktober 2026
Investor perlu memperhatikan jadwal pelaksanaan stock split agar dapat memahami kapan perdagangan dengan nilai nominal lama berakhir dan kapan saham baru mulai diperdagangkan. Mengacu pada informasi yang tersedia, rangkaian jadwal PBSA berlangsung pada pertengahan Oktober 2026.
Berikut jadwal penting yang perlu diperhatikan pemegang saham:
- 13 Oktober 2026: perdagangan saham dengan nilai nominal lama berakhir di pasar reguler dan pasar negosiasi.
- 14 Oktober 2026: perdagangan saham dengan nilai nominal baru dimulai di pasar reguler dan pasar negosiasi.
- 15 Oktober 2026: penyelesaian saham dengan nilai nominal lama berakhir. Tanggal ini juga menjadi recording date atau tanggal pencatatan pemegang rekening yang berhak menerima hasil stock split.
- 16 Oktober 2026: perdagangan saham dengan nilai nominal baru dimulai di pasar tunai.
- 16 Oktober 2026: saham hasil pemecahan mulai didistribusikan melalui subrekening efek pemegang saham di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Perbedaan jadwal antarsegmen pasar tersebut penting bagi investor. Pasalnya, pasar reguler, pasar negosiasi, dan pasar tunai memiliki tahapan perdagangan serta penyelesaian transaksi yang berbeda.
Oleh karena itu, pemegang saham sebaiknya memeriksa pengumuman resmi BEI dan informasi dari perusahaan sekuritas masing-masing. Langkah ini membantu investor memastikan jadwal yang berlaku serta memahami dampaknya terhadap transaksi mereka.
Cara Distribusi Saham Hasil Stock Split
Bagi pemegang saham yang menyimpan saham PBSA dalam penitipan kolektif KSEI, pelaksanaan stock split mengacu pada saldo saham di setiap subrekening efek. KSEI menggunakan daftar pemegang saham per 15 Oktober 2026 sebagai dasar penentuan pihak yang berhak menerima saham hasil pemecahan.
Selanjutnya, KSEI akan mendistribusikan saham hasil stock split melalui subrekening efek masing-masing pemegang saham pada 16 Oktober 2026. Investor dapat memantau perubahan jumlah saham melalui aplikasi sekuritas atau laporan portofolio setelah proses distribusi berlangsung.
Investor juga perlu memastikan bahwa data rekening efek mereka sesuai dan tidak mengabaikan pemberitahuan dari perusahaan sekuritas. Jika jumlah saham belum mencerminkan hasil pemecahan setelah jadwal distribusi, investor dapat menghubungi pihak sekuritas untuk meminta penjelasan.
Namun, pemegang saham tetap perlu memahami bahwa bertambahnya jumlah lembar saham tidak menjamin keuntungan. Nilai investasi akan mengikuti harga pasar, sementara keputusan membeli atau menjual tetap memerlukan pertimbangan terhadap kondisi keuangan perusahaan dan risiko pasar.
Apa Dampak Stock Split bagi Investor PBSA?
Dari sisi kepemilikan, stock split membuat investor memegang jumlah saham yang lebih banyak dengan nilai nominal per lembar yang lebih rendah. Akan tetapi, persentase kepemilikan investor pada dasarnya tetap sama jika seluruh pemegang saham mengalami pemecahan dengan rasio yang seragam.
Selain itu, harga nominal bukan satu-satunya faktor yang menentukan daya tarik suatu saham. Investor tetap perlu menilai harga pasar, kinerja usaha, prospek pendapatan, serta kondisi industri konstruksi sebelum mengambil keputusan investasi.
Di sisi lain, peningkatan keterjangkauan harga per lembar dapat membantu menarik minat sebagian investor. Jika minat transaksi meningkat, likuiditas saham berpotensi membaik. Meski begitu, hasil tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena perusahaan menjalankan stock split.
Karena itu, investor sebaiknya tidak menjadikan aksi korporasi ini sebagai satu-satunya alasan untuk membeli saham PBSA. Pemeriksaan keterbukaan informasi dan evaluasi risiko tetap menjadi langkah penting sebelum melakukan transaksi.
Kesimpulan
PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) menyetujui stock split dengan rasio 1:2 melalui RUPSLB pada 18 September 2026. Aksi tersebut mengubah nilai nominal saham dari Rp50 menjadi Rp25 per lembar serta meningkatkan jumlah saham ditempatkan dan disetor dari 3 miliar menjadi 6 miliar lembar.
Sementara itu, total modal dasar dan modal ditempatkan serta disetor tetap. Perdagangan saham dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan pasar negosiasi dimulai pada 14 Oktober 2026, sedangkan distribusi saham hasil pemecahan dijadwalkan pada 16 Oktober 2026.
Investor perlu mencermati seluruh jadwal dan memeriksa informasi resmi dari BEI, KSEI, serta perusahaan sekuritas. Dengan memahami mekanisme stock split, investor dapat mengelola portofolio secara lebih terukur tanpa menganggap pemecahan saham sebagai jaminan kenaikan harga atau keuntungan.








