Jumat, 23 Oktober 2026Surat Kabar Informasi Terkini
SuratKami.com
Surat Kabar Informasi Terkini

Laba ADHI Melonjak 247% pada Kuartal III 2026

Oleh Dwi Prakoso · Oktober 23, 2026 · 2:59 pm
Laba ADHI Melonjak 247% pada Kuartal III 2026
Dukung
Daftar Isi 5 bagian

SuratKami.com – Jakarta, PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 247,05% hingga kuartal III 2026. Perusahaan konstruksi pelat merah ini membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp15,34 miliar, naik dari Rp4,42 miliar pada periode yang sama tahun 2025.

Namun, kenaikan laba tersebut terjadi ketika pendapatan usaha perusahaan justru mengalami penurunan. ADHI mencatat pendapatan sebesar Rp5,37 triliun hingga September 2026, turun 4,96% dibandingkan Rp5,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Mengacu pada laporan keuangan yang disampaikan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), perbaikan laba terutama terlihat dari kemampuan perusahaan menekan beban pokok pendapatan dan biaya operasional. Efisiensi tersebut membantu meningkatkan laba bruto dan laba usaha meskipun pendapatan mengalami kontraksi.

Laba ADHI melonjak 247% pada kuartal III 2026

Kinerja laba ADHI menunjukkan pertumbuhan signifikan secara tahunan. Hingga kuartal III 2026, perusahaan membukukan laba bersih Rp15,34 miliar. Angka tersebut meningkat Rp10,92 miliar dibandingkan capaian Rp4,42 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Meski begitu, kenaikan laba bersih perlu dilihat bersama perkembangan pendapatan dan komponen biaya perusahaan. Pasalnya, pendapatan usaha ADHI masih turun hampir 5% secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan laba tidak berasal dari pertumbuhan penjualan.

Sebaliknya, perusahaan berhasil memperbaiki sejumlah komponen biaya. Beban pokok pendapatan turun lebih dalam daripada penurunan pendapatan. Perbedaan tersebut mendorong kenaikan laba bruto dan memperkuat kinerja operasional perusahaan.

Penurunan beban mendorong kenaikan laba bruto

ADHI mencatat beban pokok pendapatan sebesar Rp4,50 triliun hingga kuartal III 2026. Nilai tersebut turun 6,71% dibandingkan Rp4,82 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Karena penurunan beban pokok lebih besar daripada penurunan pendapatan, laba bruto perusahaan meningkat. ADHI membukukan laba bruto Rp876,58 miliar, naik 5,15% dari Rp833,66 miliar pada kuartal III 2025.

Selain itu, perusahaan juga berhasil mengurangi beban usaha. Hingga kuartal III 2026, beban usaha tercatat Rp555,84 miliar, turun 3,02% dibandingkan Rp573,17 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan biaya terlihat pada beberapa pos utama. Beban penjualan menyusut 24,13% menjadi Rp6,76 miliar. Sementara itu, beban umum dan administrasi turun 2,69% menjadi Rp549,09 miliar.

Efisiensi tersebut membantu ADHI meningkatkan laba usaha menjadi Rp320,74 miliar. Angka ini tumbuh 23,13% dibandingkan Rp260,49 miliar pada kuartal III 2025.

Pendapatan nonoperasional menunjukkan hasil beragam

Di luar kegiatan operasional, ADHI mencatat perkembangan yang berbeda pada sejumlah pos keuangan. Bagian laba dari ventura bersama meningkat 3,37% menjadi Rp332,47 miliar, dari sebelumnya Rp321,64 miliar.

Namun, bagian rugi entitas asosiasi justru membesar. Nilainya mencapai Rp26,16 miliar, naik 141,83% dibandingkan Rp10,82 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, beban keuangan ADHI sedikit meningkat 0,45% menjadi Rp526,06 miliar. Pada saat yang sama, pendapatan lainnya bersih turun cukup tajam sebesar 52,70%, dari Rp107,88 miliar menjadi Rp51,03 miliar.

Kombinasi berbagai komponen tersebut menekan laba sebelum pajak perusahaan. ADHI mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp20,81 miliar, turun 31,55% dibandingkan Rp30,40 miliar pada kuartal III 2025.

Sementara itu, beban pajak penghasilan tidak final turun 45,55% menjadi Rp4,94 miliar dari Rp9,07 miliar. Adapun beban pajak penghasilan final meningkat 4,93% menjadi Rp131,20 miliar.

Perbedaan pergerakan antara laba usaha, laba sebelum pajak, dan laba bersih memperlihatkan pentingnya mencermati seluruh komponen laporan keuangan. Investor tidak cukup hanya melihat persentase kenaikan laba bersih untuk menilai kualitas kinerja perusahaan.

Aset ADHI turun menjadi Rp26,7 triliun

Selain kinerja laba, posisi aset juga menjadi perhatian dalam laporan keuangan ADHI. Hingga kuartal III 2026, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp26,7 triliun.

Nilai tersebut turun dibandingkan posisi akhir 2025 yang mencapai Rp27,7 triliun. Dengan demikian, total aset ADHI berkurang sekitar Rp1 triliun selama periode tersebut.

Penurunan aset perlu dicermati bersama perkembangan kewajiban, arus kas, dan kemampuan perusahaan menyelesaikan proyek. Namun, data yang tersedia dalam laporan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan penyebab penurunan aset secara terperinci.

Apa arti kinerja ADHI bagi investor?

Lonjakan laba bersih ADHI dapat menjadi perhatian pelaku pasar. Meski demikian, investor perlu mempertimbangkan bahwa pendapatan usaha masih menurun dan laba sebelum pajak juga mengalami kontraksi.

Di sisi lain, kenaikan laba bruto dan laba usaha menunjukkan perbaikan pada sisi efisiensi. Perusahaan berhasil menekan beban pokok pendapatan dan sejumlah biaya operasional sehingga memperoleh hasil operasional yang lebih tinggi.

Untuk menilai prospek saham ADHI, investor dapat mencermati beberapa indikator berikut:

  • Pertumbuhan pendapatan: perhatikan apakah perusahaan mampu membalikkan penurunan pendapatan pada periode berikutnya.
  • Efisiensi operasional: pantau kemampuan perusahaan menjaga beban pokok dan beban usaha agar pertumbuhan laba tetap berkelanjutan.
  • Beban keuangan: amati perkembangan biaya pendanaan karena pos ini dapat memengaruhi hasil akhir perusahaan.
  • Arus kas dan kewajiban: periksa kemampuan perusahaan mengelola kebutuhan modal kerja dan memenuhi kewajiban keuangan.
  • Perkembangan aset: bandingkan perubahan aset dengan perkembangan proyek, kewajiban, dan arus kas perusahaan.

Dengan demikian, kenaikan laba bersih sebesar 247,05% belum otomatis menunjukkan bahwa saham ADHI akan menguat. Pergerakan harga saham juga dipengaruhi ekspektasi pasar, kondisi sektor konstruksi, sentimen investor, dan perkembangan pasar modal secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, ADHI mencatat perbaikan laba bersih dan laba usaha hingga kuartal III 2026 di tengah penurunan pendapatan. Efisiensi biaya menjadi salah satu faktor penting dalam kinerja tersebut. Selanjutnya, investor perlu memantau laporan keuangan periode berikutnya untuk menilai apakah perbaikan profitabilitas ini dapat bertahan.

Tag:
Dwi Prakoso

Suka Berbagi Informasi Terbaru :)