Daftar Isi 4 bagian
Suratkami.com – Strategi Mitsubishi di ASEAN mulai bergeser setelah penjualan di Thailand turun sekitar separuh dalam lima tahun terakhir. Produsen Jepang itu juga akan mengurangi jumlah model baru yang dirancang khusus untuk Asia Tenggara, sementara persaingan dari merek China semakin kuat.
Perubahan arah ini menandai peninjauan ulang atas fokus regional Mitsubishi. Perusahaan merencanakan 13 model baru dalam enam tahun hingga tahun fiskal 2031, tetapi hanya satu yang ditujukan secara khusus untuk kawasan ASEAN.
Penjualan melemah setelah lama bertumpu di ASEAN
Thailand menjadi salah satu pasar penting Mitsubishi di kawasan. Perusahaan tersebut mulai memproduksi kendaraan di negara itu pada 1966, kemudian memperluas kehadirannya ke Indonesia, Vietnam, dan sejumlah negara lain lebih awal dibanding banyak pesaing.
Jejak panjang itu ikut membentuk ketergantungan bisnis Mitsubishi terhadap Asia Tenggara. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi kawasan terhadap penjualan global perusahaan meningkat dari 20 persen menjadi 31 persen.
Namun, pasar yang pernah menjadi tumpuan itu kini menghadirkan tekanan baru. Sejak 2020, produsen mobil listrik asal China merebut pangsa pasar di kawasan, menurut laporan Nikkei Asia. Kondisi ini berlangsung saat penjualan Mitsubishi di Thailand mengalami penurunan tajam.
Filipina masih menunjukkan kinerja yang relatif kuat bagi Mitsubishi. Meski demikian, pertumbuhan penjualannya melambat sejak awal tahun fiskal 2026, yang dimulai pada April. Dengan demikian, dua pasar penting perusahaan memperlihatkan tantangan yang berbeda.
Mitsubishi juga belum meluncurkan mobil listrik di Thailand. Fakta tersebut menjadi salah satu bagian dari situasi persaingan di kawasan, terutama ketika produsen China memperluas kehadirannya dalam segmen kendaraan listrik.
Dalam pemaparan visi jangka menengah dan panjang pada akhir Mei, CEO Mitsubishi Motors Takao Kato mengakui perusahaan terlalu mengandalkan ASEAN dalam rencana sebelumnya. Menurut laporan Nikkei Asia, Kato mengatakan, "Kami terlalu condong ke produk untuk pasar ASEAN dalam rencana jangka menengah sebelumnya."
Strategi Mitsubishi di ASEAN membatasi model baru
Rencana terbaru perusahaan memperlihatkan penyesuaian yang nyata. Dari 13 model yang akan diluncurkan hingga tahun fiskal 2031, hanya satu yang berfokus pada Asia Tenggara, yakni generasi baru Xpander.
Xpander pertama kali meluncur pada 2017. Karena itu, pembaruan generasi berikutnya menjadi satu-satunya model baru yang secara khusus disiapkan untuk kawasan dalam rencana enam tahun tersebut. Perusahaan belum mengumumkan rincian lebih jauh mengenai model itu.
Perbandingannya cukup mencolok dengan rencana jangka menengah sebelumnya. Pada periode tahun fiskal 2023 hingga 2025, Mitsubishi merencanakan empat model baru untuk ASEAN. Kini, porsi pengembangan khusus kawasan itu berkurang menjadi satu model.
Sementara itu, sekitar 10 model akan diarahkan ke pasar maju. Rencana tersebut mencakup minicar dan kendaraan listrik. Dengan menggeser sebagian fokus, Mitsubishi berupaya menyeimbangkan portofolio produknya di luar pasar yang selama ini menyumbang bagian besar penjualan.
Perusahaan juga memanfaatkan kerja sama dengan mitra melalui skema OEM. Salah satu contohnya adalah mobil listrik kompak yang dirakit oleh Foxconn, perusahaan asal Taiwan. Kendaraan itu direncanakan untuk Australia dan Selandia Baru pada tahun ini.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan produk tidak hanya bergantung pada model yang dirancang sendiri untuk setiap wilayah. Kemitraan dapat membantu Mitsubishi menghadirkan kendaraan di pasar tertentu, meski rincian seperti jumlah produksi dan kontribusi penjualannya belum disebutkan.
Target global lebih rendah dari rencana sebelumnya
Mitsubishi menargetkan penjualan global sebanyak 900.000 unit untuk tahun yang berakhir pada Maret 2030. Target itu 13 persen lebih tinggi dibanding penjualan pada tahun fiskal 2025, tetapi masih jauh dari puncak 1,24 juta unit pada tahun fiskal 2018.
Angka baru tersebut juga lebih rendah daripada target 1,1 juta unit dalam rencana sebelumnya. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa perusahaan kini menetapkan sasaran yang lebih rendah, meskipun tetap membidik pertumbuhan dibandingkan capaian tahun fiskal 2025.
Peralihan ke pasar maju membawa peluang sekaligus risiko. Menurut laporan yang sama, skala bisnis Mitsubishi dapat menyusut karena perusahaan hanya memiliki pangsa pasar beberapa persen di Amerika Serikat dan Jepang.
Jaringan dealer di kedua pasar itu juga lebih kecil daripada milik pesaing. Mitsubishi memangkas jaringan tersebut setelah bertahun-tahun menghadapi kinerja lemah sejak 2000. Karena itu, memperkuat penjualan di pasar maju bukan hanya perkara menyiapkan model baru.
Perusahaan perlu mengejar pertumbuhan dari basis yang lebih terbatas dibandingkan pasar ASEAN. Namun, data yang tersedia belum menjelaskan bagaimana Mitsubishi akan mengembangkan jaringan penjualan atau ukuran investasi yang akan digunakan untuk mendukung rencana tersebut.
Kesepakatan saham memasuki fase baru
Perubahan strategi berlangsung bersamaan dengan berakhirnya kesepakatan penting di antara pemegang saham utama. Pengaturan yang melibatkan Nissan dan Mitsubishi Corp. berakhir pada 20 Oktober, setelah membatasi penjualan saham Mitsubishi Motors selama 10 tahun sejak investasi Nissan pada 2016.
Setelah kesepakatan itu berakhir, pemegang saham dapat menjual kepemilikannya jika memenuhi persyaratan tertentu, termasuk memperoleh persetujuan Mitsubishi Motors. Meski demikian, belum ada pemegang saham utama yang menyatakan niat segera mengurangi kepemilikan.
Harga saham Mitsubishi Motors turun lebih dari 30 persen dibandingkan penutupan pada 20 Oktober 2016. Angka tersebut memberi konteks pada berakhirnya pembatasan, tetapi belum menunjukkan bahwa pemegang saham akan langsung melepas saham mereka.
Seorang pemegang saham besar dari grup Mitsubishi menyampaikan pandangan mengenai kepemilikan silang. Ia mengatakan, "Seiring meningkatnya kritik terhadap kepemilikan silang, perusahaan semestinya benar-benar berdiri sendiri."
Bagi Mitsubishi, tantangannya kini mencakup dua sisi: memperbarui arah produk dan memperkuat posisi bisnis di pasar yang dipilih. ASEAN tetap memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar bagi perusahaan, tetapi tekanan persaingan serta perlambatan di sejumlah negara mendorong peninjauan ulang.
Rencana 13 model hingga tahun fiskal 2031 menjadi gambaran paling jelas dari perubahan itu. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada kemampuan Mitsubishi menjalankan target global, mengembangkan produk untuk pasar maju, dan menjaga pijakan di Asia Tenggara tanpa kembali terlalu bertumpu pada satu kawasan.




