Ahli Peringatkan Risiko Gunakan ChatGPT untuk Ringkas Riset Ilmiah

Japur SK

Suratkami.com, Jakarta โ€“ Dunia riset ilmiah kini mendapat sorotan baru setelah sejumlah pakar memperingatkan bahaya menggunakan ChatGPT untuk merangkum hasil penelitian. Meskipun chatbot AI ini sering dipuji karena mampu menyederhanakan bahasa teknis, ternyata ada risiko besar jika informasi ilmiah hanya mengandalkan ringkasan dari kecerdasan buatan.

Belakangan, ChatGPT kerap dipakai mahasiswa, peneliti muda, hingga jurnalis sains untuk memahami jurnal penelitian yang penuh istilah rumit. Dengan perintah sederhana seperti โ€œjelaskan untuk anak kelas limaโ€, pengguna merasa terbantu mendapatkan versi mudah dari artikel akademik yang sulit dipahami. Namun, hasil uji coba menunjukkan adanya potensi kesalahan serius.

Menurut laporan terbaru, ringkasan buatan ChatGPT kerap mengorbankan akurasi demi kesederhanaan bahasa. Bahkan, tim penguji menemukan banyak hiperbola, seperti penggunaan kata โ€œterobosan besarโ€ yang berlebihan. Kondisi ini memicu kekhawatiran soal kepercayaan publik terhadap sains jika AI dipakai tanpa verifikasi oleh penulis manusia.


Hasil Uji Coba ChatGPT dalam Dunia Riset

Para ahli dari Science Press Package (SciPak) menguji ChatGPT Plus selama satu tahun penuh. Mereka meminta chatbot tersebut membuat tiga ringkasan mingguan dari dua makalah penelitian berbeda. Ringkasan itu kemudian dibandingkan dengan hasil tulisan jurnalis sains berpengalaman.

Hasilnya? ChatGPT tidak sepenuhnya gagal, tetapi kelemahannya jelas terlihat. Ringkasan AI sering melewatkan nuansa penting, tidak bisa menjelaskan keterbatasan penelitian, dan cenderung salah saat harus menggabungkan dua hasil riset sekaligus.


Masalah Bahasa dan Kepercayaan Publik

Salah satu penulis yang terlibat dalam uji coba, Abigail Eisenstadt dari AAAS, menyebut bahwa ringkasan ChatGPT berpotensi merusak kepercayaan pembaca. Alasannya, AI kerap kembali menggunakan jargon teknis jika berhadapan dengan riset yang terlalu rumit. Padahal, tujuan ringkasan adalah membuat riset lebih mudah dipahami publik luas.

Kecenderungan AI untuk โ€œmelebih-lebihkanโ€ hasil penelitian juga dianggap bisa memberi gambaran keliru. Dalam konteks komunikasi sains, kesalahan kecil saja bisa berdampak besar terhadap pemahaman masyarakat.


Ancaman di Balik Tren AI Populer

Tren penggunaan AI untuk kebutuhan pendidikan, belanja online, hingga kesehatan memang meningkat tajam. Namun, dalam bidang ilmiah, ketepatan data jauh lebih penting dibanding sekadar penyampaian yang sederhana.

Pakar menegaskan, ChatGPT bisa membantu sebagai alat awal untuk memahami riset. Tetapi, ringkasannya tetap perlu diperiksa dan diperbaiki oleh manusia agar tidak menyesatkan. Apalagi, topik kesehatan, sains, dan teknologi kerap menjadi pencarian populer di internetโ€”yang berarti rentan menjadi lahan empuk iklan digital dengan nilai tinggi.


Jalan Tengah: Kolaborasi AI dan Jurnalis Sains

Kesimpulan dari penelitian ini cukup jelas: ChatGPT bukan pengganti jurnalis sains. AI dapat menjadi alat bantu untuk mempercepat pemahaman, tetapi interpretasi mendalam tetap harus dilakukan oleh manusia.

Di era banjir informasi, masyarakat memang membutuhkan konten yang ringkas dan mudah dipahami. Namun, akurasi tetaplah kunci utama. Jika digunakan bijak, kolaborasi antara teknologi dan jurnalis bisa menghasilkan berita ilmiah yang cepat, relevan, dan tetap terpercaya.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kunjungi Artikel