Suratkami.com – Jakarta – AI jadi tema investasi yang semakin menarik di Indonesia. Perkembangan pusat data dan masuknya investasi perusahaan neocloud membuka peluang baru bagi sejumlah sektor. Kondisi ini membuat investor mulai mencermati saham telekomunikasi, kawasan industri, konstruksi, hingga komoditas.
Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra menilai momentum AI di Indonesia mulai memasuki fase yang lebih menarik bagi investor. Dalam riset 7 September 2026, ia melihat pembangunan pusat data dapat menciptakan peluang pertumbuhan bagi sejumlah emiten.
Selain itu, investasi perusahaan neocloud seperti Zankore dan CoreWeave berpotensi mendorong pembangunan pusat data dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, investor perlu melihat perusahaan yang memiliki hubungan langsung maupun tidak langsung dengan perkembangan ekosistem AI.
AI Jadi Tema Investasi di Indonesia
AI jadi tema investasi karena teknologi ini membutuhkan infrastruktur dalam skala besar. Pusat data menjadi salah satu kebutuhan utama untuk menjalankan berbagai layanan berbasis AI.
Perusahaan teknologi membutuhkan kapasitas komputasi yang besar untuk mengembangkan dan menjalankan layanan tersebut. Akibatnya, pembangunan pusat data dapat meningkatkan permintaan terhadap lahan industri, jaringan telekomunikasi, konstruksi, serta energi.
Indonesia memiliki peluang untuk menangkap pertumbuhan tersebut. Terlebih lagi, sejumlah perusahaan global mulai melihat Indonesia sebagai lokasi potensial untuk pengembangan pusat data.
Investasi Neocloud Dorong Pembangunan Data Center
Zankore menjadi salah satu perusahaan yang membawa peluang baru bagi industri pusat data Indonesia. Perusahaan tersebut menargetkan kapasitas pusat data hingga 1 gigawatt.
PT Indosat Tbk (ISAT) memiliki eksposur langsung terhadap proyek tersebut. Zankore menargetkan operasional komersial pada semester I-2027.
Sementara itu, CoreWeave juga telah mengumumkan rencana investasi di Indonesia. Namun, perusahaan tersebut belum mengungkapkan seluruh detail rencana investasinya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pusat data dapat tumbuh dalam beberapa tahun mendatang. Di sisi lain, investor masih memiliki pilihan terbatas jika ingin mencari saham operator pusat data secara langsung.
Banyak operator pusat data besar masih berstatus perusahaan tertutup. Selain itu, sejumlah emiten yang bergerak di sektor pusat data memiliki likuiditas saham yang rendah dan valuasi yang sulit dibandingkan dengan prospek bisnisnya.
KIJA dan TOTL Berpotensi Mendapat Manfaat
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) dapat mengambil peluang dari meningkatnya kebutuhan lahan untuk pusat data. Pengembangan pusat data membutuhkan kawasan industri dengan infrastruktur yang mendukung.
Karena itu, pertumbuhan permintaan lahan dapat membuka peluang tambahan bagi KIJA. Perusahaan memiliki posisi di sektor kawasan industri yang dapat mendukung kebutuhan tersebut.
Sementara itu, PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dapat menikmati pertumbuhan dari sisi konstruksi. Perusahaan tersebut memiliki porsi besar proyek pusat data dalam pipeline proyeknya.
Sekitar 35% dari pipeline proyek TOTL senilai Rp17 triliun berkaitan dengan pembangunan pusat data. Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang sektor konstruksi ketika kebutuhan infrastruktur AI terus berkembang.
Harga saham TOTL memang sudah mengalami kenaikan. Namun, valuasi sekitar 11 kali estimasi laba 2027 masih membuka ruang bagi pertumbuhan laba jika bisnis pusat data terus berkembang.
Saham Komoditas Ikut Menangkap Dampak AI
Dampak AI tidak berhenti pada sektor teknologi dan infrastruktur. Pusat data juga membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai komoditas.
Tembaga dan aluminium menjadi material penting dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan. Selain itu, baterai berbasis nikel dapat mendukung kebutuhan penyimpanan energi.
Permintaan energi juga dapat memberikan peluang bagi perusahaan batu bara. Dengan demikian, pertumbuhan AI dapat memberikan efek berantai hingga ke sektor komoditas.
Indonesia memiliki keunggulan karena memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kondisi tersebut membuat sejumlah emiten komoditas berpotensi ikut menikmati pertumbuhan kebutuhan energi dan material.
Tujuh Saham yang Menarik Dicermati
Arief Putra memilih tujuh saham yang memiliki keterkaitan dengan tema AI, pusat data, energi, dan komoditas. Daftar tersebut mencakup ISAT, KIJA, TOTL, AMMN, MBMA, ADMR, dan AADI.
ISAT memiliki eksposur langsung terhadap pengembangan pusat data. Sementara itu, KIJA dapat memperoleh peluang dari kebutuhan lahan industri. TOTL juga berpotensi mendapatkan tambahan pekerjaan dari pembangunan pusat data.
Di sektor komoditas, AMMN, MBMA, ADMR, dan AADI dapat memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan energi serta material yang mendukung perkembangan AI.
Sebagian besar pendapatan perusahaan komoditas tersebut juga menggunakan dolar AS. Kondisi itu dapat memberikan perlindungan tertentu ketika nilai rupiah melemah terhadap dolar AS.
Valuasi Saham AI Dinilai Masih Menarik
Pasar saham Indonesia masih tertinggal dari sejumlah pasar Asia sepanjang tahun berjalan. Situasi tersebut membuka peluang bagi investor untuk mencari saham yang memiliki prospek pertumbuhan tetapi belum mencerminkan seluruh potensinya dalam valuasi.
ISAT menjadi salah satu contoh yang menarik. Valuasinya terlihat lebih terjangkau dibandingkan perusahaan neocloud di Amerika Serikat, terutama jika investor menggunakan asumsi pertumbuhan yang konservatif.
Namun, investor tetap perlu melihat kondisi fundamental masing-masing perusahaan. Pertumbuhan AI memang membuka peluang besar, tetapi setiap emiten memiliki risiko bisnis dan valuasi yang berbeda.
AI Membuka Peluang Investasi Jangka Panjang
Perkembangan AI dapat menciptakan peluang yang lebih luas bagi pasar saham Indonesia. Pertumbuhan tersebut tidak hanya menyentuh perusahaan teknologi, tetapi juga telekomunikasi, kawasan industri, konstruksi, energi, dan komoditas.
Karena itu, investor perlu melihat tema AI secara lebih luas. Perusahaan yang menyediakan infrastruktur pendukung juga dapat memperoleh manfaat ketika investasi pusat data terus meningkat.
Dengan demikian, tema “AI winners at old-economy valuations” menjadi salah satu perhatian menarik bagi investor. Pasar masih memiliki peluang untuk memberikan valuasi lebih tinggi kepada perusahaan yang mampu menangkap pertumbuhan ekonomi berbasis AI.
Meski begitu, investor tetap perlu melakukan analisis secara mandiri sebelum membeli saham. Kinerja keuangan, valuasi, prospek bisnis, utang, arus kas, serta risiko industri tetap menjadi faktor penting dalam mengambil keputusan investasi.
Disclaimer: Keputusan membeli atau menjual saham sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.










