Suratkami.com – Jakarta, kemandirian orang tua mulai dipandang sebagai warisan paling berharga bagi anak. Pandangan ini muncul seiring meningkatnya usia harapan hidup dan semakin kompleksnya tantangan finansial generasi muda.
Selama bertahun-tahun, keluarga di Asia, termasuk Indonesia, mengenal kesepakatan tidak tertulis bahwa anak akan menopang kehidupan orang tua setelah mereka berhenti bekerja. Orang tua memberikan pendidikan dan warisan, sementara anak membalasnya dengan dukungan finansial serta perawatan hingga akhir hayat.
Pola tersebut berkembang ketika sistem pensiun belum meluas dan akses layanan kesehatan masih terbatas. Dalam kondisi itu, keluarga menjadi perlindungan utama bagi anggota yang memasuki usia lanjut. Namun, perubahan sosial dan ekonomi membuat cara pandang tersebut mulai mengalami pergeseran.
Usia harapan hidup memperpanjang tantangan keluarga
Afifa, CEO dan President Director PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan manusia kini hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya. Kemajuan teknologi kesehatan, peningkatan kualitas hidup, dan akses informasi turut mendorong kenaikan usia harapan hidup di banyak negara, termasuk Indonesia.
“Seiring berkembangnya masyarakat, muncul aspirasi baru yang tidak menggantikan nilai kekeluargaan, melainkan memperluas maknanya,” ujar Afifa. Ia menilai perencanaan keuangan dan kesehatan menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas hidup pada masa tua.
Menurut data World Bank, usia harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dari sekitar 53 tahun pada 1970-an menjadi 71 tahun pada 2024. Perubahan ini membuat masa dukungan anak kepada orang tua berpotensi berlangsung lebih panjang.
Situasi tersebut turut melahirkan sandwich generation, yaitu generasi yang harus menopang orang tua sekaligus membangun kehidupan bersama keluarga inti. Pada saat yang sama, generasi muda menghadapi biaya hidup yang meningkat, harga properti yang semakin tinggi, kebutuhan pendidikan, serta tuntutan untuk terus meningkatkan keterampilan.
Kemandirian orang tua dinilai sebagai warisan utama
Asia Care Survey 2026 yang digagas Manulife dan melibatkan 9.000 responden di Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan perubahan pandangan tersebut. Sebanyak 93 persen responden Indonesia meyakini kemandirian merupakan warisan paling bermakna yang dapat ditinggalkan bagi keluarga.
Angka itu menjadi yang tertinggi di Asia dan berada di atas rata-rata regional sebesar 82 persen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa warisan tidak lagi semata-mata dipahami sebagai harta, tetapi juga kemampuan orang tua untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.
“Saat orang tua dapat hidup mandiri di masa tuanya, generasi penerus bebas untuk membuat pilihan hidup tanpa beban karena harus berperan sebagai penyokong hidup orang tua di masa tua,” kata Afifa.
Perencanaan finansial perlu dimulai sejak dini
Perubahan cara pandang itu membutuhkan persiapan nyata. Kemandirian pada masa tua tidak cukup dibangun melalui niat, tetapi memerlukan dana, perencanaan, dan disiplin finansial yang diterapkan sedini mungkin.
Orang tua juga mulai mendefinisikan ulang masa pensiun. Fase kehidupan tidak lagi terbagi secara tegas antara masa bekerja dan berhenti bekerja. Sebaliknya, masa tua dapat menjadi tahap yang tetap memiliki makna dan relevansi, dengan kesehatan fisik serta kemapanan finansial sebagai modal utama.
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menyatakan komitmennya membantu masyarakat membangun fondasi finansial jangka panjang melalui solusi investasi dan edukasi berkelanjutan. MAMI menyediakan layanan manajemen investasi, reksa dana, dan penasihat investasi.
MAMI telah hadir di Indonesia sejak 1996 dan merupakan bagian dari Manulife Wealth and Asset Management. Perusahaan ini berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Dalam keterangannya, MAMI juga mengingatkan bahwa investasi melalui reksa dana mengandung risiko dan calon investor perlu membaca serta memahami prospektus sebelum mengambil keputusan.
Dengan demikian, kemandirian orang tua dan kebebasan anak dapat dipandang sebagai dua tujuan yang saling mendukung. Perencanaan sejak awal membantu keluarga menghadapi masa tua tanpa menjadikan anak sebagai satu-satunya sumber perlindungan finansial.










