Suratkami.com – Jakarta — BSI targetkan free float 15 persen pada tahun depan sebagai bagian dari upaya memenuhi ketentuan terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah tersebut menjadi fokus perseroan setelah regulator menaikkan batas minimum kepemilikan saham publik menjadi 15 persen.
Direksi PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI memastikan perusahaan siap mengikuti kebijakan yang telah ditetapkan BEI. Meski demikian, keputusan mengenai strategi pelaksanaan tetap berada di tangan para pemegang saham pengendali.
Selain itu, manajemen BSI mengaku telah menyiapkan sejumlah alternatif skema yang dapat dijalankan. Berbagai opsi tersebut kini menunggu keputusan dari pemegang saham yang berkoordinasi bersama Danantara.
BSI Targetkan Free Float 15 Persen Tahun Depan
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan perseroan optimistis mampu memenuhi ketentuan terbaru mengenai kepemilikan saham publik. Saat ini, porsi free float BSI masih berada di kisaran 9,33 persen.
Menurut Anggoro, target tersebut diharapkan dapat tercapai pada tahun depan. Dengan demikian, BSI dapat melampaui batas minimal kepemilikan saham publik sebesar 15 persen sebagaimana yang telah ditetapkan oleh BEI.
Ia menjelaskan bahwa proses pemenuhan target tersebut berjalan sesuai rencana. Karena itu, perusahaan tetap yakin seluruh tahapan dapat diselesaikan tepat waktu.
Saat ditemui di The Tower, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Anggoro menyampaikan bahwa target free float telah menjadi bagian dari agenda strategis perseroan. Menurutnya, pencapaian tersebut akan menjadi salah satu prioritas perusahaan pada tahun mendatang.
Keputusan Strategi Berada di Tangan Pemegang Saham
Saat ini, struktur kepemilikan BSI masih didominasi oleh tiga bank milik negara. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menguasai sekitar 51,47 persen saham, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Divisi PPA memiliki 23,24 persen, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memegang sekitar 15,38 persen saham.
Ketiga pemegang saham tersebut berada dalam pengendalian Danantara. Oleh sebab itu, keputusan akhir mengenai skema peningkatan free float akan ditentukan oleh para pemegang saham pengendali.
Meski begitu, manajemen BSI tidak tinggal diam. Anggoro mengatakan perusahaan telah membahas berbagai alternatif secara internal agar proses eksekusi dapat berjalan lebih cepat ketika keputusan resmi diterbitkan.
Sementara itu, pihak manajemen menegaskan bahwa seluruh opsi yang telah disusun hanya bersifat usulan. Pelaksanaan akhirnya tetap mengikuti arahan pemegang saham sebagai pihak yang memiliki kewenangan penuh.
Menurut Anggoro, koordinasi antara manajemen dan pemegang saham terus berlangsung. Hal tersebut dilakukan agar proses penyesuaian terhadap regulasi baru dapat berjalan efektif tanpa mengganggu stabilitas perusahaan.
Aturan Baru BEI Dorong Likuiditas Pasar
Langkah BSI mempercepat pemenuhan kepemilikan saham publik tidak terlepas dari perubahan regulasi yang diterapkan BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Regulasi terbaru menetapkan bahwa perusahaan tercatat wajib memiliki minimal 15 persen saham yang beredar di publik. Sebelumnya, batas minimal free float hanya sebesar 7,5 persen.
Kenaikan batas tersebut merupakan bagian dari reformasi pasar modal Indonesia. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas perdagangan saham sekaligus memperbesar partisipasi investor di pasar.
Selain itu, aturan baru juga diharapkan mampu meningkatkan likuiditas transaksi harian. Dengan jumlah saham publik yang lebih besar, aktivitas jual beli saham diyakini menjadi lebih aktif.
Di sisi lain, peningkatan free float juga dapat mengurangi potensi pembentukan harga saham yang tidak wajar. Semakin besar kepemilikan publik, semakin sulit terjadi pergerakan harga yang dipengaruhi oleh jumlah saham yang terbatas.
Karena itu, kebijakan ini dinilai dapat menciptakan perdagangan yang lebih adil dan transparan. Investor ritel maupun institusi memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh harga yang mencerminkan kondisi pasar.
Dampak Positif bagi Investor dan Perseroan
Target peningkatan free float tidak hanya bertujuan memenuhi regulasi. Kebijakan tersebut juga diperkirakan memberikan manfaat bagi BSI maupun investor.
Beberapa dampak positif yang berpotensi diperoleh antara lain:
- Meningkatkan likuiditas perdagangan saham BSI.
- Memperluas kepemilikan saham oleh investor publik.
- Meningkatkan daya tarik saham di pasar modal.
- Memperkuat transparansi serta tata kelola perusahaan.
- Mendukung stabilitas harga saham dalam jangka panjang.
Meskipun begitu, seluruh proses peningkatan free float tetap menunggu keputusan resmi dari para pemegang saham pengendali. Manajemen BSI memastikan siap menjalankan skema apa pun yang nantinya dipilih.
Dengan target tersebut, BSI targetkan free float 15 persen sebagai langkah strategis untuk memenuhi aturan terbaru BEI sekaligus memperkuat posisi perseroan di pasar modal Indonesia. Jika target tercapai sesuai rencana pada tahun depan, BSI diperkirakan akan memiliki likuiditas saham yang lebih baik serta daya tarik investasi yang semakin kuat.





