Suratkami.com – Jakarta, capex jumbo TLKM, EXCL, dan ISAT menjadi perhatian di tengah persaingan bisnis telekomunikasi yang semakin ketat. Ketiga emiten tersebut meningkatkan investasi untuk memperkuat jaringan sekaligus menangkap peluang dari data center, fiber, cloud, AI, dan 5G.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Smart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), dan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk. (ISAT) menyiapkan belanja modal dalam jumlah besar pada 2026. Langkah tersebut bertujuan menjaga pertumbuhan ketika bisnis seluler mulai memasuki fase yang semakin matang.
Namun, peningkatan capex juga membawa tantangan. Belanja modal yang besar dapat menekan arus kas bebas jika pertumbuhan pendapatan dan laba belum mampu mengejar kenaikan investasi.
Capex TLKM, EXCL, dan ISAT Meningkat
TLKM mengalokasikan capex maksimal 20% dari total pendapatan pada 2026. Perusahaan akan memakai anggaran tersebut untuk membangun jaringan seluler, jaringan fiber, hingga data center.
Sementara itu, EXCL menaikkan panduan capex 2026 dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun. Kenaikan tersebut berkaitan dengan akuisisi spektrum terbaru serta percepatan sejumlah investasi yang sebelumnya masuk rencana tahun berikutnya.
Di sisi lain, ISAT meningkatkan alokasi capex dari Rp13 triliun menjadi Rp23 triliun. Tambahan Rp10 triliun tersebut akan mendukung pengembangan jaringan 5G.
Besarnya investasi membuat kemampuan setiap emiten dalam menghasilkan return menjadi perhatian. Karena itu, investor tidak cukup melihat pertumbuhan trafik atau pendapatan saja. Utilisasi aset dan tambahan EBITDA juga menjadi indikator penting.
TLKM Dinilai Paling Matang Menghasilkan Return
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi melihat TLKM memiliki posisi strategis dalam pengembangan bisnis berbasis data. Skala bisnis dan portofolio perusahaan memberi ruang lebih besar untuk mengembangkan data center, fiber, cloud, serta layanan terkait AI.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian ialah NeutraDC di Batam. Proyek tersebut memiliki kapasitas sekitar 57 MW dan sudah fully contracted sebelum beroperasi. Kondisi itu membuat potensi payback proyek terlihat lebih terukur.
Wafi memperkirakan kontribusi EBITDA dari NeutraDC mulai terlihat pada 2027. Namun, proyek tersebut tetap membutuhkan proses peningkatan utilisasi setelah mulai beroperasi pada 2026.
Untuk jenis infrastruktur lain, proses pengembalian modal bisa berlangsung lebih lama. Fiber dan tower, misalnya, membutuhkan penetrasi volume secara bertahap. Sementara itu, jaringan seluler menghadapi tantangan lebih besar karena pasar sudah matang dan persaingan spektrum cukup tinggi.
Senior Equity Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas juga menilai TLKM sebagai emiten yang paling matang dalam menghasilkan return. Pada semester I/2026, pendapatan TLKM tumbuh 3,9% secara tahunan. EBITDA juga tumbuh 3,8%.
Selain itu, operating cash flow TLKM tumbuh 7% hingga akhir Juni 2026. Cash capex sekitar Rp24,9 triliun juga masih berada di bawah operating cash flow trailing twelve months sebesar Rp64,4 triliun.
EXCL Mengandalkan Sinergi Setelah Merger
EXCL memiliki cerita berbeda dalam mengejar return investasi. Perusahaan mulai menunjukkan dampak sinergi setelah merger dengan Link Net.
Pendapatan EXCL pada semester I/2026 tumbuh 26%. Pada periode yang sama, normalized EBITDA meningkat 19%. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya ruang bagi perusahaan untuk memperkuat kinerja setelah proses integrasi.
Sinergi XL-Link Net juga menghasilkan US$153 juta. Nilai tersebut setara sekitar 51% hingga 61% dari target sinergi 2026 sebesar US$250 juta hingga US$300 juta.
Karena itu, 2027 menjadi periode penting bagi EXCL. Investor dapat melihat sejauh mana perusahaan mampu merealisasikan manfaat integrasi secara penuh.
Di sisi lain, Wafi menilai EXCL masih perlu membuktikan bahwa integrasi Link Net dapat berjalan sesuai harapan. Keberhasilan eksekusi akan menentukan kemampuan perusahaan dalam menjaga arus kas sekaligus menghasilkan return dari investasi baru.
ISAT Tawarkan Pertumbuhan Lebih Agresif
ISAT mengambil langkah yang lebih agresif melalui kenaikan capex menjadi Rp23 triliun. Perusahaan mengarahkan tambahan investasi tersebut untuk mempercepat pengembangan jaringan 5G.
Sukarno mencatat pendapatan ISAT pada kuartal II/2026 tumbuh 14%. Selain itu, average revenue per user atau ARPU meningkat 19,5%. Traffic juga tumbuh 15,2% pada periode tersebut.
Kinerja tersebut menunjukkan momentum pertumbuhan yang cukup kuat. Namun, kenaikan capex sebesar 77% membuat 2027 hingga 2028 menjadi periode penting untuk menguji hasil investasi tersebut.
ISAT perlu menjaga pertumbuhan EBITDA dan arus kas agar peningkatan belanja modal tidak memberikan tekanan berkepanjangan. Dengan demikian, pertumbuhan bisnis harus berjalan searah dengan peningkatan investasi.
Risiko Capex Besar bagi Arus Kas
Investasi besar memang membuka peluang pertumbuhan baru. Namun, strategi tersebut juga dapat menekan free cash flow dalam jangka pendek.
Wafi menilai risiko tersebut semakin besar jika monetisasi proyek mengalami keterlambatan. Data center menjadi salah satu perhatian karena pertumbuhan permintaan AI dapat berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Selain itu, persaingan dengan pasar regional seperti Singapura dan Malaysia dapat memengaruhi perkembangan bisnis data center. Akibatnya, perusahaan mungkin membutuhkan pendanaan tambahan jika arus kas tidak cukup menopang investasi.
Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pembagian dividen. Oleh karena itu, investor perlu melihat keseimbangan antara ekspansi, arus kas, utang, dan kemampuan aset menghasilkan pendapatan.
TLKM, EXCL, dan ISAT Punya Kekuatan Berbeda
Ketiga emiten memiliki strategi masing-masing dalam memanfaatkan peluang ekonomi digital. TLKM mengandalkan diversifikasi dan skala bisnis yang lebih luas. EXCL bertumpu pada sinergi merger serta pengembangan infrastruktur.
Sementara itu, ISAT menawarkan potensi pertumbuhan dari cloud, AI, dan pengembangan jaringan 5G. Namun, peningkatan capex membuat perusahaan perlu menunjukkan hasil investasi secara konsisten.
Menurut Sukarno, TLKM menjadi risk-adjusted winner, ISAT menjadi growth winner, sedangkan EXCL menjadi synergy play. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa peluang return tidak hanya bergantung pada besarnya capex.
Pada akhirnya, investor perlu memperhatikan pertumbuhan EBITDA tambahan dan tingkat pemanfaatan aset. Pertumbuhan trafik saja belum cukup untuk memastikan investasi menghasilkan return yang optimal.
Dengan demikian, 2027 hingga 2028 akan menjadi periode penting untuk melihat hasil dari ekspansi ketiga emiten tersebut. Kemampuan TLKM, EXCL, dan ISAT mengubah investasi menjadi pertumbuhan pendapatan serta arus kas akan menjadi faktor utama dalam menentukan keberhasilan strategi capex mereka.





