Ekspor Mobil CBU Daihatsu Indonesia Naik 13 Persen

Japur SK

Suratkami.com | Jakarta – Ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia mencatat kenaikan signifikan di tengah kondisi pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih. Pengapalan mobil dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) tumbuh 13 persen dibanding periode sebelumnya.

Kinerja ekspor kendaraan utuh tersebut menjadi angin segar bagi industri otomotif nasional. Saat permintaan domestik melambat, pasar luar negeri justru memberikan kontribusi positif terhadap volume produksi pabrikan.

Data terbaru menunjukkan ekspor mobil utuh Daihatsu mencapai 124.848 unit. Angka ini meningkat dari 110.334 unit pada periode sebelumnya. Capaian tersebut mempertegas posisi Indonesia sebagai basis produksi penting untuk pasar global.

Ekspor Mobil CBU Daihatsu Indonesia Tembus 124 Ribu Unit

Direktur Marketing dan Corporate Communication , Sri Agung Handayani, mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, pertumbuhan ekspor terjadi saat pasar otomotif global dan domestik belum sepenuhnya stabil.

“Kami justru naik 13 persen dibandingkan tahun lalu,” ujar Agung saat ditemui di Kemayoran, Jakarta Pusat, pekan lalu.

Ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia kini menjangkau lebih dari 60 negara. Hal ini menunjukkan daya saing produk buatan dalam negeri di pasar internasional tetap kuat. Kualitas produksi, efisiensi biaya, serta jaringan distribusi global menjadi faktor pendukung utama.

Menariknya, dari total ekspor tersebut, mobil dengan merek Daihatsu hanya menyumbang sebagian kecil. Sebagian besar unit merupakan produksi untuk merek lain, terutama Toyota dan Mazda, yang diproduksi di fasilitas Daihatsu di Indonesia.

Dominasi Toyota dan Mazda dalam Ekspor

Daihatsu memproduksi berbagai model Toyota untuk kebutuhan ekspor. Beberapa di antaranya adalah Town Ace, Lite Ace, Rush, Raize, dan Wigo. Sementara untuk Mazda, model yang diproduksi adalah Bongo, yang merupakan kembaran Gran Max.

Adapun mobil yang benar-benar menggunakan emblem Daihatsu untuk pasar ekspor hanya Gran Max. “Yang pakai merek Daihatsu sebenarnya sedikit,” kata Agung.

Hal ini menunjukkan peran strategis Daihatsu sebagai basis produksi bagi grup otomotif besar. Kontribusi terbesar ekspor berasal dari model Low SUV yang menyumbang 46 persen. Disusul hatchback sebesar 27 persen, dan SUV medium 9 persen.

Filipina menjadi pasar tujuan utama dengan kontribusi 35 persen dari total ekspor. Jepang berada di posisi kedua dengan 10 persen, disusul Meksiko sebesar 9 persen. Negara-negara lain tersebar di kawasan Asia, Timur Tengah, hingga Amerika Latin.

Produksi dan Penjualan Domestik Turun

Meski ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia meningkat, kondisi pasar domestik justru mengalami tekanan. Total produksi Daihatsu di Indonesia, termasuk untuk Toyota Group, tercatat lebih dari 381 ribu unit.

Namun khusus produksi merek Daihatsu saja mengalami penurunan 33 persen menjadi 130.441 unit. Penjualan ritel domestik juga turun 18,1 persen menjadi 136.855 unit.

Penurunan tersebut sejalan dengan lesunya pasar otomotif nasional. Secara keseluruhan, total penjualan ritel mobil nasional menyusut 6,3 persen. Meski demikian, Daihatsu tetap bertahan sebagai merek mobil terlaris kedua di Indonesia.

Kondisi ini memperlihatkan adanya pergeseran strategi. Ketika pasar dalam negeri melemah, ekspor kendaraan menjadi penopang utama kinerja perusahaan. Strategi diversifikasi pasar terbukti mampu menjaga stabilitas produksi.

Strategi Bertahan di Tengah Pasar Lesu

Kenaikan ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia menjadi bukti bahwa pasar global masih menyerap produk buatan Indonesia. Optimasi kapasitas produksi dan kolaborasi dengan Toyota Group menjadi kunci keberhasilan.

Selain itu, model yang diproduksi relatif sesuai dengan kebutuhan pasar berkembang. Low SUV dan kendaraan komersial ringan tetap diminati karena efisiensi bahan bakar dan harga kompetitif.

Langkah mempertahankan ekspor juga menjadi strategi penting untuk menjaga utilisasi pabrik. Dengan pasar yang tersebar di lebih dari 60 negara, risiko ketergantungan pada satu wilayah dapat diminimalkan.

Ke depan, tantangan tetap ada. Fluktuasi nilai tukar, biaya logistik, hingga dinamika ekonomi global menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Namun capaian saat ini menunjukkan fondasi ekspor kendaraan utuh Indonesia cukup kuat.

Kesimpulan

Ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia tumbuh 13 persen menjadi 124.848 unit. Kenaikan ini terjadi saat pasar domestik mengalami penurunan produksi dan penjualan. Filipina, Jepang, dan Meksiko menjadi pasar utama. Dominasi produksi untuk Toyota dan Mazda mempertegas peran Indonesia sebagai basis ekspor strategis. Di tengah pasar lesu, ekspor kendaraan utuh menjadi penopang utama kinerja Daihatsu.

FAQ

Berapa kenaikan ekspor mobil CBU Daihatsu Indonesia?
Ekspor meningkat 13 persen menjadi 124.848 unit.

Negara mana yang menjadi tujuan utama ekspor?
Filipina menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 35 persen.

Model apa yang paling banyak diekspor?
Segmen Low SUV menyumbang 46 persen dari total ekspor.

Apakah produksi Daihatsu di dalam negeri naik?
Tidak. Produksi merek Daihatsu justru turun 33 persen.

Apakah Daihatsu masih laris di Indonesia?
Ya. Daihatsu tetap menjadi merek mobil terlaris kedua meski pasar nasional turun.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kode Referral Alfagift Terbaru Mei 2026, Dapat A-Poin Gratis Puluhan Ribu!

Kunjungi Artikel