Huawei Klaim Produksi Desain Chip Baru Kejar Teknologi AS

Japur SK

Huawei Klaim Produksi Desain Chip Baru Kejar Teknologi AS

SHANGHAI, Suratkami.com – Huawei klaim produksi desain chip baru yang disebut mampu mempercepat pengembangan semikonduktor canggih China di tengah tekanan sanksi teknologi Amerika Serikat. Pengumuman itu disampaikan dalam konferensi teknologi di Shanghai pada Senin, 28 Mei 2026.

Klaim tersebut langsung menarik perhatian industri teknologi global. Huawei menyebut terobosan itu dapat membantu perusahaan memproduksi chip mutakhir dalam lima tahun mendatang tanpa bergantung pada teknologi Barat.

Selain itu, langkah Huawei dinilai penting dalam persaingan kecerdasan buatan atau AI antara China dan Amerika Serikat. Sejak 2019, pembatasan dari Washington membuat Huawei kehilangan akses terhadap pemasok chip dan perangkat desain semikonduktor kelas dunia.

Huawei Perkenalkan Teknologi LogicFolding

Dalam presentasinya, Huawei memperkenalkan konsep desain baru bernama “LogicFolding”. Teknologi ini dikembangkan untuk chip Kirin generasi berikutnya.

Berbeda dari pendekatan tradisional yang mengecilkan ukuran transistor, Huawei memilih membangun struktur chip bertingkat tiga dimensi. Metode tersebut diibaratkan seperti gedung pencakar langit yang menumpuk sirkuit secara vertikal.

Strategi itu dipilih karena China masih dibatasi dalam memperoleh mesin litografi ultraviolet ekstrem atau EUV. Mesin tersebut selama ini menjadi alat utama dalam produksi chip paling canggih dunia.

Huawei mengklaim pendekatan baru itu memungkinkan kerapatan transistor mencapai level setara proses 1,4 nanometer pada 2031. Angka tersebut dianggap sebagai salah satu standar teknologi paling maju di industri semikonduktor.

Sementara itu, kemampuan produksi chip paling mutakhir di China saat ini diperkirakan masih berada di level 7 nanometer. Di sisi lain, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co atau TSMC telah mengembangkan teknologi 2 nanometer dan menargetkan produksi massal 1,4 nanometer pada 2028.

Persaingan Chip China dan Amerika Serikat Memanas

Huawei klaim produksi desain chip baru muncul saat ketegangan teknologi antara China dan Amerika Serikat terus meningkat. Semikonduktor kini menjadi sektor strategis karena dipakai dalam hampir semua perangkat elektronik modern.

Chip digunakan pada ponsel pintar, komputer, kendaraan listrik, hingga sistem AI generatif. Karena itu, persaingan penguasaan teknologi chip menjadi salah satu fokus utama kedua negara.

Washington sebelumnya membatasi akses China terhadap:

  • Mesin litografi canggih
  • Perangkat lunak desain chip
  • Teknologi AI tertentu
  • Produk semikonduktor dari perusahaan AS

Namun, pembatasan itu justru mendorong Beijing meningkatkan investasi besar dalam pengembangan industri chip domestik. Pemerintah China juga terus mendukung perusahaan lokal agar lebih mandiri dalam rantai pasok teknologi.

Meskipun begitu, sejumlah analis menilai kesenjangan teknologi dengan produsen global masih cukup jauh. Tantangan terbesar tidak hanya pada desain chip, tetapi juga biaya produksi dan kemampuan manufaktur massal.

Huawei Kenalkan Tau Scaling Law

Selain LogicFolding, Huawei juga memperkenalkan konsep baru bernama Tau Scaling Law. Konsep ini disebut berbeda dari Hukum Moore yang selama puluhan tahun menjadi acuan industri semikonduktor dunia.

Jika Hukum Moore berfokus pada jumlah transistor dalam chip, Tau Scaling Law lebih menitikberatkan efisiensi perpindahan data di dalam chip. Huawei percaya pendekatan itu akan lebih relevan untuk kebutuhan AI masa depan.

Fokus pada Efisiensi Data

Huawei menilai peningkatan performa AI tidak lagi hanya bergantung pada ukuran transistor yang semakin kecil. Efisiensi komunikasi data antarbagian chip juga menjadi faktor penting.

Karena itu, perusahaan mulai mengembangkan desain penumpukan dan pelipatan sirkuit untuk mengurangi hambatan transfer data. Pendekatan tersebut diklaim mampu meningkatkan efisiensi energi dan performa komputasi.

Namun, Huawei mengakui tantangan teknis masih besar. Beberapa masalah utama yang belum sepenuhnya terselesaikan meliputi:

  • Manajemen panas chip
  • Integrasi sistem skala besar
  • Keterbatasan alat desain logika
  • Kompleksitas produksi massal

Perusahaan juga belum merilis data independen terkait performa teknologi tersebut. Karena itu, klaim Huawei masih menunggu pembuktian lebih lanjut dari industri.

Respons Pasar dan Media Sosial China

Pengumuman Huawei langsung memicu respons luas di China. Tagar terkait Huawei dan chip baru perusahaan itu ditonton puluhan juta kali di media sosial lokal.

Sebagian pengguna internet menyebut momen tersebut sebagai “DeepSeek untuk industri chip China”. Istilah itu merujuk pada lonjakan kemampuan teknologi lokal yang dianggap mampu menyaingi perusahaan global.

Huawei sendiri sebelumnya sempat mengejutkan pasar global saat meluncurkan Mate 60 pada 2023. Ponsel itu menggunakan chip 5G buatan dalam negeri China dan memicu pertanyaan mengenai efektivitas sanksi Amerika Serikat.

Sementara itu, perusahaan teknologi AS seperti Nvidia masih menghadapi pembatasan akses ke pasar China. Meski begitu, diskusi mengenai kerja sama AI antara kedua negara masih terus berlangsung di tingkat pemerintahan.

Huawei klaim produksi desain chip baru kini menjadi salah satu topik penting dalam persaingan teknologi global. Meskipun jalannya masih panjang, langkah tersebut menunjukkan ambisi China untuk memperkuat posisi dalam industri semikonduktor dunia.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral YUP 2026 | VIVGFE78 | Undang Teman Berhadiah iPhone 17 Pro

Kode Referral YUP 2026 | VIVGFE78 | Undang Teman Berhadiah iPhone 17 Pro

Kunjungi Artikel