Daftar Isi 5 bagian
SuratKami.com – Jakarta, PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencatatkan laba bersih sebesar Rp21 miliar pada kuartal III 2026. Selain membukukan keuntungan, anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI ini juga mencatat pertumbuhan bisnis perbankan digital.
Penyaluran kredit digital Bank Raya mencapai Rp24,73 triliun hingga kuartal III 2026. Angka tersebut meningkat 20% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara itu, outstanding kredit digital mencapai Rp3,04 triliun atau tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan penghimpunan dana dan aktivitas transaksi nasabah. Digital Saving Bank Raya mencapai Rp2,4 triliun atau meningkat 35,6% secara tahunan. Selain itu, transaksi melalui Aplikasi Raya tumbuh 44,7% YoY dengan total mencapai 4,9 juta transaksi.
Kinerja ini menunjukkan perkembangan bisnis digital Bank Raya sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Di sisi lain, perseroan juga mencatat perbaikan sejumlah indikator kualitas aset dan penguatan struktur pendanaan. Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan bisnis perbankan digital.
Kredit Digital Bank Raya Tumbuh 20%
Pertumbuhan kredit digital menjadi salah satu pencapaian utama Bank Raya pada kuartal III 2026. Perseroan mencatat total penyaluran kredit digital sebesar Rp24,73 triliun. Nilai tersebut tumbuh 20% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Namun, angka penyaluran kredit digital perlu dibedakan dari outstanding kredit. Penyaluran menunjukkan akumulasi kredit yang telah tersalurkan dalam periode tertentu. Sementara itu, outstanding menggambarkan nilai kredit yang masih berjalan atau belum lunas.
Dalam laporan tersebut, outstanding kredit digital Bank Raya mencapai Rp3,04 triliun. Nilainya meningkat 11,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini memperlihatkan peningkatan aktivitas pembiayaan digital yang menjadi salah satu fokus bisnis perseroan.
Selain itu, perkembangan kredit digital memperlihatkan peran teknologi dalam memperluas layanan perbankan. Melalui layanan digital, nasabah dapat mengakses berbagai kebutuhan keuangan tanpa selalu mengandalkan kantor cabang. Meski begitu, pertumbuhan pembiayaan tetap membutuhkan pengelolaan risiko yang cermat.
Bank Raya perlu menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan kualitas pembiayaan. Sebab, peningkatan penyaluran kredit tidak otomatis menjamin peningkatan keuntungan. Perseroan juga harus memperhatikan kemampuan pembayaran nasabah serta biaya operasional bisnis digital.
Dana Simpanan Digital Meningkat 35,6%
Selain kredit, Bank Raya mencatat pertumbuhan positif pada penghimpunan dana masyarakat. Digital Saving mencapai Rp2,4 triliun pada kuartal III 2026. Jumlah tersebut meningkat 35,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan simpanan digital turut mendukung struktur pendanaan perusahaan. Dana masyarakat menjadi salah satu sumber penting bagi bank untuk menjalankan kegiatan penyaluran kredit. Karena itu, pertumbuhan simpanan dapat membantu memperkuat fondasi bisnis perbankan.
Aktivitas nasabah melalui Aplikasi Raya juga menunjukkan perkembangan. Bank Raya mencatat 4,9 juta transaksi selama periode laporan. Jumlah tersebut tumbuh 44,7% secara tahunan.
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia menyampaikan bahwa rasio dana murah atau current account saving account (CASA) mencapai 35,83%. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, rasio tersebut masih berada di level 29,78%.
Menurut Ida Bagus Ketut Subagia, peningkatan CASA menunjukkan kontribusi Digital Saving yang semakin kuat dalam struktur pendanaan Bank Raya. Kondisi tersebut juga mendukung upaya perusahaan memperkuat fundamental bisnis digital.
Dengan demikian, peningkatan dana simpanan digital tidak hanya mencerminkan aktivitas penghimpunan dana. Pertumbuhan tersebut juga dapat membantu perusahaan memperkuat sumber pendanaan. Namun, bank tetap perlu menjaga kualitas layanan agar nasabah terus menggunakan produk digitalnya.
Kualitas Kredit Bank Raya Mengalami Perbaikan
Dari sisi kualitas aset, Bank Raya mencatat penurunan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL). Pada kuartal III 2026, NPL gross tercatat sebesar 2,53%. Rasio tersebut turun 203 basis poin secara tahunan.
Sementara itu, NPL net berada di level 0,41%. Angka tersebut turun 131 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan kedua indikator ini menunjukkan perbaikan kualitas kredit perseroan.
NPL menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan pembiayaan sebuah bank. Rasio ini menggambarkan porsi kredit bermasalah terhadap total kredit. Semakin rendah rasio tersebut, semakin kecil proporsi kredit bermasalah dalam portofolio pembiayaan.
Meski begitu, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan NPL pada periode berikutnya. Pertumbuhan kredit yang cepat dapat menghadirkan risiko baru apabila bank tidak menjaga proses penilaian calon debitur. Oleh karena itu, kualitas pembiayaan tetap menjadi perhatian penting dalam ekspansi bisnis digital.
Selain kualitas aset, Bank Raya juga mencatat peningkatan net interest margin (NIM). Rasio margin bunga bersih tersebut mencapai 5,83% atau meningkat 83 basis poin secara tahunan.
NIM menggambarkan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktifnya. Peningkatan rasio ini dapat mendukung pendapatan bunga. Namun, investor tetap perlu melihat perkembangan beban operasional dan biaya dana untuk menilai profitabilitas secara menyeluruh.
Likuiditas dan Permodalan Tetap Kuat
Bank Raya juga mencatat sejumlah indikator likuiditas dan permodalan pada kuartal III 2026. Rasio loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 78,65%. Rasio tersebut menggambarkan perbandingan penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga.
Selanjutnya, liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 707,4%. Sementara itu, net stable funding ratio (NSFR) berada pada level 167,59%. Kedua rasio tersebut berada di atas ketentuan minimum sebesar 100%.
LCR mengukur kemampuan bank memenuhi kebutuhan likuiditas jangka pendek dalam kondisi tekanan. Adapun NSFR menunjukkan kecukupan sumber pendanaan stabil untuk mendukung aset dan aktivitas perbankan dalam jangka lebih panjang.
Di sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) Bank Raya mencapai 42,35%. Rasio kecukupan modal tersebut menjadi salah satu indikator kemampuan bank menyediakan modal untuk menghadapi berbagai risiko usaha.
Kondisi likuiditas dan permodalan tersebut memberikan gambaran mengenai posisi keuangan perseroan. Namun, investor tetap perlu membandingkan perkembangan rasio tersebut dengan periode sebelumnya serta kinerja bank lain dalam industri yang sama.
Apa Artinya bagi Investor Saham AGRO?
Kinerja Bank Raya pada kuartal III 2026 menghadirkan sejumlah perkembangan positif. Perseroan membukukan laba bersih Rp21 miliar, meningkatkan penyaluran kredit digital, serta memperkuat penghimpunan dana simpanan digital.
Selain itu, penurunan NPL dan peningkatan NIM menjadi indikator yang layak diperhatikan. Penguatan CASA juga berpotensi mendukung struktur pendanaan perusahaan. Kombinasi sejumlah indikator tersebut memberikan gambaran perkembangan bisnis Bank Raya.
Meski demikian, investor saham AGRO tidak sebaiknya hanya mengandalkan pertumbuhan kredit digital untuk mengambil keputusan investasi. Investor perlu memeriksa pertumbuhan laba dari beberapa periode, kualitas aset, biaya dana, serta kemampuan perusahaan mempertahankan profitabilitas.
Selain faktor fundamental, pergerakan harga saham AGRO juga dapat dipengaruhi kondisi pasar saham, sentimen sektor perbankan, dan ekspektasi investor. Karena itu, kinerja keuangan yang membaik tidak selalu langsung mendorong kenaikan harga saham dalam jangka pendek.
Investor juga perlu memperhatikan laporan keuangan lengkap dan perkembangan kinerja Bank Raya pada kuartal berikutnya. Konsistensi pertumbuhan laba menjadi salah satu faktor penting untuk menilai keberlanjutan ekspansi bisnis digital.
Pada akhirnya, Bank Raya menutup kuartal III 2026 dengan laba bersih Rp21 miliar dan sejumlah indikator bisnis yang menunjukkan pertumbuhan. Kredit digital meningkat 20%, Digital Saving tumbuh 35,6%, sedangkan aktivitas transaksi Aplikasi Raya naik 44,7%. Selanjutnya, kemampuan perseroan menjaga kualitas kredit dan mengubah pertumbuhan bisnis digital menjadi laba berkelanjutan akan menjadi perhatian investor.




