Suratkami.com – Pengalihan saham migas Cekungan Kutai menambah keterlibatan MedcoEnergi dan Pertamina dalam aset hulu di Kalimantan Timur. Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai langkah itu mencerminkan pembagian risiko proyek laut dalam, bukan respons langsung terhadap iklim investasi nasional.
Perusahaan patungan Eni dari Italia dan Petronas dari Malaysia, Searah, melepas 10% hak partisipasi non-operator pada empat Kontrak Bagi Hasil (PSC). Aset tersebut mencakup Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal. MedcoEnergi dan Pertamina Hulu Energi (PHE) disebut mengambil alih porsi tersebut.
Saham migas Cekungan Kutai dan pembagian risiko
Hadi, praktisi migas sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), melihat transaksi itu sebagai cara pengembang berbagi risiko. Menurutnya, kolaborasi memberi ruang bagi para pihak untuk menanggung kebutuhan investasi proyek yang besar bersama-sama.
Risiko tetap melekat pada kegiatan minyak dan gas, termasuk ketika proyek sudah memasuki tahap pengembangan. Terlebih, proyek laut dalam membutuhkan modal besar dan menghadapi tantangan pengembangan tersendiri. Karena itu, masuknya mitra baru dapat menjadi bagian dari strategi korporasi untuk mengelola paparan investasi.
Hadi menyebut pengembangan proyek laut dalam Eni di Cekungan Mahakam untuk empat lapangan diperkirakan bernilai sekitar US$15 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.891 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp268,36 triliun. Besarnya kebutuhan tersebut, ujarnya, membuat sinergi ant perusahaan migas relevan.
Empat lapangan yang ia maksud dikenal sebagai 4G, yakni Gehem, Geng North, Gendalo, dan Gandang. Penyebutan itu menjelaskan skala proyek pengembangan yang menjadi konteks pandangan Hadi mengenai pembagian risiko. Namun, nama lapangan tersebut berbeda dari daftar empat PSC yang disebut dalam pengalihan hak partisipasi Searah.
Transaksi perusahaan tak otomatis mencerminkan iklim investasi
Hadi menilai aksi jual beli hak partisipasi tersebut tidak berkaitan langsung dengan lesunya investasi migas nasional. Ia membedakan transaksi ant perusahaan dari persoalan iklim investasi Indonesia yang, menurutnya, belum sepenuhnya kondusif.
Dalam pandangannya, keputusan melepas atau membeli porsi kepemilikan lebih banyak didorong strategi masing-masing pihak. Pengembang awal dapat membagi eksposur proyek, sementara perusahaan pembeli memperkuat portofolio dan membuka peluang kolaborasi. Dengan demikian, satu transaksi tidak serta-merta menjadi ukuran menyeluruh bagi minat investor terhadap sektor migas.
Pembedaan itu penting karena pengalihan hak partisipasi dapat terjadi atas berbagai pertimbangan korporasi. Pada kasus ini, Hadi menekankan kebutuhan berbagi risiko pada pengembangan laut dalam. Ia tidak menyebut transaksi tersebut sebagai penyebab maupun bukti langsung perubahan kondisi investasi nasional.
PHE memperluas kepemilikan di wilayah kerja migas
Secara terpisah, Direktur Utama PHE Sunaryanto menyatakan akuisisi menjadi bagian dari strategi memperkuat portofolio hulu. Dalam keterangan resmi yang dikutip pada 13 Oktober 2026, ia menyebut perusahaan mencari aset dengan fundamental kuat dan potensi sumber daya besar. PHE juga menilai investasi tersebut dapat memberi nilai tambah bagi perusahaan dan negara.
Melalui Sales and Purchase Agreement (SPA) pada Oktober 2026, PHE mengambil alih 10% Participating Interest (PI) milik Eni di Wilayah Kerja North Ganal dan Rapak. PHE juga menambah kepemilikan di WK East Sepinggan, dari 15% menjadi 25%. Sunaryanto menyebut kehadiran Pertamina di wilayah itu dapat memperkuat sinergi pengembangan migas di Kalimantan Timur.
Rincian tersebut merupakan langkah PHE pada sejumlah wilayah kerja yang disebut terpisah dari transaksi Searah pada empat PSC. Karena itu, porsi di North Ganal, Rapak, dan East Sepinggan perlu dibaca sesuai keterangan transaksi masing-masing. Penjelasan ini menjaga perbedaan aset dan cakupan kesepakatan tetap jelas.
Medco memperluas portofolio dan dukungan rantai LNG
MedcoEnergi, di sisi lain, menyepakati akuisisi 10% hak partisipasi non-operator dari Eni pada empat PSC di Cekungan Kutai. Wilayah yang disebut meliputi Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal. Cakupannya termasuk penemuan gas di lapangan Geliga.
Perwakilan Medco, Ronald, menyatakan transaksi itu melengkapi portofolio perusahaan di Indonesia. Ia juga mengaitkannya dengan perluasan kehadiran Medco dalam rantai pasokan LNG yang telah didukung infrastruktur dan operasi. Pernyataan tersebut disampaikan melalui keterangan tertulis yang dikutip pada 13 Oktober 2026.
Masuknya perusahaan nasional ke aset yang dikelola Eni diarahkan untuk mengoptimalkan potensi pasokan gas Cekungan Kutai. Wilayah itu terhubung dengan infrastruktur LNG nasional. Selain itu, investasi tersebut disebut mendukung percepatan Proyek Strategis Nasional Kutei North Hub dan membuka peluang sinergi operasi dengan fasilitas PT Badak NGL di Kalimantan Timur.
Dengan cakupan aset dan transaksi yang beragam, keterlibatan Medco dan Pertamina menambah mitra dalam pengembangan hulu migas. Bagi Hadi, kebutuhan modal proyek laut dalam menjadi alasan penting untuk membagi risiko dan membangun kolaborasi. Sementara itu, perusahaan menyampaikan perluasan portofolio dan dukungan pada pasokan gas sebagai bagian dari tujuan investasinya.








