SURATKAMI.COM, Jakarta – Net Sell Asing Rp4,47 Triliun menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia sepanjang pekan ini. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih dalam jumlah besar di pasar reguler meskipun pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mampu bertahan di zona hijau.
Data perdagangan menunjukkan total nilai jual bersih atau net sell investor asing mencapai Rp4,47 triliun selama sepekan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar hingga emiten sektor sumber daya alam menjadi target utama pelepasan dana asing.
Menariknya, tekanan jual tersebut tidak selalu berdampak negatif terhadap harga saham. Beberapa emiten yang mengalami net sell besar justru mampu mencatat kenaikan harga signifikan hingga dua digit selama periode perdagangan yang sama.
Net Sell Asing Rp4,47 Triliun Warnai Perdagangan Pekan Ini
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi emiten dengan nilai net sell asing terbesar sepanjang pekan. Investor asing tercatat melepas saham DSSA senilai Rp838,60 miliar.
Meski menjadi saham yang paling banyak dijual investor asing, kinerja harga DSSA tetap menunjukkan ketahanan. Saham tersebut menguat 3,03 persen dalam sepekan dan ditutup pada level Rp850 per saham.
Posisi berikutnya ditempati PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan nilai net sell asing mencapai Rp630,22 miliar. Namun, tekanan jual itu tidak mampu menghambat laju penguatan saham AMMN yang melonjak 10,72 persen ke level Rp3.820 per saham.
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga masuk daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing. Nilai net sell pada saham ini mencapai Rp553,31 miliar.
Walaupun demikian, saham BUMI masih berhasil mencatat kenaikan harga sebesar 7,01 persen selama sepekan. Pada akhir perdagangan, saham tersebut berada di posisi Rp168 per saham.
Saham Telekomunikasi dan Perbankan Juga Dilepas Asing
Aksi jual investor asing turut menyasar saham-saham unggulan atau blue chip. Salah satunya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang mencatat net sell sebesar Rp372,36 miliar.
Berbeda dengan beberapa saham lain yang tetap menguat, tekanan jual pada TLKM berdampak langsung terhadap harga saham. Dalam sepekan, saham TLKM terkoreksi 9,79 persen dan ditutup pada level Rp2.580 per saham.
Selain TLKM, investor asing juga melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp273,59 miliar. Meskipun terjadi arus keluar dana asing, saham BBRI masih mampu naik 2,81 persen ke posisi Rp2.930 per saham.
Di sisi lain, PT Astra International Tbk (ASII) juga mengalami net sell asing sebesar Rp206,84 miliar. Namun, saham perusahaan otomotif tersebut tetap mencatat kenaikan 1,48 persen ke level Rp4.810 per saham.
Sejumlah Saham Tetap Melonjak Meski Dilepas Asing
Fenomena menarik terlihat pada beberapa saham yang justru mencatat penguatan tinggi meski mengalami tekanan jual asing.
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjadi salah satu contohnya. Investor asing melakukan net sell senilai Rp224,94 miliar, tetapi harga saham BRMS melesat 24,53 persen dalam sepekan hingga mencapai Rp660 per saham.
Kondisi serupa juga terjadi pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Nilai net sell asing mencapai Rp217,53 miliar, namun saham DEWA tetap naik 11,52 persen ke level Rp368 per saham.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga mencatat performa positif. Meskipun investor asing melepas saham senilai Rp213,16 miliar, harga saham TPIA masih menguat 11,35 persen menjadi Rp2.060 per saham.
Sementara itu, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mengalami nasib berbeda. Net sell asing sebesar Rp211,53 miliar ikut menekan harga saham yang turun 8,96 persen ke level Rp7.875 per saham.
Sentimen MSCI dan IHSG Masih Menjadi Perhatian Pasar
Di tengah derasnya arus keluar dana asing, IHSG masih mampu menunjukkan kinerja positif. Pada perdagangan Jumat (19/6/2026), indeks ditutup naik tipis 0,08 persen ke level 6.177,14.
Secara mingguan, IHSG bahkan membukukan kenaikan sebesar 2,82 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih memiliki daya tahan meskipun investor asing melakukan aksi jual dalam jumlah besar.
Phintraco Sekuritas menilai sentimen pasar masih relatif positif. Salah satu faktor pendukung datang dari laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review yang mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market.
Namun, MSCI masih memberikan sejumlah catatan penting. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain transparansi struktur kepemilikan saham, indikasi perdagangan yang terkoordinasi, serta keterbatasan informasi berbahasa Inggris bagi investor asing.
Karena itu, pelaku pasar kini menunggu hasil Annual Market Classification Review MSCI yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026. Hasil evaluasi tersebut dinilai akan menjadi faktor penting bagi arah aliran dana asing ke pasar saham Indonesia ke depan.
Rupiah Melemah Seiring Penguatan Dolar AS
Selain mencermati perkembangan pasar saham, investor juga memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda tercatat melemah 0,06 persen ke posisi Rp17.804 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan rupiah terjadi setelah muncul sinyal bahwa Federal Reserve atau The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS terhadap berbagai mata uang global, termasuk rupiah.
Meskipun begitu, pasar masih berharap sentimen positif dari hasil tinjauan MSCI dan stabilitas ekonomi domestik dapat membantu menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Pergerakan dana asing pada pekan-pekan berikutnya pun akan menjadi indikator penting untuk mengukur arah pasar menjelang akhir semester pertama 2026.





