Offline Generation Gen Z dan Alpha di Tengah Dominasi Digital

Japur SK

Offline Generation Gen Z dan Alpha di Tengah Dominasi Digital
Ilustrasi: Offline Generation Gen Z Dan Alpha Di Tengah Dominasi Digital

Suratkami.comJAKARTA, Offline Generation Gen Z dan Alpha mulai terlihat ketika generasi muda mencari aktivitas serta pengalaman yang berlangsung secara langsung di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Pakar pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure Indonesia, Yuswohady, mengatakan kecenderungan itu muncul karena sebagian generasi muda ingin mengurangi waktu yang dihabiskan di depan layar atau screen time.

“Sekarang ini saya melihat ada tren ke offline, terutama Gen Z dan Gen Alpha. Karena mereka sudah mulai mengurangi screen time, mereka mulai mencari pengalaman offline,” kata Yuswohady, dikutip dari Antara pada Sabtu (5/9/2026).

Offline Generation Gen Z dan Alpha mulai berkembang

Menurut Yuswohady, perubahan tersebut menjadi salah satu perkembangan perilaku konsumen setelah masyarakat mengalami percepatan digitalisasi dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi membuat berbagai aktivitas berpindah dengan cepat ke kanal digital.

Komunikasi, hiburan, pekerjaan, pendidikan, hingga belanja semakin sering dilakukan melalui layanan daring. Akibatnya, masyarakat menjadi lebih terbiasa menggunakan perangkat dan platform digital dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, penggunaan teknologi yang semakin intensif juga memunculkan kebutuhan terhadap pengalaman yang berbeda. Kondisi ini terutama terasa bagi Gen Z dan Gen Alpha yang sejak kecil sudah akrab dengan internet serta gawai.

Yuswohady menyebut kecenderungan generasi muda kembali mencari aktivitas langsung sebagai fenomena “Offline Generation”. Menurut dia, pengalaman luring memberi ruang untuk berinteraksi, menghabiskan waktu bersama, dan menikmati kegiatan yang tidak sepenuhnya bergantung pada layar.

Aktivitas digital dan luring berjalan beriringan

Meski demikian, tren tersebut tidak berarti Gen Z dan Gen Alpha akan meninggalkan layanan digital. Kanal daring masih menjadi bagian penting dalam keseharian mereka, terutama untuk kebutuhan komunikasi, hiburan, informasi, dan transaksi.

Perilaku konsumen justru berkembang semakin beragam. Konsumen dapat memilih kanal online atau offline sesuai kebutuhan dan jenis pengalaman yang ingin diperoleh.

Dengan demikian, aktivitas digital dan kegiatan langsung tidak selalu saling menggantikan. Keduanya dapat berjalan beriringan, bergantung pada konteks, tujuan, serta pengalaman yang dicari oleh konsumen.

Ruang publik menjadi tempat berkumpul

Kecenderungan mencari pengalaman langsung juga terlihat dari berkembangnya sejumlah kawasan publik sebagai tempat masyarakat bertemu dan berkumpul. Yuswohady mencontohkan Blok M, Harmoni, dan Dukuh Atas di Jakarta.

Kawasan tersebut memiliki akses transportasi publik dan berkembang menjadi titik pertemuan berbagai aktivitas masyarakat. “Sekarang ini tempat-tempat seperti Blok M, Harmoni, Dukuh Atas itu kan mulai menjadi tempat orang nongkrong, menjadi social hub,” ujar Yuswohady.

Bagi sebagian generasi muda, ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai tempat berpindah atau melakukan transaksi. Tempat-tempat itu juga menjadi ruang untuk bertemu, bersosialisasi, dan memperoleh pengalaman bersama orang lain.

Kanal fisik tetap relevan

Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi digital tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap kanal fisik. Interaksi langsung masih memiliki daya tarik, termasuk bagi generasi yang dikenal memiliki kedekatan tinggi dengan teknologi.

Kecenderungan mencari aktivitas offline turut membuat ruang fisik dan kanal belanja luring tetap relevan. Di tengah layanan digital yang semakin luas, pengalaman langsung tetap menjadi bagian dari pilihan konsumen Gen Z dan Gen Alpha.

Editor:

Japur SK

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral IndoSeptember Poinku September 2026, Dapat Poin Cash hingga Rp25.000

Kode Referral IndoSeptember Poinku September 2026, Dapat Poin Cash hingga Rp25.000

Kunjungi Artikel