Rupiah Diprediksi Melemah, Pasar Global Bergejolak Pekan Ini

Dwi Prakoso

Suratkami.com – Jakarta – Rupiah diprediksi melemah di tengah fluktuasi pasar global dalam sepekan ke depan. Tekanan terhadap nilai tukar mata uang Garuda diperkirakan masih berlanjut seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pelaku pasar. Dalam beberapa waktu terakhir, mata uang domestik menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar AS yang terus menguat. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor eksternal yang semakin kompleks.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai bahwa volatilitas pasar keuangan global akan meningkat dalam waktu dekat. Ia menyebutkan bahwa sentimen global masih menjadi penentu utama arah pergerakan rupiah.

Selain itu, dinamika geopolitik serta kebijakan moneter global turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Rupiah Diprediksi Melemah di Atas 17.000

Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pelemahan rupiah masih akan bertahan dalam jangka pendek. Bahkan, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap berada di atas level 17.000 per dolar AS dalam sepekan mendatang.

Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda. Hal ini sejalan dengan potensi pelebaran rentang perdagangan Indeks Dolar AS yang diprediksi bergerak antara level 97,00 hingga 101,00.

Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian global yang masih tinggi. Investor global cenderung mengalihkan aset ke dolar AS sebagai safe haven, sehingga menekan mata uang lainnya.

Geopolitik Timur Tengah Picu Ketidakpastian

Faktor lain yang memengaruhi pasar adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi perhatian utama pelaku pasar global.

Terdapat dua skenario yang berpotensi memengaruhi harga komoditas, khususnya minyak dan emas. Jika tercapai kesepakatan jeda konflik selama dua minggu, harga minyak diperkirakan akan turun dan inflasi global dapat mereda.

Sebaliknya, jika negosiasi gagal, risiko konflik terbuka akan meningkat. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dapat mengganggu distribusi minyak dunia dan mendorong lonjakan harga energi.

Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan inflasi global. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah dan mata uang lainnya bisa semakin besar.

Harga Emas Berpotensi Naik

Dalam situasi ketidakpastian global, emas kembali menjadi aset yang diminati investor. Ibrahim menilai bahwa potensi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS dapat menjadi katalis positif bagi harga logam mulia.

Jika inflasi terkendali akibat penurunan harga minyak, bank sentral AS atau The Fed berpeluang melonggarkan kebijakan moneternya. Hal ini biasanya mendorong kenaikan harga emas.

Sebaliknya, jika konflik memanas, harga emas juga akan naik karena meningkatnya permintaan sebagai aset lindung nilai. Dengan demikian, dalam dua skenario tersebut, emas tetap memiliki prospek positif.

Ketegangan AS-China Tambah Tekanan Pasar

Selain Timur Tengah, ketegangan antara Amerika Serikat dan China juga menjadi faktor yang memperkeruh kondisi global. Laporan intelijen AS mengenai pengiriman persenjataan dari China ke Iran memicu reaksi keras dari mantan Presiden Donald Trump.

Situasi ini menciptakan “perang urat saraf” antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Ketegangan tersebut berpotensi memperburuk sentimen pasar dan mendorong investor mencari aset aman.

Akibatnya, harga emas dan dolar AS cenderung menguat, sementara aset berisiko mengalami tekanan.

Bank Sentral Global Borong Emas

Fenomena menarik lainnya adalah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara. Langkah ini dilakukan sebagai upaya diversifikasi cadangan devisa di tengah ketidakpastian global.

Ibrahim menyebut bahwa kondisi geopolitik saat ini bahkan dianggap sebagai bentuk “Perang Dunia Ketiga” secara tidak langsung. Hal ini mendorong negara-negara untuk memperkuat cadangan emas mereka.

Di sisi lain, kenaikan harga energi seperti gasolin juga menjadi indikator adanya tekanan ekonomi global. Dampaknya terasa di berbagai wilayah, mulai dari Amerika hingga Asia.

Dengan berbagai faktor tersebut, pasar keuangan global diperkirakan akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Pelaku pasar diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global yang dapat memengaruhi arah investasi.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Cara Pakai Kode Referral Allo Bank Mei 2026 dan Keuntungan Bagi Pendaftar

Cara Pakai Kode Referral Allo Bank Mei 2026 dan Keuntungan Bagi Pendaftar

Kunjungi Artikel