Rupiah Melemah ke Rp18.128, Dipicu Konflik AS-Iran dan Sentimen Fed

Dwi Prakoso

Rupiah Melemah ke Rp18.128, Dipicu Konflik AS-Iran dan Sentimen Fed

Suratkami.com – Jakarta – Rupiah melemah pada penutupan perdagangan Kamis (9/7/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup turun 114 poin atau 0,63 persen ke level Rp18.128 per dolar Amerika Serikat (USD).

Pelemahan rupiah kali ini dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membebani pergerakan pasar keuangan. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat, sementara arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian investor.

Di dalam negeri, kondisi ekonomi juga menghadapi sejumlah tantangan. Penurunan tingkat keyakinan konsumen dan percepatan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi faktor yang ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.

Rupiah Melemah Akibat Ketegangan AS-Iran dan Sikap The Fed

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah masih dipicu berbagai sentimen eksternal yang belum mereda. Salah satu faktor terbesar berasal dari meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah operasi militer yang berlangsung pada Rabu malam. Langkah tersebut disebut bertujuan menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka setelah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut serangan terbaru dilakukan sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz. Akibat serangan tersebut, sejumlah wilayah pesisir selatan Iran mengalami gangguan pasokan listrik.

Sementara itu, Iran menyatakan telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap infrastruktur miliknya. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi energi dunia.

Selain itu, sejumlah perusahaan asuransi perang mulai menyarankan perusahaan pelayaran untuk menghentikan sementara aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat pelaku pasar semakin berhati-hati karena jalur tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.

Kebijakan The Fed Masih Membayangi Pergerakan Rupiah

Selain konflik geopolitik, pasar juga mencermati hasil risalah rapat Federal Reserve atau The Fed pada Juni lalu. Menurut Ibrahim Assuaibi, para pembuat kebijakan masih memiliki pandangan berbeda terkait arah suku bunga tahun ini.

Meski demikian, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi di Amerika Serikat. Apabila tekanan harga terus meningkat, peluang kenaikan suku bunga kembali terbuka pada akhir tahun.

Inflasi Amerika Serikat sendiri meningkat sejak konflik AS-Iran memanas pada akhir Februari. Kondisi tersebut membuat target inflasi The Fed sebesar dua persen semakin sulit dicapai.

Ketua The Fed Kevin Warsh juga kembali menegaskan komitmen bank sentral Amerika Serikat untuk mengendalikan inflasi. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter ketat masih berpotensi berlanjut.

Di sisi lain, suku bunga yang tetap tinggi biasanya mendorong investor menempatkan dana pada aset berdenominasi dolar AS. Karena itu, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung mengalami tekanan.

Sentimen Domestik Ikut Menekan Nilai Tukar Rupiah

Dari dalam negeri, percepatan pelaksanaan APBN semester pertama 2026 juga menjadi perhatian pelaku pasar. Pemerintah tetap menjadikan APBN sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung delapan agenda prioritas nasional.

Program tersebut meliputi:

  • Penguatan ketahanan pangan.
  • Penguatan ketahanan energi.
  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Peningkatan kualitas pendidikan.
  • Penguatan layanan kesehatan.
  • Pembangunan desa dan pemberdayaan UMKM.
  • Penguatan sistem pertahanan semesta.
  • Percepatan investasi dan perdagangan global.

Meskipun demikian, pasar masih menilai percepatan belanja negara berpotensi memberikan tekanan terhadap keseimbangan fiskal apabila tidak diikuti peningkatan penerimaan negara.

Sementara itu, Bank Indonesia juga melaporkan adanya penurunan tingkat keyakinan konsumen selama Juni 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun menjadi 117,8 dari posisi 120,9 pada Mei 2026.

Jika dibandingkan dengan awal tahun, penurunan tersebut juga cukup signifikan. Pada Januari 2026, IKK masih berada di level 127,0 sebelum perlahan mengalami koreksi dalam beberapa bulan terakhir.

Namun, Bank Indonesia menegaskan kondisi psikologis masyarakat masih berada dalam kategori optimistis. Hal itu terlihat karena nilai IKK tetap berada di atas ambang batas 100 yang menunjukkan keyakinan konsumen masih relatif terjaga.

Prospek Rupiah pada Perdagangan Berikutnya

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya.

Sentimen global diperkirakan tetap mendominasi arah pasar, terutama apabila konflik di Timur Tengah kembali meningkat atau muncul sinyal baru mengenai kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati berbagai data ekonomi domestik sebagai indikator kekuatan fundamental Indonesia. Stabilitas inflasi, konsumsi masyarakat, hingga realisasi APBN akan menjadi perhatian utama investor.

Untuk perdagangan Jumat, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar Amerika Serikat. Selama tekanan eksternal masih tinggi, peluang pelemahan rupiah dinilai masih cukup terbuka meski volatilitas pasar diperkirakan tetap berlangsung.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Digipulsa Siap Tampung Order Top Up Game Ramadhan dan Lebaran 2026

Digipulsa Siap Tampung Order Top Up Game Ramadhan dan Lebaran 2026

Kunjungi Artikel