Saham BBCA Tertekan, Direksi Justru Borong

Dwi Prakoso

saham BBCA tertekan

Suratkami.com – Jakarta – Saham BBCA tertekan di tengah penguatan pasar saham nasional kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Kondisi ini memicu beragam spekulasi, terutama karena saham PT Bank Central Asia Tbk sebelumnya dikenal sebagai salah satu favorit investor.

Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan saham BBCA terlihat tidak sejalan dengan tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung menguat. Hal ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor mengenai faktor di balik tekanan yang terjadi.

Meski begitu, di tengah kondisi tersebut, muncul fenomena menarik. Alih-alih menjual, jajaran direksi perusahaan justru terlihat aktif memborong saham BBCA dalam jumlah besar.

Saham BBCA Tertekan di Tengah Penguatan IHSG

Saham BBCA tertekan cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (17/6/2026), harga saham BBCA tercatat berada di level Rp6.425 per saham.

Angka ini menunjukkan penurunan signifikan hingga 18,41 persen dibandingkan harga sebelumnya. Padahal, dalam enam bulan terakhir, saham ini sempat menyentuh level Rp8.700 per saham.

Jika ditarik lebih jauh, dalam periode satu tahun terakhir, saham BBCA bahkan pernah mencapai Rp9.700 per saham. Penurunan ini tentu menjadi perhatian besar, mengingat reputasi BBCA sebagai saham unggulan.

Namun demikian, tekanan ini tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental perusahaan. Banyak analis melihat adanya ketidakseimbangan antara harga dan kinerja.

Direksi Kompak Borong Saham

Di tengah kondisi saham BBCA tertekan, jajaran direksi justru mengambil langkah agresif. Mereka secara konsisten membeli saham perusahaan dari pasar.

Pengamat pasar modal Rendy Yefta menyebut aksi ini sebagai strategi yang tidak biasa. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek jangka panjang.

Beberapa aksi pembelian yang tercatat antara lain:

  • Presiden Direktur Hendra Lembong membeli saham senilai Rp7,93 miliar
  • Wakil Presiden Direktur John Kosasih mengakumulasi Rp4,37 miliar
  • Direktur Keuangan Vera Eve Lim membeli Rp3,84 miliar
  • Direktur Frenkie Chandra mengoleksi Rp2,87 miliar
  • Direktur Santoso membeli Rp3,46 miliar
  • Direktur Lianawaty menambah Rp2,1 miliar

Strategi Buy on Weakness

Menurut Rendy, langkah tersebut merupakan strategi buy on weakness. Artinya, membeli saham saat harga sedang turun untuk mendapatkan nilai terbaik.

Selain itu, strategi ini biasanya dilakukan oleh pihak yang memahami kondisi internal perusahaan secara mendalam. Karena itu, aksi ini sering dianggap sebagai sinyal positif bagi investor.

Di sisi lain, langkah ini juga menunjukkan bahwa manajemen tidak bersikap defensif. Mereka justru memanfaatkan momentum pelemahan harga sebagai peluang investasi.

Valuasi Dinilai Masih Murah

Salah satu faktor yang memperkuat keyakinan terhadap saham BBCA adalah valuasinya. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan dengan Price Earning Ratio (PER) sekitar 15 kali.

Angka ini dinilai cukup rendah untuk perusahaan dengan kinerja sekelas BBCA. Sebagai perbandingan, saham bank digital seperti ARTO memiliki PER hingga 64 kali.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa saham BBCA relatif lebih murah dibandingkan dengan potensi laba yang dihasilkan. Investor hanya perlu membayar 15 tahun laba untuk memiliki saham tersebut.

Selain itu, BBCA dikenal memiliki kinerja keuangan yang stabil. Bank ini secara konsisten mencetak laba besar setiap tahun.

Potensi Rebound Masih Terbuka

Dengan kondisi saham BBCA tertekan saat ini, peluang rebound dinilai masih sangat terbuka. Banyak analis percaya bahwa harga saham akan kembali ke level yang lebih wajar.

Menurut Rendy, kondisi saat ini bisa diibaratkan sebagai diskon besar untuk aset premium. Investor yang jeli dapat memanfaatkan momentum ini.

Selain itu, fundamental BBCA tetap kuat. Bank ini memiliki jaringan luas, basis nasabah besar, dan dominasi dana murah (CASA) yang tinggi.

Karena itu, meskipun harga sedang melemah, prospek jangka panjang tetap dinilai positif. Bahkan, potensi kenaikan harga dinilai lebih besar dibandingkan risiko penurunan lanjutan.

Di sisi lain, aksi borong oleh direksi menjadi indikator penting. Langkah ini sering dianggap sebagai sinyal bahwa manajemen optimistis terhadap masa depan perusahaan.

Dengan berbagai faktor tersebut, saham BBCA tertekan justru membuka peluang bagi investor untuk masuk di harga yang lebih menarik. Kini, pasar tinggal menunggu momentum yang tepat untuk mendorong harga kembali naik.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Undangan Kredito Mei 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kode Undangan Kredito Mei 2026 [LWHSH], Cara Daftar Cepat Acc!

Kunjungi Artikel