Suratkami.com – Jakarta – Sritex delisting November 2026 menjadi sorotan pelaku pasar setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mengumumkan pencoretan saham PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). Keputusan ini diambil menyusul kondisi pailit atau kebangkrutan yang dialami emiten tekstil tersebut.
Kabar penghapusan saham SRIL dari papan bursa ini menambah daftar perusahaan yang harus keluar dari pasar modal akibat tekanan finansial. Sritex sebelumnya dikenal sebagai salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia dengan pasar ekspor yang luas.
Pengumuman resmi disampaikan oleh Kepala Divisi Penilaian Perusahaan I BEI, Vera Florida, melalui surat tertanggal 11 April 2026. Dalam pernyataannya, BEI memastikan bahwa proses delisting akan efektif pada 10 November 2026.
BEI Resmi Hapus Saham SRIL
BEI menegaskan bahwa keputusan ini merupakan langkah final setelah mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaan. Status pailit membuat perusahaan tidak lagi memenuhi persyaratan sebagai emiten yang tercatat di bursa.
“Bursa memutuskan penghapusan pencatatan efek (delisting) kepada perusahaan tercatat yang efektif tanggal 10 November 2026,” demikian pernyataan resmi BEI.
Sritex delisting November 2026 menjadi sinyal keras bagi investor mengenai pentingnya analisis fundamental dalam berinvestasi saham. Emiten yang sebelumnya memiliki reputasi besar pun tidak luput dari risiko kebangkrutan.
Struktur Pemegang Saham Sritex Terungkap
Sebelum delisting diumumkan, BEI juga merilis daftar pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Mayoritas saham masih dikuasai oleh pengendali, yakni PT Huddleston Indonesia dengan porsi 59,03 persen.
Selain itu, sejumlah investor institusi asing juga tercatat memiliki saham SRIL, di antaranya Chesney International Pte Ltd (4,52 persen), Grafton Capital Resources Pte Ltd (4,40 persen), Cassel International Pte Ltd (3,59 persen), serta Kiatnakin Phatra Bank Public Company Limited (2,14 persen).
Kehadiran investor global ini menunjukkan bahwa saham SRIL sebelumnya cukup menarik minat pasar internasional, meski akhirnya harus berujung pada delisting.
Lo Kheng Hong Ikut Terdampak
Nama investor kawakan Lo Kheng Hong turut muncul dalam daftar pemegang saham. Ia diketahui menggenggam 209.339.500 saham atau setara 1,02 persen dari total saham beredar.
Dengan harga terakhir saham SRIL di level Rp146, nilai kepemilikan Lo Kheng Hong diperkirakan mencapai sekitar Rp30,56 miliar. Namun, tidak diketahui berapa harga rata-rata pembelian saham tersebut.
Selama ini, Lo Kheng Hong tidak pernah secara terbuka membahas kepemilikannya di SRIL. Ia justru dikenal sebagai investor yang disiplin dengan prinsip value investing dan transparan dalam berbagi pengalaman investasi.
Dalam beberapa kesempatan, ia juga mengakui bahwa tidak semua keputusan investasinya selalu tepat. Ia menegaskan bahwa kesalahan dalam memilih saham adalah hal yang wajar, bahkan bagi investor berpengalaman.
Saham Disuspensi, Investor Terjebak
Saat ini, saham SRIL masih berada dalam status suspensi oleh BEI. Artinya, investor tidak dapat melakukan transaksi jual beli saham tersebut di pasar reguler.
Kondisi ini membuat sebagian investor berada dalam posisi tidak likuid, karena tidak bisa melepas kepemilikan sahamnya. Situasi seperti ini sering terjadi pada saham yang menuju proses delisting akibat masalah serius seperti pailit.
BEI mengingatkan bahwa meskipun saham dihapus dari pencatatan, perusahaan tetap memiliki kewajiban yang harus dipenuhi kepada regulator dan pemegang saham.
Imbauan Buyback dan Pelajaran Bagi Investor
Sebagai bagian dari proses delisting, BEI juga mengimbau agar emiten melakukan buyback saham. Langkah ini bertujuan untuk memberikan jalan keluar bagi investor yang masih memegang saham perusahaan tersebut.
Namun, pelaksanaan buyback bergantung pada kemampuan keuangan perusahaan, yang dalam kasus Sritex justru sedang mengalami tekanan berat.
Sritex delisting November 2026 menjadi pelajaran penting bagi investor untuk tidak hanya melihat potensi keuntungan, tetapi juga memahami risiko fundamental perusahaan. Diversifikasi portofolio dan analisis menyeluruh menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian.
Kejadian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pasar saham memiliki dinamika tinggi, di mana bahkan perusahaan besar sekalipun bisa mengalami penurunan drastis hingga akhirnya keluar dari bursa.





