Saham Bank Besar dan Emiten Prajogo Ramai Dijual Asing

Dwi Prakoso

Suratkami.com, Jakarta – Saham bank besar dan emiten Prajogo menjadi sasaran jual asing sepekan terakhir seiring pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tekanan geopolitik global.

Pergerakan pasar saham Indonesia dalam sepekan terakhir menunjukkan tekanan yang cukup signifikan. Aksi jual investor asing meningkat, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang utama IHSG.

Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sentimen eksternal, khususnya dari geopolitik, kembali membayangi pergerakan pasar keuangan di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

Investor cenderung melakukan aksi profit taking dan mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman. Kondisi ini membuat sejumlah saham unggulan, terutama sektor perbankan dan energi, mengalami tekanan jual cukup dalam.

IHSG Melemah di Tengah Tekanan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 0,99 persen ke level 7.026,78 dalam sepekan. Pelemahan terjadi setelah IHSG lebih sering berada di zona merah, yakni selama tiga hari perdagangan dan hanya sekali mengalami penguatan.

Durasi perdagangan yang lebih pendek akibat libur Jumat Agung turut memengaruhi dinamika pasar. Meski demikian, tekanan jual tetap dominan sepanjang pekan.

Secara keseluruhan, aliran dana asing menunjukkan tren keluar dari pasar saham domestik. Investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp2,88 triliun di pasar reguler.

Saham Bank Besar Jadi Target Utama

Saham sektor perbankan menjadi yang paling terdampak dalam aksi jual asing kali ini. Beberapa bank besar mengalami tekanan signifikan baik dari sisi harga maupun aliran dana.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas dengan net sell mencapai Rp1,64 triliun. Disusul PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp1,29 triliun.

Selain itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp889,83 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp316,35 miliar.

Dari sisi harga, keempat saham tersebut kompak melemah. BBRI turun 4,87 persen ke Rp3.320, BBCA turun 4,36 persen ke Rp6.575, BMRI melemah 3,93 persen ke Rp4.650, dan BBNI terkoreksi 7,50 persen ke Rp3.700.

Emiten Prajogo dan Energi Tak Luput Tekanan

Tekanan jual asing juga merambah sektor energi dan pertambangan. Emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu turut mengalami pelemahan.

PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat net sell Rp182,76 miliar dengan harga turun 3,15 persen ke Rp4.300. Sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dilepas Rp145,09 miliar dan melemah 7,11 persen ke Rp1.045.

Namun, tidak semua saham yang dilepas asing mengalami penurunan harga. Beberapa justru mencatat kenaikan meski dibayangi aksi jual.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tetap mengalami net sell Rp139,89 miliar, tetapi harga sahamnya naik 6,12 persen ke Rp3.640. Hal serupa terjadi pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang naik 1,92 persen ke Rp53.

Selain itu, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguat 5,80 persen ke Rp730 meski terjadi net sell Rp120,99 miliar. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga naik 4,53 persen ke Rp1.500 dengan net sell Rp114,53 miliar.

Sentimen Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Tekanan terhadap pasar saham tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi serangan militer terhadap Iran menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran investor.

Rencana aksi militer tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global. Hal ini berdampak langsung pada sentimen pasar, terutama di kawasan Asia yang sensitif terhadap dinamika geopolitik.

Kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah membuat investor cenderung bersikap defensif. Aksi jual pun meningkat, terutama pada aset berisiko seperti saham.

Rekomendasi Analis dan Prospek Pasar

Sejumlah analis menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan kinerja perusahaan dinilai meningkat dalam kondisi saat ini.

Analis dari Nomura menyebutkan bahwa pasar India, Indonesia, dan Filipina memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap tekanan eksternal. Sementara itu, pasar di Malaysia, Hong Kong, dan China dinilai relatif lebih stabil.

Meski demikian, peluang tetap terbuka bagi investor jangka panjang. Koreksi harga dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, terutama pada saham dengan fundamental kuat.

Kesimpulan

Saham bank besar dan emiten Prajogo menjadi sasaran jual asing sepekan terakhir seiring tekanan global yang meningkat. IHSG pun ikut melemah akibat aksi jual tersebut.

Sentimen geopolitik menjadi faktor utama yang memicu ketidakpastian pasar. Dalam kondisi ini, investor disarankan tetap waspada dan selektif dalam memilih saham.

FAQ

1. Apa penyebab utama saham bank besar dijual asing?
Penyebab utamanya adalah sentimen geopolitik global yang meningkatkan risiko pasar, sehingga investor asing menarik dana dari saham.

2. Berapa nilai net sell asing dalam sepekan?
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp2,88 triliun di pasar reguler.

3. Saham apa yang paling banyak dilepas asing?
Saham BBRI menjadi yang paling banyak dilepas, diikuti BBCA, BMRI, dan BBNI.

4. Apakah semua saham yang dijual asing mengalami penurunan?
Tidak. Beberapa saham seperti ANTM dan GOTO justru mengalami kenaikan meski terjadi net sell.

5. Bagaimana prospek pasar ke depan?
Pasar masih berpotensi berfluktuasi, namun peluang investasi tetap ada bagi investor jangka panjang dengan strategi yang tepat.

Editor:

Dwi Prakoso

Topik/Niche:

Home Trending Explore Discover Menu
Kode Referral Flip Mei 2026, Dapat Hadiah Rp40.000

Kode Referral Flip Mei 2026, Dapat Hadiah Rp40.000

Kunjungi Artikel